Kepergian Sang Humanis
Saat aku dengar Gus Dur meninggal, aku sedang dalam perjalanan pulang. Segera ingatanku bergerak cepat menuju masa ketika Gus Dur memutuskan berperan aktif dipanggung politik Indonesia. Seolah sosok Sutan Syahrir, Bung Hatta bangkit kembali. Bagiku Gus Dur bak suara yang berseru di padang belantara, menyerukan kemanusiaan sebagai nilai hakiki manusia.
Ketika jasad rapuh itu akan dibaringkan ke haribaan bumi pertiwi, seorang perwira tinggi TNI membacakan riwayat hidupnya. Belum pernah aku mendengar begitu panjangkan deret kehormatan yang diberikan pada seseorang. Belum pernah aku mendengar begitu banyaknya kalangan sangat menghormatinya.
Tuhan sungguh memakainya sebagai duta kemanusiaan bagi bumi Indonesia, lihatlah Tuhan memanggilnya disaat sebagian besar umat manusia tengah hiruk pikuk bersiap diri dalam pesta tahun baru. Kepergiaannya menghentikan hingar bingar itu, memaksa kita tuk tunduk dan sujud dalam doa.
Selamat Jalan Gus Dur…tugasmu sudah selesai…biarlah kami yang meneruskan dan menjaga warisan pikiran dan sikap kemanusiaan yang telah kau kobarkan.








