Yang Merantau dan Tergusur
Ropelita (20) mahasiswi asal kota Sidikalang sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sebuah universitas di Jakarta. Ita, demikian nama panggilannya sejak kecil bercita-cita menjadi pendeta. Kedua orangtuanya hanya petani kopi di kota Sidikalang Sumatera Utara. Sejak SMP Ita selalu mengantongi juara umum di sekolah.
Tahun 2007 Ita menerima sepucuk surat pemberitahuan berisi tawaran mengikuti program beasiswa yang diselenggarakan sebuah universitas swasta. Pasangan suami-istri Simangunsong hanya bisa mengucap syukur anak ketiganya dapat mengenyam pendidikan tinggi gratis, karena beasiswa yang diberikan sudah termasuk ongkos hidup di Jakarta. Medio 2007 Ita resmi tercatat sebagai mahasiswi di STT SETIA.
Setahun Ita menikmati kehidupan sebagai mahasiswa dan tinggal di asrama yang disediakan pihak universitas tempat dia belajar. Oktober 2008 ketenangan warga asrama STT SETIA terusik dengan teriakan sejumlah warga di daerah Kampung Makasar Jakarta Timur sambil melempari batu ke arah asrama mahasiswa tersebut.
Rasa panik dan cemas meliputi warga asrama, mereka semua keluar gedung asrama wajah bingung termasuk Ita. Ia berlari ke arah pintu gerbang belakang gedung asrama entah mengapa disana sudah terdapat sekelompok petugas kepolisian menolong para mahasiswa ke tempat aman dari kepungan warga Kampung Makasar itu.
Sejak malam itu Ita tidak pernah lagi merasakan ketenangan belajar dan tinggal di tempat yang nyaman. Ita beserta 500 mahasiswa STT SETIA dievakuasi ke bumi perkemahan Cibubur Jakarta Timur. Belakangan baru diketahui bahwa warga Kampung Makasar tidak menyetujui berdirinya STT SETIA di daerah tersebut.
Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan pengelola bumi perkemahan Cibubur memberikan bantuan pada pihak Yayasan STT SETIA untuk menampung 1500 mahasiswa yang hampir sebagian besar berasal dari luar pulau Jawa. Mahasiswa STT SETIA kemudian ditampung di tiga tempat yaitu di bumi perkemahan Cibubur, bekas gedung kantor walikota Jakarta Barat, dan Wisma Transito Jakarta Timur.
Ita termasuk rombongan yang ditampung di bekas kantor walikota Jakarta Barat bersama enam ratusan mahasiswa lainnya. Tinggal dipenampungan tidak senyaman ketika menempati asrama, apalagi gedung yang ditempati saat ini bekas kantor sudah pasti tidak ada ruang kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, bahkan fasilitas MCK terpusat hanya di empat tempat untuk dipakai enam ratusan mahasiswa.
Pihak Yayasan STT SETIA tetap konsisten memenuhi kewajibannya untuk mahasiswa yang mengikuti program beasiswa, terbukti Ita tidak terlantar dalam hal kebutuhan hidup. Tentu saja hal ini tidak dirasaka oleh mahasiswa nonbeasiswa, jelas mereka menuntut fasilitas belajar mengajar serta tempat tinggal yang layak. Konflik mulai muncul ketika kondisi seolah dibiarkan oleh pihak Yayasan.
Bulan Juni 2009 ketidaknyamanan mahasiswa “pengungsi” ini kembali terusik, gedung bekas walikota Jakarta Barat itu harus dirombohkan karena pihak pemda kalah perkara dengan pihak PT Summarecon Gadingmas di pengadilan negeri Jakarta Barat. Putusan pengadilan menyatakan PT Summarecon Gadingmas sebagai pemilik lahan gedung bekas kantor walikota Jakarta Barat tersebut. Yayasan STT SETIA diberi kesempatan selama enam bulan sejak putusan peradilan untuk mengosongkan area bekas perkantoran tersebut.
Keresahan semakin memuncak ketika belum sampai tiga bulan di hari Senin pagi awal Agustus 2009 beberapa kendaraan bolduser memasuki area gedung pengungsian. Seorang mandor kepala menemui Sandra Ginting (36) Kepala Asrama Putri STT SETIA yang pagi itu sedang memimpin renungan pagi. Agus Suhendro (39) sang Mandor memberitahu bahwa mulai hari ini dia dan rombongan pekerja dari PT Summarecon Gadingmas akan mulai membongkar gedung. Surat perintah diperlihatkan Agus pada Sandra. Bak bara disiram minyak, kesabaran mahasiswa “pengungsi” telah sampai pada batasnya. Mereka segera meninggalkan ruang-ruang bekas kantor yang dijadikan ruang belajar dan ruang kuliah keluar menuju gerbang halaman luar gedung. Kumpulan mahasiswa putra-putri membentuk barisan berusaha menghalangi masuknya kelompok pekerja proyek dan kendaraan bolduser.
Peristiwa itu sempat diliput media massa karena sempat jatuh korban beberapa mahasiswa terinjak dan terkena benturan peralatan bangunan. Salah satu korbannya termasuk Ita. “Kami hanya mau belajar dan menyelesaikan kuliah dengan tenang dan tidak dipindah-pindah.” Demikian pernyataan sebagian mahasiswa ketika ditemui pada bulan November 2009. Pak Yohannes (57) salah seorang dosen STT SETIA mengatakan bahwa pihak Yayasan sedang menagih komitmen Gubernur DKI Jakarta untuk memberikan perlindungan bagi mahasiswa yang diungsikan dari asrama Kampung Makasar. Pihak Yayasan sejak tahun 2008 sudah mulai membangun gedung STT SETIA berikut fasilitas asrama di daerah Cikarang, namun pembangunan tersebut baru selesai pada akhir Tahun 2010. “Kami minta Pemda memberi waktu sampai gedung perkuliahan dan asrama itu selesai, dan kami akan pindah.” Demikian Yohannes menjelaskan.
Saat ini para mahasiswa yang tinggal di gedung di wilayah Jakarta Barat itu semakin tidak nyaman, komplek gedung yang terdiri dari lima bangunan, tinggal dua bangunan tempat para mahasiswa ini belajar dan tinggal. Fasilitas sanitasi sudah dihancurkan, air bersih dari PAM sudah dihentikan, demikian juga arus listrik jika kita masuk ke area dalam gedung tercium bau tidak sedap dan pengap. “Saya rindu ayah ibu saya di kampung, tapi saya juga ingin menyelesaikan kuliah saya. Bantulah kami, paling tidak sampai gedung perkuliahan di Cikarang selesai.” Demikian harapan dan permohonan Ita dan ratusan mahasiswa STT SETIA dalam pengungsian.
sumber gambar: google








