Kunjungan Pertama
“…selamat datang di kota Biak…bagi penumpang tujuan kota Jayapura dapat menunggu di dalam pesawat…”
Sekar melirik jam tangannya waktu menunjukkan pukul 04.15 wit. Sekar menaikkan selimut mencoba tidur, sejak meninggalkan kota Makassar tempat transit pertama, Sekar berusaha membayangkan tempat tidurnya yang nyaman, tapi kantuk tak kunjung datang.
Baru beberapa menit memejamkan mata, lengannya terasa disentuh orang. Sekar membuka matanya. Sesosok perempuan berkulit gelap mencoba tersenyum sambil menyodorkan tiket ke arahnya. “Ohh…maaf, nomor berapa?” Sekar melihat nomor tempat duduk yang tertera di tiket. “12E…silahkan.” Sekar belum sempat bergeser, dari balik tubuh perempuan di sampingnya muncul seraut wajah mungil berambut kriting dan bermata bulat menatap Sekar.
Dia bergerak masuk ke arah tempat duduk sebelah dalam, karena agak sempit spontan Sekar mengangkat tubuh bocah laki-laki itu didudukkan pada bangkunya. Dua bangku di sebelahnya sudah terisi, alamat dia tidak bisa tidur. Benar saja, tak lama setelah lepas landas terdengar celoteh bocah itu, sepertinya menanyakan ini dan itu layaknya anak kecil bertemu hal baru.
Sekar kembali menarik selimut berusaha memejamkan mata mencari kantuk meski dia tahu usahanya sia-sia. Tak lama terdengar kembali celotehan “penumpang kecil” di sebelah Sekar, namun ada hal yang menarik pendengarannya, bocah itu berbicara dengan nada berirama seperti bernyanyi. Akhirnya Sekar sempat terlelap beberapa saat akibat “nyanyian” kawan seperjalanannya menuju Papua.
Bandara Sentani pukul 07.30 wit, Sekar terpana memandang barisan pegunungan berkabut yang mengelilingi bandara. Ini kunjungan pertama Sekar di bumi Cendrawasih.
sumber gambar: koleksi pribadi








