Pemikiran Kartini dan Kodrat Perempuan
“Hari ini tugas kalian adalah menulis tentang siapa Ibu Kartini.”
Hari itulah untuk pertama kalinya aku mendengar perempuan bernama “Kartini.” Pak Slamet guru kelas 6 memberi waktu seminggu untuk tugas itu.
Sepulang sekolah, aku segera menceritakan tugas itu pada mama. Mama hanya mengatakan “Raden Ajeng Kartini itu perempuan hebat.” Mama tersenyum melihat mata “jengkolku” membesar penuh tanya. “Kalau papa sudah pulang kantor, kamu minta diantar ke toko buku belilah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Mama meneruskan menyuapi adikku makan siang dengan semur kentang makanan kesukaannya.
Siang itu aku tidak bisa tidur meskipun mama sudah mengingatkan, tapi mataku ngga mau terlelap. Sebentar-sebentar aku melirik ke jam dinding “jam lima kok lama sekali” aku membalikan badan ke arah dinding sambil memeluk guling berusaha tidur. Jika terdengar suara scooter di kejauhan aku menajamkan telinga berharap itu papa pulang.
Buku itu bersampul warna dasar kuning dengan motif batik bergaris hitam di depannya tertulis Habis Gelap Terbitlah Terang diberi frame dasar berwarna hitam. Aku menghabiskan waktu dua hari untuk membacanya tuntas.
Aku tidak ingat detil isi ringkasan yang kubuat, yang aku ingat kesan setelah membaca buku itu. Benar kata mama, Ibu Kartini perempuan yang pemberani, berani menyatakan isi hatinya, prinsip hidupnya, dan tetap memegang teguh prinsip yang dianggapnya benar.
Mengapa aku terkesan hal tersebut? Karena itu sejalan dengan didikan yang aku terima dari kedua Eyangku, ya, aku memang dibesarkan oleh kakek-nenek sampai aku berusia 11 tahun. Beliau selalu memberikan nasehat bahwa meskipun aku anak perempuan, aku bisa melakukan semua hal yang bisa dilakukan semua manusia termasuk apakah itu laki-laki maupun perempuan.
Berdasar nilai yang ditanamkan itu aku tumbuh menjadi perempuan mandiri, beberapa teman dekat berpendapat bahwa aku ‘sangat’ mandiri. Buku “Kartini” terbitan Djambatan dan buku “Panggil Aku Kartini Saja” karangan Pramoedya Ananta Toer adalah buku kedua dan ketiga yang aku baca tentang Ibu Kartini.
Saat itu aku sudah memasuki bangku Sekolah Menengah Atas tingkat akhir tapi pemahamanku tentang Kartini tetap sama ditambah dengan pola asuh yang ditanamkan oleh kedua Eyang, aku mulai mempertanyakan apa sesungguhnya emansipasi perempuan bagi Kartini dan bagiku?
Pergulatan pikiran Raden Ajeng Kartini memang tidak lekang oleh waktu untuk dijadikan bahan diskusi, setiap tahun bangsa Indonesia selalu merayakan hari kelahirannya dengan berbagai bentuk acara. Mulai dari lomba berpakaian kebaya model Kartini sampai diskusi bertema berat seperti “apa relevansi pemikiran Kartini bagi wanita Indonesia modern?”
Bagiku sebenarnya pertanyaan dasar yang menjadi bahan pergulatan awal Kartini adalah “mengapa saya tidak dibolehkan untuk melanjutkan sekolah?” yang kemudian pergulatan pemikiran itu berkembang seiring dengan kedekatan Kartini dengan beberapa tokoh politik Belanda pada waktu itu. Kartini dikenal sebagai seorang perempuan Jawa yang berpikiran maju oleh sahabat-sahabat penanya di Belanda maupun di Eropa.
Bangsa Indonesia kemudian mengenang Kartini sebagai tokoh yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Pemikiran Kartini memberikan dampak positif bagi kaum perempuan Indonesia saat ini. Aku mengakui bahwa perempuan Indonesia sudah diberikan keleluasaan bergerak untuk memegang jabatan di berbagai bidang yang dahulu merupakan wilayah kaum pria.
Tapi jika dicermati sebenarnya perempuan Indonesia belum terlepas dari non-emansipasi (kalau boleh aku menggunakan kata ini). Arti kata emansipasi dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Jadi non-emansipasi jika boleh diartikan belum memperoleh emansipasi. Mengapa aku berpendapat demikian?
Meskipun kaum perempuan Indonesia sudah menduduki jabatan-jabatan terhormat mereka masih dinilai bukan perempuan yang baik jika mereka tidak mempunyai ketrampilan yang baik dalam mengelola rumah tangganya. Pemikiran budaya Indonesia khususnya dan budaya Timur pada umumnya bahwa sudah menjadi kodrat perempuan jika mereka harus terampil mengelola rumah tangganya. Pemikiran inilah yang mungkin menjawab pertanyaan sebuah artikel “mengapa perempuan Indonesia tidak tampil “pede” percaya diri ketika menduduki jabatan terhormat?”
Peran ganda yang mengatas-namakan “kodrat” itulah yang membuat perempuan Indonesia modern tampil tidak “pede“. Menurutku sesungguhnya inilah belenggu yang masih mengikat dalam diri kaum perempuan Indonesia dan diikatkan oleh budaya Timur yaitu “kodrat perempuan.” Arti kata “kodrat” dalam KBBI terbitan Pusat Bahasa tahun 2008 adalah hal yang berkaitan dengan kemampuan alami, atau hukum alam.
Jadi berdasarkan arti kata, kodrat perempuan adalah hal-hal yang ada dalam diri seorang perempuan yang bersifat alami. Pertanyaan selanjutnya adalah apa saja kodrat perempuan itu? Kodrat perempuan sekali lagi menurutku hanya ada 4 yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Kemampuan alami yang Tuhan berikan dalam diri seorang manusia berjenis kelamin perempuan yang tidak bisa dilakukan oleh seorang manusia yang berjenis kelamin laki-laki adalah keempat hal tersebut.
Kembali pada peran ganda yang dilekatkan pada seorang perempuan Indonesia hanya sebatas empat hal tadi, selanjutnya untuk pengasuhan, pengelolaan rumah, dan seterusnya bisa dilakukan bersama “partner hidup” yaitu suami dan bukan merupakan tanggung jawab penuh isteri. Mungkin pemikiranku ini terlalu radikal namun itulah yang aku amati dan menjadi pergulatan pemikiranku yang akhirnya mendapatkan kesimpulan sementara, seperti yang aku ungkapkan.
Semoga tulisan ini dapat menyumbangkan pemikiran bagi perempuan Indonesia agar mereka lebih kritis untuk menerima setiap “label” yang diberikan baik oleh lingkungan sekitar ataupun budaya kita.
8 Responses to “Pemikiran Kartini dan Kodrat Perempuan”
Comments
Read below or add a comment...









bravo kartini…..!!!
@fachmi:
Terima kasih fachmi, gimana kabarnya Jogja??
Keren …
Keren … perempuan emang harus belajar untuk bisa melakukan apa saja. Kalo lelaki meski perannya juga banyak, tapi ada hal2 ttt yang nggak bisa dilakukan seperti mengandung dan melahirkan. Perempuan tetap bisa melakukan sebagian besar yang dilakukan lelaki (terutama kalo kepepet).
@Imelda:
Weleh…bu dokter, terima kasih lho sudah mau kasih komentar ditengah kesibukan di ruang ER.
hehehehe…kayaknya banyak yang kepepet tuh…
mbaaakkk…
ayoo… dikirim ke yuk-nulis
biar kumasukin ke blog yaaa
gw tmasuk yg kepepet ga yaa… wkwkwk
Terima kasih Mbak Henny.
Kita masih sering menjumpai anggapan bahwa “wanita adalah makhluk lemah.” Istilah sarkastik dalam bahasa Inggris juga menyebut wanita sebagai “the weaker sex.” Dalam kenyataan, kita melihat sendiri bahwa sesungguhnya wanita adalah makhluk yang kuat. Mereka bisa menjalankan peran ganda yang tak bisa dijalankan oleh pria. Maka tepatlah apabila “surga terletak di bawah telapak kaki ibu.”
@Mas Troeno:
Masyarakat timur sudah terlanjur memberikan banyak beban dipundak kaum perempuan dengan mengatasnamakan “kodrat.” Saya sendiri salut dengan kaum saya yang mau mengambil komitmen untuk menjalaninya.
Terima kasih mas Troeno untuk komentar dan kunjungannya.
Salam damai,
Henny L