Matah Ati: Catatan Tertinggal
Masih seputar pagelaran tari Matah Ati. Ada hal menarik yang belum aku tulisan pada catatan sebelumnya, yaitu tentang pagelaran itu sendiri. Sebelum Matah Ati dipentaskan di negeri sendiri (baca: Indonesia), sendratari garapan Bendoro Raden Ayu Atilah Soeryadjaya digelar perdana di Teater Esplanade Singapura pada 22-23 Oktober 2010.
Sendratari Matah Ati yang mengambil konsep langendriyan (menari dan menembang) digelar sebagai pertunjukan pembuka pada Festival Budaya Melayu (Malay Culture Festival) mendapatkan standing ovation. Yang menarik adalah beberapa pertunjukan seni budaya lokal yang berhasil dan dihargai di negeri orang akan sukses ketika pertunjukan yang sama digelar di negeri sendiri (baca: Indonesia).
Tidak hanya Matah Ati, beberapa waktu yang lalu sendratari Tusuk Konde juga terlebih dahulu “ngamen” di Eropa dan sukses. Ketika dipertunjukan di negeri sendiri (baca: Indonesia) mendapat sambutan hangat. Benarlah apa yang dikatakan Jay Subiyakto yang dipercaya untuk menggarap sisi artistik panggung. “Kita harus bermain pertama kali di luar negeri dulu. Itu memang taktiknya, karena apapun yang berasal dari dalam negeri ngga akan dihargai,” ungkap Jay pada Atilah.
Sungguh ungkapan yang ironis namun nyata, bahwa memang demikianlah sebagian besar masyarakat kita (baca: Indonesia) Mungkin tidak hanya Buta Budi, namun juga Buta Budaya. Kita harus dicelikan orang lain dahulu baru kita melihat keindahan dan keelokan diri sendiri, anugerah yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa pada jajaran ribuan pulau Nusantara.
Semoga penyakit kebutaan ini segera sirna.
Jakarta, 17 Mei 2011





