Sukses Bergaul Melalui Pengelolaan Emosi
Rina turun dari mobilnya dengan wajah pucat pasi, tangannya terlihat gemetar. Beberapa saat sebelumnya Rina berusaha menghindari sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong.
Wajah pucat pasi dan tangan gemetar adalah salah satu dari bentuk emosi yang terlihat. Apa yang dirasakan Rina pada saat itu? Jelas tergambar bahwa emosi Rina adalah takut, terkejut, dan cemas. Emosi merupakan hasil persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Biasanya emosi diartikan sebagai perasaan yang terkait dengan suasana hati, atau keadaan internal yang memiliki manifestasi eksternal.
Masalahnya sekarang, apakah semua perasaan harus diungkapkan? Jika atasan memarahi kita tanpa sebab yang jelas, tentu saja kita terkejut dan marah, tapi kita akan berusaha untuk tidak menunjukkan emosi itu di depan atasan kita bukan? Atau ketika seorang teman membawa bingkisan berisi benda yang tidak kita suka, maka kita akan berusaha tersenyum dan mengucapkan terima kasih meski hati kita kecewa.
Beberapa contoh pada paragraf sebelumnya dapat kita lihat bahwa emosi diekspresikan atau tidak sangat bergantung dari keputusan kita dengan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya adalah kepantasan. Bisa kita bayangkan jika dalam suasana pemakaman orang-orang yang hadir tidak berusaha terlihat sedih dan berduka karena sesungguhnya suasana hati mereka saat itu ada yang senang, marah, dan sebagainya. Lucu kan?
Emosi sangat berguna untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan. Ketika kita berada dalam lingkungan baru, pada umumnya kita tidak langsung berbaur tapi melihat situasi dan kondisi orang-orang atau lingkungan baru tersebut. Ekspresi emosi dapat terlihat secara verbal, misalnya dari tutur kata, nada bicara, sedangkan nonverbal dapat dilihat dari perubahan wajah, isyarat tubuh lainnya.
Kepekaan untuk ‘membaca’ ekspresi emosi verbal maupun nonverbal menentukan kualitas hubungan interpersonal. Apakah kita bisa membedakan seseorang yang sedang marah, sedih, bahagia, takut, cemas, atau terkejut? Bagaimana kita menyikapi masing-masing emosi tersebut, sangat bergantung pada kondisi suasana hati kita saat itu. Disinilah ketrampilan komunikasi dibutuhkan.
Kita sering menjumpai orang yang tidak mudah mengekspresikan emosi, sehingga kita tidak tahu persis bagaimana suasana hatinya. Orang seperti ini biasanya dalam lingkungan sering disebut orang yang sulit. Mengapa sulit? Karena orang lain tidak mudah berkomunikasi dengannya. Sering terjadi salah pengertian. Orang sulit biasanya jarang memperlihatkan suasana hati yang santai, jika kita dapat mencermati dan peka, maka sesungguhnya inilah ‘celah’ komunikasi interpersonal dapat dimulai. Kemampuan ini yang disebut dengan ketrampilan berkomunikasi.
Bagaimana dengan orang yang moody? Jelas dia memiliki kesulitan untuk mengelola emosi yang dialaminya, hal ini disadari atau tidak akan mempengaruhi sikapnya pada lingkungan di sekitarnya. Orang seperti ini bisa juga dikatakan orang yang sulit.
Kepekaan dan ketrampilan berkomunikasi merupakan hasil dari ketrampilan mengelola emosi kita. Kesadaran tentang emosi yang sedang kita alami saat itu sangat menentukan bagaimana kita menyikapi situasi dan kondisi lingkungan dimana kita berada. Contoh bagaimana menyikapi orang sulit sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan sebuah pengelolaan emosi.








