Menari dan Lestari
Sekar (16) terlihat sibuk menggulung “stagen” hitam di depannya tampak kain batik panjang bermotif “truntum” dan selendang terlipat rapi. “Oke sampai ketemu minggu depan ya, kita latihan “blocking” tempat,” terdengar suara bu Intam Suwandi (55) menyapa dua pasang anak muda yang sedang melakukan kegiatan yang sama.
Pemandangan demikian dapat dijumpai di Padepokan Paguyuban Mataram di daerah Slipi Jakarta Barat. Komplek perumahan bagi pegawai Bank Indonesia ini memang memiliki fasilitas pendopo terbuka lengkap dengan gamelan gaya Yogyakarta.
Sekar merupakan salah satu anggota padepokan seni tersebut. Sekar adalah contoh dari sedikit remaja Jakarta yang mau menekuni seni tari tradisional. Anggota padepokan tersebut berjumlah sekitar 150 orang, 20% berusia anak-anak sampai remaja.
“Sejak kecil papa, mama, dan eyang kakung sudah mengenalkan saya pada tarian Jawa terutama gaya Yogyakarta,” tutur Sekar. Meski pedopokan ini mengusung nama Paguyuban Mataram, bukan berarti para “cantik mantrik” hanya menguasai seni budaya Jawa saja. Mereka juga menguasai tarian Negeri Serambi Mekah (NAD), Minang, Palembang, bahkan tarian Bajarmasin dan Pontianak.
Elly Kasim (58) pemimpin Sanggar Tari Minang Sangrina Bunda sempat memuji para cantrik mantrik ketika mereka menari Rantak pada acara Festival Budaya Nusantara di Taman Ismail Marzuki. “Kok lebih luwes yang nari orang Jawa ya,” gurau sekaligus puji Elly Kasim.
Kurangnya minat remaja di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya terhadap budaya lokal tidak terlepas dari peran serta orang tua dan lingkungan rumah dalam mengenalkan budaya pada anggota keluarganya. Arus globalisasi tidak dapat ditolak, budaya internasional demikian dekat mengepung kehidupan para remaja. Sudah selayaknya benteng pertama pertahanan ada di ranah keluarga.
Keluarga memegang kunci penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal, meski sebuah keluarga berasal dari Pejambon (Peranakan Jawa Ambon) tetap anggotanya harus memahami akar budaya Jawa dan Ambon. Komitmen Pemerintah untuk melestarikan budaya nusantara tidak akan berhasil tanpa peran serta masyarakat.
“Saya bangga melihat orang-orang dari negara lain mau mempelajari tarian Jawa, tapi saya tidak rela kalau mereka akhirnya lebih “Jawa” daripada saya,” tutur Sekar. Berapa persen remaja Indonesia yang memiliki rasa tidak rela seperti yang dimiliki Sekar. Untuk membentuk nilai, sikap, dan rasa seperti itu keluarga dan lingkungan yang memiliki peran utama.
sumber foto: google images








