Perempuan Berdaya
“Kenyamanan pengguna bis Trans Jakarta khususnya perempuan mulai terusik, karena kepadatan penumpang di dalam bis memungkinkan para perempuan mengalami pelecehan seksual seperti payudara dipegang atau pantat di”cemol”
Ketika mendengarkan sebagian perbincangan bertema “transportasi yang ramah perempuan” di salah satu radio membuat ingatan saya kembali ke masa kuliah. Saya pengguna bis jurusan Kampung Melayu-Grogol yang terkenal penuh copet, yang membuat saya harus waspada saat itu bukan keberadaan para pencopet itu. Saya sering melihat seorang ibu atau wanita muda mendapat perlakuan dilecehkan seperti yang dicontohkan dalam perbincangan di atas. Saya sendiri pernah mengalaminya, ketika itu saya menuju ke kampus di jalan Sudirman.
Kenyamanan saya segera terusik karena saya merasakan bahu kiri digesek-gesek tepat di alat kelamin milik seorang pria setengah baya berpenampilan rapi seperti layaknya pegawai. Saya mendongak ke arah pria itu, namun tampaknya si pria seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Saya mencoba untuk menghindarinya dengan menggeser posisi duduk agak ke dalam. Si pria sepertinya cukup gigih untuk meneruskan “aksinya” Akhirnya saya berdiri dan menegur si pria, tapi bukan permintaan maaf yang saya terima si pria tersenyum-senyum. Saya “terpaksa” memberikan peringatan pada si pria dengan konsekuensi mendapatkan perhatian dari penumpang bis yang lain.
Peristiwa yang saya alami terjadi pada tahun 1980an, saya tidak membayangkan kondisi atau modus apa yang dipergunakan para “pria” untuk melecehkan perempuan di tempat umum saat ini. Tulisan ini saya buat dengan tujuan memberikan motivasi untuk berani membela diri sendiri.
Ketika mendapatkan perlakuan seperti yang saya alami atau semacamnya, pertama yang harus dilakukan adalah memastikan apakah si pelaku sengaja atau tidak.
Kedua, jika sudah pasti bahwa perilaku itu sengaja, maka janganlah ragu untuk menegur dan memperingatkan si pelaku bahwa perbuatannya mengganggu diri kita. Pada tahap ini kita harus menyiapkan mental atas reaksi yang ditimbulkan. Biasanya si pelaku akan pura-pura tidak mendengar atau bahkan menyangkal yang memaki dengan kata-kata yang membuat telinga kita “merah” atau emosi kita terpancing. Jangan terpancing, diam saja. Si pelaku menggunakannya hal itu sebagai senjata untuk mempermalukan kita, tapi sebenarnya kitalah yang sedang mempermalukan dia atas perilakunya.
Ketiga, jika si pelaku masih mengulang perbuatannya dan tidak ada perhatian yang berarti dari orang-orang sekitar, maka jangan ragu-ragu untuk menggunakan anggota tubuh untuk melawannya, seperti mencakarnya, memukulkan tas ke arah mukanya, atau menonjok batang hidungnya. Namun biasanya, pada tahap kedua, si pelaku akan pergi sambil memaki atau si kernet bis akan menggiringnya pergi.
Saya tahu bahwa tidak semua kaum saya memiliki keberanian untuk melakukan sampai tahap ketiga, namun paling tidak ada yang dapat dilakukan, minimal berbicara untuk membela diri. Menegur dan memberikan peringatan adalah langkah konkrit memberdayakan diri. Sikap diam dan mendongkol tidak akan merubah apappun bahkan membuat diri sendiri sakit hati atau bahkan mengalami trauma.
Ketika berada di tempat umum, kemungkinan mendapatkan perilaku tidak nyaman bisa terjadi kapan saja. Masalahnya adalah apakah kaum perempuan dapat melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri ketika dilecehkan. Pertolongan tidak selalu datang seperti yang diharapkan, jika itu terjadi maka orang yang dapat menolongnya adalah diri kita sendiri.






sudah 20th kemudian masih juga??
makin yakin masukin yla ke kursus kung fu nih
@Lini:
Hehehe…ya begitulah yang terjadi.
Hmm…tindakan preventif yang bisa dikategorikan sebagai tindakan konkrit untuk membuat perempuan berdaya.
Sep…be a good parent for your child…
saya juga sering dilecehkan saat naik bus. Biasanya ada wanita yg tertidur, lalu menyenderkan kepalanya di bahu saya. Atau kadang (maaf) pantat saya dicemol beramai-ramai oleh sekelompok mahasiswi. Biasanya saya hanya pasrah, tersenyum, sambil berkata ramah: “Lagee dooong…”
No comment…