Kenapa sih Facebook, Friendster, Twitter, atau jejaring sosial lainnya sangat diminati? Ya, karena melalui media itu kita bisa saling berhubungan dengan anggota dalam jejaring tersebut. Kita merasa mendapatkan “teman” dimana kita bisa mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan setiap saat.
Kondisi sosial saat ini memaksa kita bergerak cepat dan tidak ada waktu untuk “kongko-kongko”. Orang sangat sibuk dengan berbagai macam kegiatan, tidak ada waktu untuk berkumpul dan bercengkrama.
Bersyukurlah oleh kemajuan teknologi, maka ditemukan sebuah media virtual jejaring sosial sebagaimana tersebut di atas. Manusia tidak dapat memungkiri hakekatnya sebagai mahluk sosial, dimana mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain. Disaat hati kesal sesuai mendapat teguran atasan, kita dapat segera “berkatarsis” dalam kotak status Facebook; hati kembali tenang dan dapat fokus pada tugas-tugas kita. Saat istirahat kita dapat melihat kembali kotak status, makin tenanglah hati kita, ketika sebagian “teman-teman virtual” memberikan dukungan, semangat, bahkan candaan ataupun sidiran; apapun itu kita merasa tidak sendiri.
Hal inilah yang menurut saya, merupakan efek positif dari jejaring sosial, melalui tulisan awal tahun 2010 ini saya berharap tidak ada lagi seorang anak manusia yang merasa sendiri dan mengambil jalan pintas mengakhiri hidup yang indah yanh diberikan Pencipta. Semoga bermanfaat.
Saat aku dengar Gus Dur meninggal, aku sedang dalam perjalanan pulang. Segera ingatanku bergerak cepat menuju masa ketika Gus Dur memutuskan berperan aktif dipanggung politik Indonesia. Seolah sosok Sutan Syahrir, Bung Hatta bangkit kembali. Bagiku Gus Dur bak suara yang berseru di padang belantara, menyerukan kemanusiaan sebagai nilai hakiki manusia.
Ketika jasad rapuh itu akan dibaringkan ke haribaan bumi pertiwi, seorang perwira tinggi TNI membacakan riwayat hidupnya. Belum pernah aku mendengar begitu panjangkan deret kehormatan yang diberikan pada seseorang. Belum pernah aku mendengar begitu banyaknya kalangan sangat menghormatinya.
Tuhan sungguh memakainya sebagai duta kemanusiaan bagi bumi Indonesia, lihatlah Tuhan memanggilnya disaat sebagian besar umat manusia tengah hiruk pikuk bersiap diri dalam pesta tahun baru. Kepergiaannya menghentikan hingar bingar itu, memaksa kita tuk tunduk dan sujud dalam doa.
Selamat Jalan Gus Dur…tugasmu sudah selesai…biarlah kami yang meneruskan dan menjaga warisan pikiran dan sikap kemanusiaan yang telah kau kobarkan.
January 1st, 2010 in
Journal | tags:
refleksi |
No Comments
Suatu hari aku lewat jalan Proklamasi pertigaan Megaria, disana terpampang baliho (iklan) seorang pemuda ganteng (hehehe…boleh dong) sedang in action memperagakan salah satu jurus kungfu dengan latar belakang gambar seekor naga sedang ‘ngulet’ (walah apa sih ngulet…???) Ya…pokoknya seperti itu…kalau ngga percaya silahkan melintasi daerah itu.
Siapa dia? Aku ngga usah memberitahu namanya lah…yang pasti baliho itu memberitahukan keahlian si pemuda ganteng itu sebagai penyembuh alternatif. Yang menarik perhatianku salah satu dari deretan keahliannya adalah terapi perawan. Hehehe…aku kan langsung berpikiran jahil…lha terus diapain? Kira-kira yang dateng (pasien) siapa aja? Apa aja motivasi mengikuti terapi itu? Wahh…pokoknya jahil deh…alhasil aku cuma senyum-senyum sendiri (untung ngga ada yang lihat)
Maksud tulisanku kali ini bukan untuk memanjakan pikiran jahilku itu, tapi cuma sekedar mencermati perkembangan kemampuan para penyembuh alternatif itu. Kok, sepertinya makin lama makin canggih. Pernah suatu kali aku ketemu dengan seorang teman singkat cerita dia sedang dalam pengobatan alternatif yang menurut dunia kedokteran dia menderita kanker otak, dia menjalani pengobatan alternatif terintegrasi. Hmmm…apa maksudnya? Hehehe…kata integrasi itu adalah kesimpulanku aja. Intinya adalah dia menjalani terapi totok, terapi tusuk jarum, terapi herbal, dan terapi obat (kedokteran) semua itu dilakukan oleh satu orang penyembuh alternatif; nah itu yang aku simpulkan dengan kata integrasi.
Dari obrolanku dengan teman itu, aku menyimpulkan bahwa sesungguhnya kita diberikan kuasa untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri, jika…hanya jika kita merawat tubuh kita. Hehehe…itu mah gampang…eit ternyata ngga gampang. Pertama, aku percaya betul dengan kalimat bijak ‘hati yang gembira adalah obat yang mujarab’ Nah…lo…gampang-gampang susah atau memang susah. Kedua, tahukah kita jika struktur pencernaan manusia itu mirip dengan struktur hewan memamahbiak? Itu artinya, asupan makanan kita sebaiknya sayuran dan biji-bijian. Ketiga, nah ini yang klise (bagi sebagian besar orang yang sibuk) istirahat yang cukup. Hehehe…klise kan. Untuk yang ketiga, ada sebuah kata bijak ’segala sesuatu ada waktunya’. Semoga bermanfaat.
December 29th, 2009 in
Gerundelan,
Journal | tags:
pengobatan |
2 Comments
Waktu terus berlalu, dan tak mungkin kita kembali ke waktu yang telah lalu. Tinggal dua hari tersisa dalam ruang waktu yang berlabel 2009. Sesungguhnya di dunianya ini jika kita mengamatinya, setiap benda, setiap masa, setiap orang memiliki ciri khas atau penanda khusus. Demikian pula tahun 2009. Coba kita renungkan, dengan melakukan perjalanan batin kembali ke Januari 2009, apa saja yang kita maknai di setiap bulan sepanjang tahun 2009.
Ya…Telah banyak yang kita lalui, telah banyak yang kita alami, bahkan telah banyak yang kita abaikan. Serangkai kalimat bijak mengatakan “Tuhan memakai suka duka yang kita alami untuk kebaikan kita” Namun jika kita cermati apakah benar setiap duka yang kita alami untuk kebaikan kita atau justru itu adalah sebuah ‘ganjaran’ dari kebodohan atau kecerobohan kita. Kita juga harus kritis bahwa tidak semua kesusahan yang kita alami merupakan ujian dari Tuhan. Hmm…kalau bingung aku akan beri contoh: Seorang ibu menggandeng anaknya menyeberang di jalan Sudirman kemudian tertabrak. Sang anak meninggal dunia, nah apakah kemalangan yang dialami sang ibu adalah ujian dari Tuhan?
Kita tidak perlu memperdebatkan apakah jawaban pertanyaan tersebut. Aku??? Oh…aku sudah memiliki jawaban sendiri. Ya…maksud tulisanku ini adalah waktu yang tinggal dua hari ini bisa kita gunakan untuk mengkalkulasi berapa banyak kebodohan yang telah kita lakukan, seorang teman mengatakan bahwa keputusasaan selalu berwajah mengenaskan. Bagi aku keputusasaan tidak selalu berwajah tragis (mengenaskan), ya…bagiku ketika bisa memaknai setiap hal yang kita alami maka wujud keputusasaan bisa berwujud kepasrahan. Ya, kepasrahan adalah wujud penyerahan diri kita sebagai manusia pada sang Pencipta, bahwa kita memiliki keterbatasan, tapi diberi peluang untuk meminta kebijakan pada sang Sumber Kebijakan. Justru perbedaannya antara keputusasaan berwajah tragis atau tidak terletak pada, apakah kita memakai peluang itu atau tidak. Semoga bermanfaat.
Aku ingat ketika pertama kali diajak salah seorang tante (adik mama) berbelanja di
’shopping centre’ di sudut kota Jogjakarta. Mungkin kalau waktu itu sudah ada
‘camcorder’ tanteku segera merekam bagaimana ekspresi wajahku ketika melihat berderet-deret buku yang dipamerkan para penjual. Meski sebagian besar adalah buku bekas (mana aku tahu), yang kutahu aku akan memilih 2 buku bacaan, 2 buku tulis, dan alat tulis yang sudah rusak atau habis. Ahhh…sudahlah aku jadi teringat dengan tanteku yang sudah almarhum itu.
Ok, tulisanku kali ini mau kasih informasi tentang sebuah proyek kemanusiaan dan proyek itu masih ada kaitannya dengan paragraf di atas. Ya, proyek itu tentang tulisan.
Sebuah yayasan yang mengelola teman-teman dengan kebutuhan khusus (tuna netra) membuka sebuah proyek kemanusiaan dengan nama ‘Seribu Buku’ Seperti apa proyek itu silahkan rekan-rekan ngintip ke link di sini.
Intinya, proyek ini mengumpulkan buku-buku dalam bentuk ebook (format word) yang masih sangat terbatas dapat diakses oleh teman-teman berkebutuhan khusus ini. Kita bisa menjadi relawan, dengan mengirimkan naskah buku dalam format word. Lalu bagaimana jika ebook atau buku yang kita pilih masih dalam bentuk ‘hardcopy’, ya…rekan-rekan harus mengalihkan menjadi format word.
Oke, siapa yang tergerak hatinya, silahkan langsung membaca dengan cermat proyek ‘Seribu Buku’ ini. Semoga bermanfaat.
Sepuluh hari lagi kita akan meninggalkan ‘ruang’ waktu yang berlabel 2009, dan memasuki 2010. Ya, waktu berlalu kadang tanpa disadari, bahkan cenderung mengabaikannya. Akan tiba saatnya kita sadari betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa makna, tak ada jalan tuk kembali ke masa lalu. Apa yang kita lakukan hari ini tak akan mengubah masa lalu namun sangat berarti untuk masa kini dan mendatang.
Manusia hanyalah musafir dalam padang kehidupan yang diberi sebuah garis ‘maya’ bernama waktu. Tak ada jarak tempuh yang sama yang diberikan Sang Hidup, yang sama ialah kewajiban untuk memberi tanda dan makna di setiap jengkal ‘garis’.
Tuhan itu sesungguhnya punya rasa humor, tidakkah kita sadari bahwa setiap kita melewati ‘garis’ waktu maka bertambah pula garis kerutan pada kulit kita. Akankah kita pulang pada Sang Hidup penuh kerut tanpa makna, ataukah…?
December 20th, 2009 in
Journal | tags:
refleksi |
No Comments
Pukul 11.30 siang ini aku mendapat kabar harus menghadiri tepatnya ‘meliput’ kegiatan rapat koordinasi nasional departemen kebudayaan dan pariwisata. Padahal hari ini aku sudah ada jadwal tersendiri, maka dengan berat hati dan agar dapur terus mengepul aku harus membatalkan semua jadwal tersebut dan segera menuju TKP.
Pukul 15.00 tiba di lokasi. Rakornas diselenggarakan di sebuah hotel di ujung utara kota Jakarta. Hal penting yang menjadi fokus adalah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada masa bakti 2010-2014 berada dibawah koordinasi Menteri Perekonomian dan Keuangan, yang sebelumnya berada di bawah Menteri Kesejahteraan Rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa Pemerintah cukup serius melakukan pembangunan bidang Kebudayaan dan Pariwisata, sejauhmana keseriusannya biasanya akan terlihat pada jabaran program-program kerja yang secara selayang pandang dapat dilihat pada program kerja 100 hari. Jika ingin mendapatkan program-program kerja silakan unduh di sini dan di sini.
Baca selengkapnya »
December 14th, 2009 in
Ceritaku,
Journal | tags:
museum |
No Comments

google.images
Pada awal Abad ke-21 terjadi dua kali Perang Dunia yang keduanya membawa akibat yang sangat mengerikan. Terjadi penjajahan, perbudakan, dan penghilangan nyawa manusia. Secara massal usainya Perang Dunia I pada tahun 1924 lahirkan deklarasi pertama tentang hak anak oleh The League of Nations (cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB) atas usul Eglantyne Jebb, pendiri Save The Children. Deklarasi yang menekankan bahwa “manusia harus memberikan yang terbaik untuk anak”. Sidang Umum PBB pada tahun 1948 menyetujui usul tersebut untuk dijadikan dasar Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia, khususnya Hak Anak. Baru pada tahun 1959, PBB menyepakati deklarasi kedua Hak Anak dan menyetujuinya menjadi suatu kesepakatan terpisah.
Tahun 1979 dinyatakan sebagai Tahun Internasional Anak (Tahun Anak Sedunia). Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian semua negara pada masalah kesejahteraan anak. Indonesia sepakat menjadikan pembangunan anak sebagai bagian integral rencana pembangunan nasional mencakup bidang-bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Momentum ini dianggap sangat tepat untuk melakukan gerakan sosialisasi tentang hak asasi anak. Sebagai dukungan, pada 23 Juli 1979 Indonesia memberlakukan UU No.4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Undang-Undang tersebut menjelaskan, “Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmaniah, maupun sosial”.
Melalui proses yang panjang, KHA akhirnya disepakati pada tahun 1989, merupakan bagian The United Nations International Convenanton Civil and Political Rights. Berlakulah konvensi internasional hak-hak anak yang menyangkut hak sipil, politik, sosial, dan kultural. KHA juga menyebutkan bahwa anak adalah mereka, yang berusia 0-18 tahun. Hakikat hak dasar anak adalah haknya untuk memperoleh kelangsungan hidup, bertumbuh kembang, mendapat perlindungan, dan kesetaraan dalam tata kehidupan. Hingga saat ini KHA telah diratifikasi oleh 193 negara.
KHA Pasal 29 Ayat 1 menyebutkan bahwa “Pendidikan akan diarahkan kepada pengembangan kepribadian anak, bakat, kemampuan mental maupun fisiknya sampai mencapai potensi yang maksimal”. Dengan demikian, pendekatan hak asasi anak harus kita laksanakan secara baik dan secara sungguh-sungguh pula. Penerapan hak anak yang berlandasan KHA memerlukan modal pengetahuan yang selalu berkembang (knowledge-based) dan modal informasi yang selalu aktual. Selain itu, pengamatan, kajian, evaluasi, dan pemikiran yang dikembangkan di berbagai negara merupakan umpan balik atau data yang harus kita perhitungkan. Bila hal itu tidak bisa kita laksanakan secara baik dan secara benar, kualitas modal insani bangsa yang terbangun tidak akan mampu menjawab kebutuhan masa depan, bahkan bangsa ini akan senantiasa ketinggalan dalam kancah persaingan global. Bagaimana menurut anda?