Maju Mundur Ujian Nasional

Pernyataan Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA di Medan, Selasa 12 Januari 2010 pada rapat koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi  Sumut bahwa Ujian Nasional (UN) akan tetap dilaksanakan sebagai salah satu penentu kelulusan dan tidak digunakan sebagai pemetaan, membuat Anggota Komisi X DPR RI menyatakan sikap tidak simpati.

Wakil Pimpinan Komisi X DPR RI Heri Akhmadi (F-PDI Perjuangan) dalam konferensi pers pada tanggal 28 Januari 2010 menyatakan sikap tegas F-PDI Perjuangan menolak pelaksanaan ujian nasional jika dijadikan satu-satunya penentu kelulusan peserta didik, tapi sebagai pemetaan mutu pendidikan nasional.

Komisi X DPR RI selaku komisi yang membidangi pendidikan pada rapat kerja dengan Kemendiknas sebelumnya telah mengadakan kesepakatan untuk membentuk Panitia Kerja (Panja) Ujian Nasional. Fokus kerja Panja Ujian Nasional (UN) adalah melakukan pengawasan penyelenggaraan UN 2010. Untuk itu perlu meminta klarifikasi soal putusan Mahkamah Agung (MA) terkait dengan masalah Ujian Nasional dan pendapat MA menjadi pijakan untuk menentukan pelaksanaan UN.

Tim Panja UN Komisi X DPR RI telah melakukan konsultasi ke MA pada akhir Januari 2010, dan mendapatkan klarifikasi bahwa dalam putusan tersebut tidak menyebutkan menghentikan pelaksanaan UN namun menegaskan bahwa Kemendiknas harus melakukan evaluasi, perbaikan, dan peningkatan pemenuhan standar pendidikan nasional (SNP) sebagaimana diamanatkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 35.

Pemahaman tentang peningkatan serta pemenuhan 8 standar pendidikan nasional sesuai dengan semangat Komisi X DPRI RI dalam hal ini Tim Panja UN, bahwa setidaknya dalam penyelenggaraan UN berdasarkan standar minimal pendidikan nasional yaitu standar isi, proses, kompetensi kelulusan, dan penilaian.

Tim Panja UN Komisi X DPR RI memberikan usulan bahwa hasil UN dijadikan pemetaan terhadap mutu pendidikan nasional dan mengadakan rayonisasi terhadap hasil UN sehingga tercapai prinsip penyelenggaraan pendidikan secara demokratis dan berkeadilan. Jika penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan menerapkan standar minimal pendidikan nasional maka sudah seharusnya penentuan kelulusan diserahkan pada satuan pendidikan sesuai dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Komisi X DPR RI sesuai hasil konsultasi MA telah mencabut bintang pada mata anggaran pelaksanaan UN sebagai tanda bahwa anggaran UN dapat segera dicairkan, namun demikian Tim Panja UN Komisi X DPR RI saat ini masih bekerja guna mengawal seluruh proses penyelenggaraan UN 2010 hingga tercapai kesepakatan perumusan formulasi UN yang sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diamanatkan UU Sisdiknas Pasal 4 Ayat (1) ”Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.”

sumber gambar: google images

Sukses Bergaul Melalui Pengelolaan Emosi

Rina turun dari mobilnya dengan wajah pucat pasi, tangannya terlihat gemetar. Beberapa saat sebelumnya Rina berusaha menghindari sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong.

Wajah pucat pasi dan tangan gemetar adalah salah satu dari bentuk emosi yang terlihat. Apa yang dirasakan Rina pada saat itu? Jelas tergambar bahwa emosi Rina adalah takut, terkejut, dan cemas. Emosi merupakan hasil persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Biasanya emosi diartikan sebagai perasaan yang terkait dengan suasana hati, atau keadaan internal yang memiliki manifestasi eksternal.

Masalahnya sekarang, apakah semua perasaan harus diungkapkan? Jika atasan memarahi kita tanpa sebab yang jelas, tentu saja kita terkejut dan marah, tapi kita akan berusaha untuk tidak menunjukkan emosi itu di depan atasan kita bukan? Atau ketika seorang teman membawa bingkisan berisi benda yang tidak kita suka, maka kita akan berusaha tersenyum dan mengucapkan terima kasih meski hati kita kecewa.

Beberapa contoh pada paragraf sebelumnya dapat kita lihat bahwa emosi diekspresikan atau tidak sangat bergantung dari keputusan kita dengan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya adalah kepantasan. Bisa kita bayangkan jika dalam suasana pemakaman orang-orang yang hadir tidak berusaha terlihat sedih dan berduka karena sesungguhnya suasana hati mereka saat itu ada yang senang, marah, dan sebagainya. Lucu kan?

Emosi sangat berguna untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan. Ketika kita berada dalam lingkungan baru, pada umumnya kita tidak langsung berbaur tapi melihat situasi dan kondisi orang-orang atau lingkungan baru tersebut. Ekspresi emosi dapat terlihat secara verbal, misalnya dari tutur kata, nada bicara, sedangkan nonverbal dapat dilihat dari perubahan wajah, isyarat tubuh lainnya.

Kepekaan untuk ‘membaca’ ekspresi emosi verbal maupun nonverbal menentukan kualitas hubungan interpersonal. Apakah kita bisa membedakan seseorang yang sedang marah, sedih, bahagia, takut, cemas, atau terkejut? Bagaimana kita menyikapi masing-masing emosi tersebut, sangat bergantung pada kondisi suasana hati kita saat itu. Disinilah ketrampilan komunikasi dibutuhkan.

Kita sering menjumpai orang yang tidak mudah mengekspresikan emosi, sehingga kita tidak tahu persis bagaimana suasana hatinya. Orang seperti ini biasanya dalam lingkungan sering disebut orang yang sulit. Mengapa sulit? Karena orang lain tidak mudah berkomunikasi dengannya. Sering terjadi salah pengertian. Orang sulit biasanya jarang memperlihatkan suasana hati yang santai, jika kita dapat mencermati dan peka, maka sesungguhnya inilah ‘celah’ komunikasi interpersonal dapat dimulai. Kemampuan ini yang disebut dengan ketrampilan berkomunikasi.

Bagaimana dengan orang yang moody? Jelas dia memiliki kesulitan untuk mengelola emosi yang dialaminya, hal ini disadari atau tidak akan mempengaruhi sikapnya pada lingkungan di sekitarnya. Orang seperti ini bisa juga dikatakan orang yang sulit.

Kepekaan dan ketrampilan berkomunikasi merupakan hasil dari ketrampilan mengelola emosi kita. Kesadaran tentang emosi yang sedang kita alami saat itu sangat menentukan bagaimana kita menyikapi situasi dan kondisi lingkungan dimana kita berada. Contoh bagaimana menyikapi orang sulit sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan sebuah pengelolaan emosi.

RELI BUDAYA : Menyalip di Tikungan

Melly berlari melitas lapangan ke arahku, tertawa lebar sambil melambai-lambaikan sebuah majalah. Gadis bertubuh mungil tapi cantik ini selalu tampil ceria. Aku colek Ferlita yang sedang asyik curhat padaku. “Kita punya acara untuk mengisi liburan sekolah,” seru Melly. Terengah-engah Melly duduk di bangku di samping Ferlita, kulihat mata yang selalu berbinar terpancar di wajah mungil Melly. “Apaan sih,” Ferlita menimpali.

“Baca, deh!.” Melly membentangkan majalah remaja di depan kami. Kubaca sebuah pengumuman kegiatan lomba yang diselenggarakan majalah tersebut untuk mengisi liburan. Reli Budaya. “Hmm…menarik,” batinku. Aku dan Ferlita membaca halaman berwarna menarik berisi rincian umum kegiatan itu. Pikiranku berputar cepat dan kling! “Kita ikut lomba ini, dan kita pasti menang, minimal juara ketiga.” Aku membuka keheningan itu dengan kalimat penuh semangat dan menjanjikan.

Ferlita, Melly, dan Henny Ros (nama lengkapnya Henny Rosita) adalah sebagian dari teman-teman dekatku sewaktu SMA. Mereka memiliki minat yang sama di bidang budaya dan humaniora. Aku memang memiliki banyak teman dengan kelompok minat yang berbeda-beda. Ada grup novel, dimana kami bisa ngobrol sepuasnya membedah novel terbaru; ada group borju (borjuis) aku menyebutnya demikian karena kegiatanku dengan kelompok ini lebih banyak bersenang-senang.

Usai sekolah, kami berempat naik kendaraan umum menuju ke kantor redaksi majalah bilangan Kuningan. Kami diminta menunggu di ruang tamu, tak sampai 15 menit, kami dipanggil untuk masuk ke sebuah ruang kerja salah satu staf (petugas pendaftaran) Aku takjub dengan suasana kerja di ruang besar bersekat-sekat setinggi dada itu. Masing-masing sekat tersembul kepala-kepala yang pemilik “ruang kerja.” Mereka tampak sibuk, ada yang menelpon, ada pula yang asik mengetik di depan komputer, atau lalu lalang membawa berkas dokumen.

Hari Sabtu pagi seluruh peserta Reli Budaya sudah berkumpul di Aula Sasana Langen Budaya , TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Aku ngga sangka jumlah peserta Reli Budaya sebanyak itu, kira-kira berjumlah tiga ratusan orang. “Wahh…yakin Hen, kita pasti menang?,” suara lembut Melly di sampingku. Kulihat ketiga temanku sama takjubnya denganku. “Ehhee…we must do the best and let God do the rest,” sahutku menyakinkan mereka pun untukku.

Tepat pukul 08.00 Panitia Lomba membuka acara, dan yang menarik buat ku adalah kehadiran Ibu Pia Alisyahbana selaku Komisaris Femina Group. Pesan pembukanya antara lain kegiatan Reli Budaya selain untuk mengisi masa liburan, juga untuk membuat para peserta lebih mengenal dan mencintai budaya nusantara. Sosoknya mengingatku pada ayahandanya Sutan Takdir Alisyahbana, olehnya aku mengenal bacaan sastra pertamaku “Layar Terkembang.”

Akhirnya Panitia mengumumkan bahwa pemenang lomba adalah kelompok yang paling awal masuk ke garis finis. Agar fair, semua peserta dilarang membawa alat penunjuk waktu dalam bentuk apapun, segera tim pengawas berkeliling memeriksa backpack peserta.

Sepanjang pemeriksaan, aku agak gelisah tapi untunglah Panitia memberi kesempatan bertanya. Segera aku mengacung, “Kak, apakah peserta diperbolehkan membawa buku atau semacamnya?,” tanyaku dengan nada ragu. “Boleh!, kalian boleh membawa buku bacaan, novel, atau komik; bawa makanan dan minuman sangat dianjurkan, kecuali alat penunjuk waktu,” tegas kakak Panitia Lomba. “Ahh…lega hatiku.” Aku tersenyum lega.

Henny Ros yang ada didekatku bertanya, “Emang elo bawa apaan Hen?.” Sambil mengawasi Ferli dan Melly mengambil daftar pertanyaan dan peta, aku mengeluarkan buku andalanku, yang memastikan 50% di atas kertas kami akan menang. “Dasar loe…,” sahutnya dengan mata melotot. Gadis Betawi yang satu ini memang lugas dan tegas. Kami berempat memang unik, Henny Ros mengambil kegiatan ekstrakurikuler karate, aku sendiri ikut kegiatan menari dan fotografi, Ferli dan Melly masuk kelompok teater sekolah, namun untuk kegiatan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) kami masuk kelompok budaya dan humaniora.

Pukul 09.00 tepat kami diberangkatkan di depan Aula Sasana Langen Budaya. Sesuai dengan kesepakatan, aku membagi tugas agar pertanyaan dapat cepat dan tepat dijawab. Henny Ros dan Melly menjawab pertanyaan di perjalanan, aku dan Ferli menjawab pertanyaan di anjungan. Kelompok kami mendapat bagian untuk mengunjungi anjungan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Tengah. Jadi, sambil kami berjalan meskipun belum sampai ke tempat tujuan (anjungan) jika ada pertanyaan umum seputar keempat provinsi tersebut, aku dan Ferli sudah bisa menjawabnya.

Di masing-masing anjungan kami harus melaporkan ke Panitia, dan mengikuti games yang telah ditentukan, ada yang bentuk activity games maupun brain games. Kami berempat menikmati setiap permainan, menang atau kalah ngga penting, yang penting kami sudah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan wajib.

Seminggu kemudian pukul 06.00 aku dibangunkan mama, ada teman yang menelpon. “Halo…,” aku menjawab dengan suara mengantuk. “Halo Henny?!…kita menang!…kita menang!..juara kedua!,” suara teriakan Melly di seberang telepon. Entah teriakan Melly atau berita yang disampaikan atau kedua-duanya, sontak membuat syaraf-syarafku terbangun. “Hehehe…yes! Kita kumpul di rumah Ferli ya, jam 10.00. Daaag…!

“Ada apa Hen?,” tanya mama. Aku menjawab pertanyaannya dengan mencium dan memeluknya dengan erat. “Mau mandi ma…” Aku melesat ke kamar belakang menyambar handuk. Selesai berpakaian, aku mengambil buku yang membantu kami memenangkan lomba ini. Buku bersampul warna kuning gading bergambar peta nusantara “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” karya Prof.Dr. Koentjaraningrat. “Terima kasih Tuhan, terima kasih prof.”

Reli Budaya sejak diselenggarakan pada tahun 1987 setahuku tidak diadakan lagi, entah kenapa. Sungguh disayangkan, karena kegiatan ini dapat dijadikan media untuk para pelajar agar lebih mengenal budayanya dan akhirnya mencintai negeri indah penuh warna. Impianku, seharusnya setiap orang Indonesia  sedikitnya mampu menguasai 3 bahasa suku besar.

Sumber gambar: google images

Musafir Kecil

Sejak usia balita sampai usia 11 tahun aku tinggal dan diasuh oleh kedua eyang dari pihak mama. Kedua orangtuaku memang sengaja menitipkan aku pada eyang, sementara beliau merantau ke ibukota Jakarta. Hubunganku dengan eyang kakung-putri, semua om, dan tante yang kala itu masih lajang cukup dekat. Tak heran ketika papa menjemputku untuk tinggal di kota mereka, ada ruang hatiku yang kosong. Bunyi peluit kereta api yang akan membawaku pergi, terdengar seperti jeritan agar aku tidak meninggalkan Yogyakarta, kota kelahiranku. Bunyi itu seperti suara peringatan tentang ketidakpastian yang menghadang di depanku di kota asing bernama Jakarta. Sampai saat ini jika aku mendengar bunyi peluit kereta api, hatiku serasa tercubit.

Sepanjang malam aku tidak dapat tidur, suara roda kereta menggilas rel besi landasannya menimbulkan suara bising, atau justru gemuruh hatiku yang gelisah penyebabnya, entahlah. Pukul 04.10 perjalananku berakhir di Stasiun Gambir, sejuknya udara pagi tak sempat aku hirup, hatiku masih gelisah, tanpa kusadari kedua telapak tangan dan kakiku basah oleh keringat. Tak lama kegelisahanku teralihkan oleh sebuah benda aneh berbaris di tempat parkir berbaur dengan taksi, becak dan bemo. Aku belum pernah melihat kendaraan ini. Bentuknya seperti becak tapi bagian penumpang tidak terbuka layaknya sebuah becak. Bagian penumpang tertutup oleh kaca berbentuk bulat mirip seekor capung. Rupanya papa melihatku tertegun-tegun. Beliau menggandeng tanganku menuju benda aneh itu. “Ini namanya helicak, seperti becak tapi cara mengendarainya tidak dikayuh”. Papa menjelaskan, aku sibuk mengamati helicak. “Didorongnya pake sepeda motor ya pa?”, tanyaku, karena aku melihat sebuah knalpot disamping roda belakang. “Ya, kita akan naik helicak menuju rumah”, sambut papa dengan suara riang.

Kota Jakarta, kota asing sekaligus membuatku takjub. Selain helicak, tugu Monas adalah salah satu bangunan yang aku kagumi, karena aku tak habis berpikir bagaimana orang dapat membangun menara setinggi itu, bagaimana mengangkut puluhan kilo emas ke atas puncak menara itu. Ada sebuah lagi monumen yang membuatku takjub dan saking takjubnya membuatku untuk pertama kalinya kena teguran papa-mama. Suatu sore, mama meminta papa untuk membeli bakmi goreng lauk makan malam. Aku menemani papa berkendara vespa menuju rumah makan langganan di daerah Tebet. Dua bungkus bakmi goreng ada dipangkuanku terbungkus tas plastik, bau harumnya cukup membuat “pasukan kampung tengah” memberontak. Aku membayangkan makan malam yang enak dengan nasi hangat ditemani bakmi goreng. Lamunanku buyar ketika kulihat sebuah patung menjulang tinggi di atasnya ada sosok laki-laki berbalut libatan kain seolah hendak meraih sesuatu, yang membuatku heran adalah tiang penyangga patung. Vespa yang dikendarai papa melintas mengelilingi monumen, mataku lekat mengamatinya tanpa kusadari bungkusan mie goreng lepas dari kantong plastik. Tiba di rumah, mie goreng tersisa satu bungkus.

Adaptasi yang paling sulit adalah memahami bahasa tepatnya dialek Betawi. Aku bersekolah di SD Negeri 05 Pagi di daerah Menteng. Teman-teman di sekolah dan di lingkungan rumah sering berbicara dengan kata-kata yang sulit kupahami. Suatu pagi setelah selesai mengerjakan tugas piket menyapu ruang kelas, Sriyatun teman sekelas menghampiriku, “Hen…, no…nyak nye si Ramlan manggil elo!”. Apa sih maksudnya si Sri, “Kenapa si Ramlan?”, sahutku. “Bukannye si Ramlan, nyak nye…nyak nye Ramlan, noh liat…di depan kantor guru”. Aku melayangkan pandangan ke arah telunjuk Sriyatun. Astaga, itu Bu Ester, guru Bahasa Indonesia. Aku berlari ke arah kantor guru, kulihat bu Ester tersenyum melambaikan tangan. Senyum itu yang menenangkanku ketika pertama kali kakiku menginjak ruang kelas 5A, Bu Ester wali kelasku. “Ada apa bu?”, tanyaku. “Sudah sarapan Hen?”. “Sudah bu, mama membuatkan susu dan roti tawar mentega”. “Hmm…sekarang kamu coba makan nasi ini, enak lho, namanya nasi uduk, ibu yang buat”. Bu Ester menyodorkan kotak makanan bergambar miki mouse. Sejak itu aku menyukai nasi uduk Betawi plus semur kentang dan bihun gorengnya.

Sekian puluh tahun sudah berlalu, meski aku sudah menjadi penduduk resmi kota Jakarta, belajar dan bekerja di kota ini, namun hatiku tetap bertaut dengan kota kelahiranku Yogyakarta, kurindu ketenangannya, kurindu jenang gempol kesukaanku, kurindu semua sudut kota masa kecilku.

Tulisan ini dimuat dalam HOKI.

Sumber gambar: google images