Akibat Berhenti Menulis
Menulis? Wah…nanti dulu deh…susah, atau …nanti deh kalau ada waktu senggang. Begitulah kesan orang pada umumnya ketika mendengar atau diminta melakukan kegiatan itu, termasuk saya. Untunglah sejak SD saya punya ibu guru yang rajin memberikan tugas mengarang setelah liburan panjang selesai. Tentu saja saya menyambut gembira tugas itu, karena saya punya ide tulisan. Kegiatan Mengisi Liburan Sekolah bisa saya sulap menjadi cerita yang menarik, imbalannya sudah pasti angka delapan akan menghiasi kertas karangan.
Sayangnya, sejak berhenti menulis buku harian, ketrampilan “menyulap” hilang lalu bersama angin. Saya sangat sulit merangkai kata-kata, kadang sudah tersusun dengan lancar menjadi paragraf, tiba-tiba bisa “blank” Dan untuk memulainya lagi bisa menguras energi dan waktu. Itulah akibat yang harus saya tanggung ketika berhenti menulis buku harian sampai kuliah selesai. Saya tidak bisa “curhat” dalam bentuk tulisan. Jadilah tulisan saya formal dan kaku. Kemampuan saya untuk mendeskripsikan dalam bentuk tulisan tidak berkembang. Hal ini saya sadari sebagai sebuah kelemahan.
Saya iri melihat adik bungsu dengan asyik dan lancar menulis cerpen atau menyelesaikan pekerjaannya. Adik saya bekerja sebagai editor. Rasa iri ini mendorong saya untuk kembali bergiat menulis. Mau menulis dimana? Buku harian? Ngga jaman…malu sama umur, begitu kata hati. Akhirnya blog saya pilih menjadi media penampung sekaligus bisa menayangkan tulisan ke publik. Ya, meskipun blog yang saya punya belum tentu ramai dikunjungi pembaca, yang penting tulisan “go public”. Bagaimana dengan mutu tulisan? Jangan tanya, sampai detik ini tulisan saya jauh dari sebuah tulisan yang baik.
Sampai akhirnya saya berkenalan dengan mbak Fida Abbott. Kami beberapa kali main “tamu-tamuan” maksud saya adalah saling berkunjung ke blog masing-masing dan berkirim email. Suatu ketika mbak Fida mengundang saya menjadi Pewarta Warga di Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Saya tidak segera menanggapi undangan itu karena “keburu” diserbu rasa minder.
Setelah tahu visi dan misinya, saya tertarik bergabung di HOKI. Sewaktu mengirim tulisan pertama ke meja redaksi HOKI, saya memang tidak terlalu berharap banyak. Namanya juga penulis pemula, sangat pemula malah. Jadi, ketika ada email balasan dari HOKI yang menyatakan penayangan tulisan saya, saya kaget luar biasa. Saking bangganya, saya masih ingat kok judul tulisan itu adalah “Budaya Akar Bangsa”. Rasa haru semakin membuncah ketika belakangan saya tahu bahwa mbak Fida adalah salah satu Tim Redaksi HOKI. Saya yakin penanyangan tulisan saya di HOKI bukan semata karena kualitasnya, namun lebih besar sebagai bentuk motivasi. Terus terang itu merupakan bentuk motivasi paling manis yang pernah saya terima.
Mengapa saya memilih PMOH? Karena ketulusan hati yang telah ditunjukkan Tim Redaksi HOKI semata. Kok, bisa? Ya, karena tulus hati adalah barang langka di jaman ini, jadi saya beruntung bertemu dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai ini. Saya yakin akan berhasil menjadi penulis yang baik dalam “gemblengan” mereka. Alangkah tidak bijaksananya saya jika tidak memberikan respon yang sama dalam bentuk kedisiplinan, ketekunan, dan konsisten untuk terus menulis. Untuk itu, jangan pernah berhenti menulis karena kita semua tahu akibatnya, dan tidak semua dari kita dapat beruntung bertemu dengan orang-orang yang tulus hati.
Catatan: Tulisan ini dimuat dalam Berita Utama HOKI hari ini






nice sharing ci….tengkyu..tengkyu..
Memang kalau sudah lama tidak menulis, lama kelamaan kemampuannya jadi tumpul. Saya juga merasakan sekali saat saya pindah ke Lampung, tidak ada komputer, mau tulis tangan pun repot. akhirnya vakum selama 8 bulan sebelum kembali ke surabaya dan membawa laptop. Sekarang mau nulis apa bingung sendiri karena sepertinya “keran”nya mampet. Tapi saya yakin, jika kita menulis terus, kemampuan ini akan terasah lagi dan kita akan mampu menulis lebih baik hari demi hari.
Halo Angela,
Terima kasih kembali dan salam kenal ya…
Salam damai,
Henny L
Halo Devita,
Sep…kalau sudah kembali ke “jalan” yang benar, dan tetap semangat yaa…dan jangan segan-segan bergabung dengan milis menulis, di sana kita bisa sharing tentang dunia menulis. Ok, Devita…salam kenal ya…
Salam damai,
Henny L