Gaya Hidup Hijau
Tidak semua orang mengetahui apa itu pemanasan global, mungkin saja hanya orang yang tinggal di daerah perkotaan yang mengetahui. Itu pun hanya sekedar sebagai isu yang sedang hangat dibicarakan namun tidak dengan pemahaman yang mendalam. Jika kita tanya beberapa orang di sekitar kita apa sih pemanasan global? Umumnya mereka mengatakan udara makin panas. Jika ditanyakan lebih jauh apa yang menjadi penyebabnya? Polusi udara akibat jumlah kendaraan semakin meningkat di jalanan. That’s it! Pemahaman seperti itu mengakibatkan orang merasa tidak ikut bertanggung jawab atas suhu udara yang semakin meningkat karena mereka tidak memiliki kendaraan bermotor sebagai penyebab polusi udara tersebut.
Pendapat para ahli mengatakan bahwa penyumbang terbesar pemanasan global adalah meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil seperti batubara, gas, dan minyak bumi. Ketiga jenis bahan bakar tersebut adalah yang paling murah saat ini jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Pemakaiannya pun dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang sangat berarti setelah tercetusnya revolusi industri. Apalagi kalau sekarang kita sering merasakan kemacetan di mana-mana akibat jumlah kendaraan bermotor yang meningkat. Pabrik dan industri yang tumbuh di mana-mana untuk memenuhi pola konsumsi masyarakat modern yang semakin hari semakin meningkat. Namun hal ini juga disangkal oleh sebagian ahli. Menurut mereka, kontribusi dari penggunaan bahan bakar fosil di seluruh dunia dalam menambah jumlah CO2 hanyalah 0,013%. Pro dan kontra terus terjadi, namun demikian seiring dengan adanya Protokol Kyoto (1997).
Beberapa negara maju sepakat untuk mengurangi jumlah emisi gas CO2 dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil sebanyak 30% dalam 10 tahun ke depan. Untuk itu saat ini beberapa negara industri telah mencoba mengembangkan metode dan teknologi dalam rangka memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, terutama sumber energi yang terbarukan. Apa itu energi terbarukan? Energi terbarukan adalah energi yang dapat dipakai secara terus menerus tanpa perlu kuatir sumber dari energi tersebut akan habis. Lawan katanya adalah energi tak terbarukan, yaitu energi yang jika dipakai secara terus-menerus akan habis pada suatu waktu tertentu. Jadi jelaslah sekarang. Banyak sekali contoh energi yang terbarukan, seperti energi angin, matahari, panas bumi, air, dan biomassa yang berasal dari tanaman perkebunan, pertanian, hutan, sampah, dan peternakan.
Sekarang permasalahannya, apakah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi efek pemanasan global? Jika kita sudah mengetahui bahwa penyebab utama pemanasan global adalah meningkatkan jumlah pembakaran ketiga bahan bakar tersebut, maka cara mudah mengatasinya adalah mengurangi jumlahnya dengan menanam pohon atau memelihara pepohonan yang lebih banyak.
Wah, kalau tinggal di kota seperti Jakarta yang tak ada lahannya, bagaimana? Jika kita memiliki kemauan, maka selalu ada jalan, pepatah ini masih berlaku untuk ikut serta mengurangi pemanasan global. Bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan luas untuk menanam pohon bisa menggunakan area teras rumah untuk menanam pepohonan menggunakan pot, gunakan tanaman sebagai pagar rumah, mulai menghemat penggunaan listrik, menggunakan peralatan rumah tangga dengan label hasil daur ulang. Jika kita berbelanja gunakan kantong kertas atau minta dikemas dalam kardus, dan sebagainya. Intinya adalah kesadaran memulai mengubah gaya hidup kita menjadi lebih ramah lingkungan. Planet biru di dalam tata surya kita hanya satu, dan bumi ini adalah milik kita bersama. Sepatutnyalah kita yang menjaganya. Kalau tidak, lalu siapa lagi??
sumber gambar: google images
Tulisan ini telah dimuat di HOKI sebagai berita utama








