Bullying
“Mama…Andi merebut mainanku lagi.” Sita datang dengan wajah pucat berurai airmata. Aku membiarkan Sita menumpahkan tangisnya di dadaku. Aku mengusap kepalanya berusaha menenangkan hatinya. “Ya udah, Sita ambil mainan yang lain ya…dan main bersama Andi lagi.”
Bermain dengan teman sebaya adalah salah satu pembelajaran sosialisasi bagi anak. Teorinya sih, tahapan ini membuat anak tidak memupuk egonya dan mau berbagi dengan orang lain, mengenal orang lain selain kedua orangtua, kakek nenek, atau saudara kandungnya.
Namun bagaimana jika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan? Ternyata anak kita sering diintimidasi oleh teman bermainnya. Istilah kerennya “bullying.” Selamat datang di dunia nyata. Panik, marah, boleh saja kita sebagai orangtua mempunyai perasaan itu. Selanjutnya apa yang harus kita lakukan untuk anak kita? Contoh di atas merupakan salah satu tindakan bullying yang biasanya dilakukan anak laki-laki kepada anak perempuan.
Tunggu dulu, mungkin ada yang belum tahu apa arti bullying. Bullying adalah tindakan atau perilaku seseorang yang merasa lebih kuat atau unggul untuk menindas orang lain yang dianggapnya lebih lemah. Nah, ketika membaca definisnya kita pasti teringat bagaimana kita waktu kecil dan bagaimana orangtua kita katakan. Persis seperti contoh adegan di atas.
Tindakan orangtua Sita kurang tepat. Mengapa? Akibat tindakan tersebut maka Andi merasa perbuatannya pada Sita adalah benar. Untuk Sita, ajaran ibunya membuat dia tidak mandiri dan semakin minder menghadapi pergaulan dengan teman sebaya. Apa dong yang sebaiknya dilakukan ibunya Sita?
Ajaklah Sita menemui Andi.
Ibunya Sita: Andi, ini mainannya siapa?
Andi : Sita
Ibunya Sita: Apa Andi tadi sudah minta ijin sama Sita kalau mau pinjam mainannya?
Andi : ….(diam cemberut, menyembunyikan mainan di belakang punggung)
Ibunya Sita: Andi, sekarang kamu minta maaf sama Sita dan ngomong kalau kamu mau meminjam mainannya.
Dialog diatas akan berdampak pada kedua anak. Sita akan terbangun self-esteemnya dan Andi tahu bahwa perbuatannya salah dan cenderung tidak akan mengulangnya.









Info yang menarik…
Membuat saya aware bahwa bullying bisa terjadi dimanapun dan kapanpun bahkan sejak masih sangat kanak-kanak.
Salam kenal!
@Donny: benar sekali, bullying ada dimana-mana dan bermacam bentuk bahkan antar saudara kandung bisa terjadi bullying. Untuk itulah ayah-ibu harus mempunyai komitmen yang sama dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka (parenting).
terima kasih sudah mengunjungi blog ini.
baru ngeh kalo ganti template
hari ini jatahku untuk menyantap semua tulisan mbak henny hehehe
Hi Fem,
Sorry ya..aku baru lihat kalau komen kamu masuk spam…
Thank you…hehehe…ganti suasana biar ngga bosen, semoga membuat nyaman yang membacanya.
Halo Ibu Psikolog,
Yup, aku setuju bullying banyak terjadi di sekitar kita. tapi sayangnya, banyak pula pelaku bullying tidak menyadari perilakunya telah merugikan orang lain secara psikis. Misalnya, becandaan yang bernada ejekan yang bisa berakibat serius terhadap korbannya. Semoga tulisan Mbak Henny bisa membantu tercegahnya praktek bullying di sekitar kita.
Cheers,
Sulis W.
@Sulis:
Yep, candaan untuk orang yang belum kita kenal dekat dengan alasan “agar terlihat akrab” sering berdampak negatif bagi si penerima. Hmm…mungkin kita harus punya “kiat-kiat” untuk “kick” balik candaan yang menyakitkan tanpa menyakiti balik tapi berdampak meredam kecenderungan “bullying”
Ok Sulis, thanks sudah mampir di blogku.
Salam,