Visit Museum
Pukul 11.30 siang ini aku mendapat kabar harus menghadiri tepatnya ‘meliput’ kegiatan rapat koordinasi nasional departemen kebudayaan dan pariwisata. Padahal hari ini aku sudah ada jadwal tersendiri, maka dengan berat hati dan agar dapur terus mengepul aku harus membatalkan semua jadwal tersebut dan segera menuju TKP.
Pukul 15.00 tiba di lokasi. Rakornas diselenggarakan di sebuah hotel di ujung utara kota Jakarta. Hal penting yang menjadi fokus adalah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada masa bakti 2010-2014 berada dibawah koordinasi Menteri Perekonomian dan Keuangan, yang sebelumnya berada di bawah Menteri Kesejahteraan Rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa Pemerintah cukup serius melakukan pembangunan bidang Kebudayaan dan Pariwisata, sejauhmana keseriusannya biasanya akan terlihat pada jabaran program-program kerja yang secara selayang pandang dapat dilihat pada program kerja 100 hari. Jika ingin mendapatkan program-program kerja silakan unduh di sini dan di sini.
Dari seluruh paparan yang dirangkum oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada pembukaan, disampaikan bahwa salah satu program utama Depbudpar adalah merevitalisasi museum-museum baik pusat dan daerah dengan tema besar Visit Museum dilakukan dalam gerakan nasional. Mengapa hal ini menarik buatku, karena aku sudah lama prihatin terhadap minimnya perhatian Pemerintah pada pembangunan dan pemeliharaan museum. Menteri juga menekankan bahwa liburan keluarga harus dimulai dengan berkunjung ke museum, Presiden sudah memberikan arahan bahwa program revitalisasi museum paling lambat sudah dapat diselesaikan pada bulan Oktober 2012. Secara keseluruhan dalam masa lima tahun, revitalisasi museum akan dilakukan pada 84 museum di 33 propinsi. Revitalisasi museum akan difokuskan pada peningkatan kualitas pelayanan dan pengelolaan museum-museum.
Satu program yang menurutku unik adalah ide dibangunnya obyek wisata sejarah dan momentum program ini adalah dibangunya museum Jenderal Soedirman di Pakis Baru Jawa Tengah. Mengapa menarik? Karena Indonesia bisa mengembangkan banyak hal untuk dibuat sebagai obyek wisata. Jika ini berhasil maka bisa dibayangkan betapa banyaknya ‘situs-situs’ sejarah yang dapat dijadikan obyek wisata sejarah. Misalnya, ….(cari contohnya). Namun demikian, mimpi besar itu tidak akan pernah terwujud jika masyarakat dan utamanya pemda ikut serta secara aktif mencari, membangun, dan memelihara obyek-obyek wisata yang ada didaerahnya. Jangan ada lagi berita tergusurnya sebuah situs sejarah karena akan dibangun sebuah pusat perbelanjaan modern di daerah.
Indonesia secara geografis terdiri dari ribuan pulau sehingga seharusnya fokus pembangunan wisata utama Indonesia adalah wisata bahari plus tempat-tempat tenggelamnya kapal-kapal pedagang atau kapal-kapal perang kerajaan. Indonesia sudah mulai melakukan kerjasama dengan negara-negara yang telah melakukan underwater archeology, untuk menemukan dan mengangkat lebih banyak lagi situs-situs yang berada di bawah laut, atau jika tidak memungkinkan maka perlu dilakukan studi apakah memungkinkan untuk membangun perlindungan benda cagar budaya atau benda sejarah di bawah laut.
Pukul 18.30 aku sudah berada di jalan menuju rumah.





