Mendidik = Disiplin
“…dengarkanlah didikan ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.”
Kalimat di atas saya kutip dari kitab kehidupan yang berusia ribuan tahun. Mengapa saya mengutipnya? Di sana termakna bahwa kedua orangtua mempunyai andil dalam mengasuh anak-anaknya. Kedua orangtua mempunyai tugasnya untuk mendidik, tidak hanya ibu namun juga ayah.
Pada beberapa kesempatan ngobrol dengan orantua muda, mereka banyak mengeluhkan tentang bagaimana idealnya mengasuh anak, begitu banyak informasi yang didapat mana yang cocok untuk mereka, dan lain sebagainya. Intinya mereka seperti kehilangan arah untuk mendidik anak-anak mereka.
Sebenarnya sejak jaman dahulu hingga saat ini persoalan mendidik selalu berkaitan erat dengan disiplin dan teladan. Kapan sebaiknya didikan disiplin diberikan pada anak? Sejak dalam kandungan mulai menerapkan disiplin pada calon bayi.
Sebelum maraknya buku-buku tentang Pendidikan Pralahir ditulis dan diterjemahkan di Indonesia, saya sudah memperhatikan bagaimana kedua orangtua saya mendidik adik saya. Papa saya selalu menyapa perut gendut Mama setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Mama sering terlihat berbicara sendiri ketika sedang memasak atau melakukan kegiatan di dapur. Saya sering dipanggil untuk mengusap perut Mama ketika ada tendangan dari dalam perut Mama dan diminta untuk “berbicara” dengan adik saya.
Mama terlihat lebih teratur melakukan semua kegiatannya. Makan tepat waktu, siang hari tidur sambil mendengarkan radio kesayangannya, menjelang sore Mama menyapa tanaman yang berderet rapi di halaman rumah kontrakan, kemudian mandi (kandang mengajakku untuk mandi bersama).
Contoh di atas adalah sebagian kecil dari usaha orangtua mulai mendidik calon bayi mereka.








