Catatan Pagelaran Tari Matah Ati: Kesetaraan Gender Abad 18
Setelah beradu argumentasi dengan satgas sekian lama, akhirnya aku tetap tidak dapat menyelamatkan batere kamera yang disita petugas. Aku memasuki gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Bau kemenyan dan dupa menyergap hidungku seketika aku memasuki gedung. Bau khas pertunjukan seni Jawa, meski gedung megah dan setting panggung modern, Jawa ya tetap Jawa lengkap dengan kutuk menyan ritual tolak bala.
Pagelaran Tari mengambil kisah perjuangan dan percintaan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa (1725-1795). Sejarah mencatat Raden Mas Said yang kemudian bergelar Adipati Arya Mangunegara I penguasa Kadipaten Mangkunegaran merupakan Raja Jawa pertama yang melibatkan perempuan di dalam angkatan perang. Pasukan tempur perempuan berjumlah 144 orang terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda). Pasukan perempuan mumpuni ini dipimpin oleh Rara Rubiyah kemudian bergelar Bendoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati istri Adipati Arya Mangkunegara I.
Yang menarik dalam pagelaran tari ini adalah setting panggung yang digarap oleh Jay Subiyakto. Panggung dibuat miring 15 derajat lengkap dengan electronic trap door. Bisa dibayangkan stamina yang dibutuhkan para penari yang harus menyajikan pagelaran ini dalam bentuk langendriyan (menari sekaligus menembang). Bentuk panggung yang demikian, formasi penari akan terlihat jelas dari semua sudut dan tata pencahayaan yang spektakuler melengkapi sebuah sajian dalam kemasan modern dan megah.
Jakarta, 15 Mei 2011
sumber foto: detikfoto
3 Responses to “Catatan Pagelaran Tari Matah Ati: Kesetaraan Gender Abad 18”
Comments
Read below or add a comment...






bak???,boleh gak saya kutip tulisan di atas!!!!!!!!!!!!.
tlng?????????dong, tulisan diatas sangat perlu untuk saya gunakan dlm kuliah saya!!!!!!!!.
Halo mas Abdullah Majid, silahkan mengutip dengan menyertakan link atau narasumber.
Salam kenal