Apakah Kita “Enjoy” Menjadi Orangtua?
Nanda (9thn) ikut lomba nyanyi anak-anak antar sekolah di kotanya. Ibunya mendaftarkan Nanda karena dia ingin mengikuti lomba. Lomba yang diadakan oleh sebuah sekolah akhirnya mengumumkan peserta yang masuk 10 besar. Anehnya, kesepuluh peserta yang masuk semuanya siswa yang berasal dari sekolah penyelenggara lomba. “Gimana reaksi Nanda, Mel?” “Hmm…aku lihat dia “cuek” aja tuh. Gak apa-apa dia ngga masuk biar dia nambah pe de aja.” Imelda, mamanya Nanda menjelaskan.
Nanda adalah anak semata wayang pasangan Imelda dan Fisher. Keduanya memutuskan tidak akan mempunyai anak karena masalah genetika. Namun kehadiran Nanda tidak membuat Imelda maupun Fisher mengasuh dan mendidiknya dalam kemanjaan.
Kelihatannya pasangan ini memang sudah mempersiapkan Nanda menjadi anak tunggal. Oleh karenanya sejak dini Nanda sudah diajarkan mandiri. Mulai dari membereskan tempat tidur, memilih baju sendiri, menyiapkan keperluannya sendiri dan lain sebagainya.
Dari pasangan Fisher-Imelda, kita dapat menarik beberapa hal positif.
Pertama, mereka jauh hari sudah mempersiapkan diri menjadi orangtua, mungkin sebelum Nanda ada dalam kandungan Imelda.
Kedua, mereka tahu betul apa kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, baik segi mental, fisik, atau materi. Sehingga mereka tahu bagaimana mengelola apa yang mereka punya.
Ketiga, kesiapan mental mereka jelas terlihat ketika mereka memutuskan bahwa mereka hanya membesarkan anak tunggal, Nanda.
Ketiga hal tersebut saling menjalin sebagai fondasi kuat untuk pasangan orangtua muda ini tetap konsisten mengasuh dan mendidik Nanda menjadi anak yang mandiri dan tegar.
Apakah ketiga hal itu menjadikan Imelda dan Fisher tidak mengalami kesulitan dalam mendidik? Apa mereka tidak mengalami “pusing”nya jadi orangtua? Tentu saja mereka mengalami, dan pasti menghadapinya.
Bedanya, kesiapan dan komitmen yang mereka miliki membuat mereka “menikmati” kehidupan menjadi orangtua. Mereka “enjoy” mengatasi problem-problem yang menghadang.
Cuplikan cerita di awal tulisan ini sebagai contoh. Imelda tidak “kebakaran jenggot” (karena dagunya tidak tumbuh jenggot) ketika mendapatkan Nanda tidak masuk 10 besar, meskipun peluang itu besar. Dia tidak menularkan kecurigaannya pada Nanda, bahwa ada unsur “kecurangan” dalam penilaian. Fokusnya tetap pada bagaimana dia mempersiapkan Nanda menjadi pribadi yang tegar dan mandiri melalui momentum ini.
sumber gambar: koleksi pribadi






hmmmmmmmm rasanya anakku jg calon anak tunggal.
makasih sudah ingetin jadi bisa persiapan
Tapi ingat tdk semua rencana kita itu terbaik dan bisa kita jalankan dgn baik loh……
@Cecilia: benar sekali, namun sebuah rencana adalah lebih baik jika dibandingkan dengan orangtua yang menganut pola asuh “air mengalir” untuk anak-anak mereka.
Do the best and let God do the rest.
Salam hangat,
Henny
Sep…sep…yang penting tetap memegang komitmen sebagai orangtua…
Mba Henny, kita sebetulnya belajar dari anak, segala sesuatunya kita mesti mengenali, dan memahami semua fenomena yang terjadi dengan kehidupan anak, dari mulai dia lahir sampai dia mejadi dewasa. Menjadi orang tua tidka pernah ada sekolahannya… oleh karena itu, kita harus mengetahui hakekat daripada orang tua, karena tanpa anak maka kita sebenarnya bukanlah orang tua. dan kita tidak pernah mengetahui apa ilmuanya untuk mengajarkan kepada anak…justru kita yang mendapatkan ilmu pengetahuan dari keberadaan seorang anak….bahkan untuk kita mendidiknya sekalipun tidak ada ilmunya…
Anak adalah anugerah sekaligus titipan..sudah sepantasnyalah para orangtua mengucap syukur atasnya dan menjalani dengan tekun tugas-tugasnya yang suci…
Letakan dasar-dasar nilai ketuhanan dan moral lalu sujudlah menyembah Tuhan kembali menyerahkan titipanNYA padaNYA, karena hanya sebatas bimbingan dan arahan orangtua memberi selanjutnya doa teiring sepanjang jalan buat sang anak…
Terima kasih pak…