Kembali
Seorang sahabat baru kembali dari negeri Paman Sam, berharap pertemuan ini menjadi reuni yang menggembirakan. Janji sudah diucap, tempat sudah sepakat. Lima orang sahabat lama berkumpul kembali.
Tiga orang telah menikah, satu orang tak kunjung beranjak dari kesendiriannya, satu lagi bawa berita menyesakkan, bercerai. Julukan tepat untuk mereka Si Borju karena dia berasal dari keluarga kaya di bilangan Menteng, Si Polos karena dia sejak kuliah selalu loadingnya lama alias lemot, Si Bengek karena dia penderita asma, Si Lajang karena dia masih membujang, dan Si Janda Kembang karena dia paling cantik diantara kelima sahabat serta baru saja bercerai.
Kenangan lama silih berganti jadi topik bicara, tawa berderai penuh canda. Tapi coba dengarkan baik-baik ada sebuah nada sumbang di tengah derai tawa itu. Ahh…rupanya berasal dari tawa si Janda Kembang dari negeri Paman Sam. Tawa yang nyaris histeris terdengar menyayat hati dan telinga yang peka.
Ada apa gerangan? Tidakkah ada telinga untuk mendengar dan bahu untuk bersandar di negeri hebat itu, ketika kau masuk dalam lembah kekelaman? Amboi…begitu dalamkah lukamu?
Reuni usai, kelima sahabat berjalan kembali ke tempat masing-masing. Si Lajang yang peka terusik oleh gaung nada sumbang derai tawa si Janda Kembang. Nada tersambung, suara di seberang menjawab, suara Si Janda Kembang tampak gembira mendapat telepon Si Lajang. Tak sadar Si Janda Kembang berucap sepi usai reuni, kata dirinya kuat terus berulang disela tawa nyaris histeris. Si Lajang nyaris menangis mendengar tawa itu lagi. Obrolan singkat berujung undangan Si Janda Kembang untuk melanjutkan reunian.
Si Lajang melangkah menuju rumah Si Janda Kembang siapkan telinga tuk mendengar dan bahu tuk disandar. Obrolan sore hingga jelang subuh cukup buat Si Janda Kembang menggulir bongkahan batu yang menyesak dadanya.
Benar, lukanya terlalu dalam. Masalah demi masalah dihadapinya seorang diri, kepahitan demi kepahitan ditelannya bulat-bulat tanpa ada telinga dan hati untuk berbagi. Hidup sedemikian mampu mengubah Si Janda Kembang dari gadis ceria berotak cemerlang menjadi manusia bodoh tak berdaya dan minder.
Tiba waktu Si Janda Kembang kembali ke negeri Paman Sam, keempat sahabat melepas kepergiannya. Si Lajang tersenyum melihat sahabatnya kembali seperti karakter awal yang dulu dikenalnya, pintar, ceria, dan penuh pengertian.
-Buat Lima Sekawan UNAI-






Mbak Heni, saya enjoy membaca postingan ini. Tulisannya mengalir baik dan luwes.
Semoga si Janda kembang menemui harapan barunya di kemudian hari.
Mba Henny, hidup ini bagaikan mimpi, kadang mimpi itu indah, kadang mimpi itu mencekam, kadang mimpi itu mengerikan, kadang mimpi itu menakutkan dan …. dan seterusnya mungkin itu semuanya hilang atau mungkin menjadi kenangan. biarkan semuanya berjalan dan mengalir apa adanya, tanpa harus kita risau dengan keadaan dan situasi yang lalu, yang sekarang,, dan yg akan datang…. reuni pertemuan yang sangat mengasyikan, karena kenangan terlalu indah, namun kadangkala sulit untuk dilupakan. berbagailah kita yang mempunyai hari esok…. amien
Halo Pak Karsono…
Hmm…ini pak Karsono mana ya? Kemenpora kah? Jika ya…woaa terima kasih sudah berkunjung ke blog pribadi yang cuma berisi tulisan2 hasil pengamatan dan pengalaman sendiri maupu orang-orang dekat.
Mathur nuwun untuk komentarnya…
Salam hangat,
Henny
Salam Kenal…
Ah cerita diatas sangat keren kalo jadi novel