RELI BUDAYA : Menyalip di Tikungan
Melly berlari melitas lapangan ke arahku, tertawa lebar sambil melambai-lambaikan sebuah majalah. Gadis bertubuh mungil tapi cantik ini selalu tampil ceria. Aku colek Ferlita yang sedang asyik curhat padaku. “Kita punya acara untuk mengisi liburan sekolah,” seru Melly. Terengah-engah Melly duduk di bangku di samping Ferlita, kulihat mata yang selalu berbinar terpancar di wajah mungil Melly. “Apaan sih,” Ferlita menimpali.
“Baca, deh!.” Melly membentangkan majalah remaja di depan kami. Kubaca sebuah pengumuman kegiatan lomba yang diselenggarakan majalah tersebut untuk mengisi liburan. Reli Budaya. “Hmm…menarik,” batinku. Aku dan Ferlita membaca halaman berwarna menarik berisi rincian umum kegiatan itu. Pikiranku berputar cepat dan kling! “Kita ikut lomba ini, dan kita pasti menang, minimal juara ketiga.” Aku membuka keheningan itu dengan kalimat penuh semangat dan menjanjikan.
Ferlita, Melly, dan Henny Ros (nama lengkapnya Henny Rosita) adalah sebagian dari teman-teman dekatku sewaktu SMA. Mereka memiliki minat yang sama di bidang budaya dan humaniora. Aku memang memiliki banyak teman dengan kelompok minat yang berbeda-beda. Ada grup novel, dimana kami bisa ngobrol sepuasnya membedah novel terbaru; ada group borju (borjuis) aku menyebutnya demikian karena kegiatanku dengan kelompok ini lebih banyak bersenang-senang.
Usai sekolah, kami berempat naik kendaraan umum menuju ke kantor redaksi majalah bilangan Kuningan. Kami diminta menunggu di ruang tamu, tak sampai 15 menit, kami dipanggil untuk masuk ke sebuah ruang kerja salah satu staf (petugas pendaftaran) Aku takjub dengan suasana kerja di ruang besar bersekat-sekat setinggi dada itu. Masing-masing sekat tersembul kepala-kepala yang pemilik “ruang kerja.” Mereka tampak sibuk, ada yang menelpon, ada pula yang asik mengetik di depan komputer, atau lalu lalang membawa berkas dokumen.
Hari Sabtu pagi seluruh peserta Reli Budaya sudah berkumpul di Aula Sasana Langen Budaya , TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Aku ngga sangka jumlah peserta Reli Budaya sebanyak itu, kira-kira berjumlah tiga ratusan orang. “Wahh…yakin Hen, kita pasti menang?,” suara lembut Melly di sampingku. Kulihat ketiga temanku sama takjubnya denganku. “Ehhee…we must do the best and let God do the rest,” sahutku menyakinkan mereka pun untukku.
Tepat pukul 08.00 Panitia Lomba membuka acara, dan yang menarik buat ku adalah kehadiran Ibu Pia Alisyahbana selaku Komisaris Femina Group. Pesan pembukanya antara lain kegiatan Reli Budaya selain untuk mengisi masa liburan, juga untuk membuat para peserta lebih mengenal dan mencintai budaya nusantara. Sosoknya mengingatku pada ayahandanya Sutan Takdir Alisyahbana, olehnya aku mengenal bacaan sastra pertamaku “Layar Terkembang.”
Akhirnya Panitia mengumumkan bahwa pemenang lomba adalah kelompok yang paling awal masuk ke garis finis. Agar fair, semua peserta dilarang membawa alat penunjuk waktu dalam bentuk apapun, segera tim pengawas berkeliling memeriksa backpack peserta.
Sepanjang pemeriksaan, aku agak gelisah tapi untunglah Panitia memberi kesempatan bertanya. Segera aku mengacung, “Kak, apakah peserta diperbolehkan membawa buku atau semacamnya?,” tanyaku dengan nada ragu. “Boleh!, kalian boleh membawa buku bacaan, novel, atau komik; bawa makanan dan minuman sangat dianjurkan, kecuali alat penunjuk waktu,” tegas kakak Panitia Lomba. “Ahh…lega hatiku.” Aku tersenyum lega.
Henny Ros yang ada didekatku bertanya, “Emang elo bawa apaan Hen?.” Sambil mengawasi Ferli dan Melly mengambil daftar pertanyaan dan peta, aku mengeluarkan buku andalanku, yang memastikan 50% di atas kertas kami akan menang. “Dasar loe…,” sahutnya dengan mata melotot. Gadis Betawi yang satu ini memang lugas dan tegas. Kami berempat memang unik, Henny Ros mengambil kegiatan ekstrakurikuler karate, aku sendiri ikut kegiatan menari dan fotografi, Ferli dan Melly masuk kelompok teater sekolah, namun untuk kegiatan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) kami masuk kelompok budaya dan humaniora.
Pukul 09.00 tepat kami diberangkatkan di depan Aula Sasana Langen Budaya. Sesuai dengan kesepakatan, aku membagi tugas agar pertanyaan dapat cepat dan tepat dijawab. Henny Ros dan Melly menjawab pertanyaan di perjalanan, aku dan Ferli menjawab pertanyaan di anjungan. Kelompok kami mendapat bagian untuk mengunjungi anjungan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Tengah. Jadi, sambil kami berjalan meskipun belum sampai ke tempat tujuan (anjungan) jika ada pertanyaan umum seputar keempat provinsi tersebut, aku dan Ferli sudah bisa menjawabnya.
Di masing-masing anjungan kami harus melaporkan ke Panitia, dan mengikuti games yang telah ditentukan, ada yang bentuk activity games maupun brain games. Kami berempat menikmati setiap permainan, menang atau kalah ngga penting, yang penting kami sudah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan wajib.
Seminggu kemudian pukul 06.00 aku dibangunkan mama, ada teman yang menelpon. “Halo…,” aku menjawab dengan suara mengantuk. “Halo Henny?!…kita menang!…kita menang!..juara kedua!,” suara teriakan Melly di seberang telepon. Entah teriakan Melly atau berita yang disampaikan atau kedua-duanya, sontak membuat syaraf-syarafku terbangun. “Hehehe…yes! Kita kumpul di rumah Ferli ya, jam 10.00. Daaag…!”
“Ada apa Hen?,” tanya mama. Aku menjawab pertanyaannya dengan mencium dan memeluknya dengan erat. “Mau mandi ma…” Aku melesat ke kamar belakang menyambar handuk. Selesai berpakaian, aku mengambil buku yang membantu kami memenangkan lomba ini. Buku bersampul warna kuning gading bergambar peta nusantara “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” karya Prof.Dr. Koentjaraningrat. “Terima kasih Tuhan, terima kasih prof.”
Reli Budaya sejak diselenggarakan pada tahun 1987 setahuku tidak diadakan lagi, entah kenapa. Sungguh disayangkan, karena kegiatan ini dapat dijadikan media untuk para pelajar agar lebih mengenal budayanya dan akhirnya mencintai negeri indah penuh warna. Impianku, seharusnya setiap orang Indonesia sedikitnya mampu menguasai 3 bahasa suku besar.
Sumber gambar: google images






dua jempol buatmu bu… klo empat jempol takutnya dirimu kebauan dengan bau kaus kakiku…wakakakakak…
Kalau dua jempol berikutnya ikut maju, dalam jangka waktu dua jam akan terkirim bingkisan ke cikarang.