Musafir Kecil
Sejak usia balita sampai usia 11 tahun aku tinggal dan diasuh oleh kedua eyang dari pihak mama. Kedua orangtuaku memang sengaja menitipkan aku pada eyang, sementara beliau merantau ke ibukota Jakarta. Hubunganku dengan eyang kakung-putri, semua om, dan tante yang kala itu masih lajang cukup dekat. Tak heran ketika papa menjemputku untuk tinggal di kota mereka, ada ruang hatiku yang kosong. Bunyi peluit kereta api yang akan membawaku pergi, terdengar seperti jeritan agar aku tidak meninggalkan Yogyakarta, kota kelahiranku. Bunyi itu seperti suara peringatan tentang ketidakpastian yang menghadang di depanku di kota asing bernama Jakarta. Sampai saat ini jika aku mendengar bunyi peluit kereta api, hatiku serasa tercubit.
Sepanjang malam aku tidak dapat tidur, suara roda kereta menggilas rel besi landasannya menimbulkan suara bising, atau justru gemuruh hatiku yang gelisah penyebabnya, entahlah. Pukul 04.10 perjalananku berakhir di Stasiun Gambir, sejuknya udara pagi tak sempat aku hirup, hatiku masih gelisah, tanpa kusadari kedua telapak tangan dan kakiku basah oleh keringat. Tak lama kegelisahanku teralihkan oleh sebuah benda aneh berbaris di tempat parkir berbaur dengan taksi, becak dan bemo. Aku belum pernah melihat kendaraan ini. Bentuknya seperti becak tapi bagian penumpang tidak terbuka layaknya sebuah becak. Bagian penumpang tertutup oleh kaca berbentuk bulat mirip seekor capung. Rupanya papa melihatku tertegun-tegun. Beliau menggandeng tanganku menuju benda aneh itu. “Ini namanya helicak, seperti becak tapi cara mengendarainya tidak dikayuh”. Papa menjelaskan, aku sibuk mengamati helicak. “Didorongnya pake sepeda motor ya pa?”, tanyaku, karena aku melihat sebuah knalpot disamping roda belakang. “Ya, kita akan naik helicak menuju rumah”, sambut papa dengan suara riang.
Kota Jakarta, kota asing sekaligus membuatku takjub. Selain helicak, tugu Monas adalah salah satu bangunan yang aku kagumi, karena aku tak habis berpikir bagaimana orang dapat membangun menara setinggi itu, bagaimana mengangkut puluhan kilo emas ke atas puncak menara itu. Ada sebuah lagi monumen yang membuatku takjub dan saking takjubnya membuatku untuk pertama kalinya kena teguran papa-mama. Suatu sore, mama meminta papa untuk membeli bakmi goreng lauk makan malam. Aku menemani papa berkendara vespa menuju rumah makan langganan di daerah Tebet. Dua bungkus bakmi goreng ada dipangkuanku terbungkus tas plastik, bau harumnya cukup membuat “pasukan kampung tengah” memberontak. Aku membayangkan makan malam yang enak dengan nasi hangat ditemani bakmi goreng. Lamunanku buyar ketika kulihat sebuah patung menjulang tinggi di atasnya ada sosok laki-laki berbalut libatan kain seolah hendak meraih sesuatu, yang membuatku heran adalah tiang penyangga patung. Vespa yang dikendarai papa melintas mengelilingi monumen, mataku lekat mengamatinya tanpa kusadari bungkusan mie goreng lepas dari kantong plastik. Tiba di rumah, mie goreng tersisa satu bungkus.
Adaptasi yang paling sulit adalah memahami bahasa tepatnya dialek Betawi. Aku bersekolah di SD Negeri 05 Pagi di daerah Menteng. Teman-teman di sekolah dan di lingkungan rumah sering berbicara dengan kata-kata yang sulit kupahami. Suatu pagi setelah selesai mengerjakan tugas piket menyapu ruang kelas, Sriyatun teman sekelas menghampiriku, “Hen…, no…nyak nye si Ramlan manggil elo!”. Apa sih maksudnya si Sri, “Kenapa si Ramlan?”, sahutku. “Bukannye si Ramlan, nyak nye…nyak nye Ramlan, noh liat…di depan kantor guru”. Aku melayangkan pandangan ke arah telunjuk Sriyatun. Astaga, itu Bu Ester, guru Bahasa Indonesia. Aku berlari ke arah kantor guru, kulihat bu Ester tersenyum melambaikan tangan. Senyum itu yang menenangkanku ketika pertama kali kakiku menginjak ruang kelas 5A, Bu Ester wali kelasku. “Ada apa bu?”, tanyaku. “Sudah sarapan Hen?”. “Sudah bu, mama membuatkan susu dan roti tawar mentega”. “Hmm…sekarang kamu coba makan nasi ini, enak lho, namanya nasi uduk, ibu yang buat”. Bu Ester menyodorkan kotak makanan bergambar miki mouse. Sejak itu aku menyukai nasi uduk Betawi plus semur kentang dan bihun gorengnya.
Sekian puluh tahun sudah berlalu, meski aku sudah menjadi penduduk resmi kota Jakarta, belajar dan bekerja di kota ini, namun hatiku tetap bertaut dengan kota kelahiranku Yogyakarta, kurindu ketenangannya, kurindu jenang gempol kesukaanku, kurindu semua sudut kota masa kecilku.
Tulisan ini dimuat dalam HOKI.
Sumber gambar: google images









nyanyi lagunya Kla Project aja hehehehe…
Bikin nangis…hiks…hiks..hiks…