Terapi Alternatif
Suatu hari aku lewat jalan Proklamasi pertigaan Megaria, disana terpampang baliho (iklan) seorang pemuda ganteng (hehehe…boleh dong) sedang in action memperagakan salah satu jurus kungfu dengan latar belakang gambar seekor naga sedang ‘ngulet’ (walah apa sih ngulet…???) Ya…pokoknya seperti itu…kalau ngga percaya silahkan melintasi daerah itu.
Siapa dia? Aku ngga usah memberitahu namanya lah…yang pasti baliho itu memberitahukan keahlian si pemuda ganteng itu sebagai penyembuh alternatif. Yang menarik perhatianku salah satu dari deretan keahliannya adalah terapi perawan. Hehehe…aku kan langsung berpikiran jahil…lha terus diapain? Kira-kira yang dateng (pasien) siapa aja? Apa aja motivasi mengikuti terapi itu? Wahh…pokoknya jahil deh…alhasil aku cuma senyum-senyum sendiri (untung ngga ada yang lihat)
Maksud tulisanku kali ini bukan untuk memanjakan pikiran jahilku itu, tapi cuma sekedar mencermati perkembangan kemampuan para penyembuh alternatif itu. Kok, sepertinya makin lama makin canggih. Pernah suatu kali aku ketemu dengan seorang teman singkat cerita dia sedang dalam pengobatan alternatif yang menurut dunia kedokteran dia menderita kanker otak, dia menjalani pengobatan alternatif terintegrasi. Hmmm…apa maksudnya? Hehehe…kata integrasi itu adalah kesimpulanku aja. Intinya adalah dia menjalani terapi totok, terapi tusuk jarum, terapi herbal, dan terapi obat (kedokteran) semua itu dilakukan oleh satu orang penyembuh alternatif; nah itu yang aku simpulkan dengan kata integrasi.
Dari obrolanku dengan teman itu, aku menyimpulkan bahwa sesungguhnya kita diberikan kuasa untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri, jika…hanya jika kita merawat tubuh kita. Hehehe…itu mah gampang…eit ternyata ngga gampang. Pertama, aku percaya betul dengan kalimat bijak ‘hati yang gembira adalah obat yang mujarab’ Nah…lo…gampang-gampang susah atau memang susah. Kedua, tahukah kita jika struktur pencernaan manusia itu mirip dengan struktur hewan memamahbiak? Itu artinya, asupan makanan kita sebaiknya sayuran dan biji-bijian. Ketiga, nah ini yang klise (bagi sebagian besar orang yang sibuk) istirahat yang cukup. Hehehe…klise kan. Untuk yang ketiga, ada sebuah kata bijak ‘segala sesuatu ada waktunya’. Semoga bermanfaat.









pernah juga saya dapatkan wejangan seperti ini:
Penyembuh terbaik adalah diri kita sendiri. karena dalam diri kita sudah dilengkapi dengan “zat antibody”. Selanjutnya,
semangat untuk sembuh adalah 70% dari kesembuhan itu sendiri.
selanjutnya lagi,
yang perlu perhatikan dalam diri kita berkaitan dengan kesehatan adalah :
Pola makan
pola nafas
pola tidur
dan pola pikir.
salam
@siyoyo:
Halo siyoyo, saya setuju sekali bahwa segala sesuatu tentang diri kita seharus kita sendiri yang mengetahuinya, karena kitalah yang diberi wewenang oleh Sang Pencipta untuk merawatnya.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.
Salam damai,
Henny L