Refleksi Akhir Tahun 2009

Waktu terus berlalu, dan tak mungkin kita kembali ke waktu yang telah lalu. Tinggal dua hari tersisa dalam ruang waktu yang berlabel 2009. Sesungguhnya di dunianya ini jika kita mengamatinya, setiap benda, setiap masa, setiap orang memiliki ciri khas atau penanda khusus. Demikian pula tahun 2009. Coba kita renungkan, dengan melakukan perjalanan batin kembali ke Januari 2009, apa saja yang kita maknai di setiap bulan sepanjang tahun 2009.

Ya…Telah banyak yang kita lalui, telah banyak yang kita alami, bahkan telah banyak yang kita abaikan. Serangkai kalimat bijak mengatakan “Tuhan memakai suka duka yang kita alami untuk kebaikan kita” Namun jika kita cermati apakah benar setiap duka yang kita alami untuk kebaikan kita atau justru itu adalah sebuah ‘ganjaran’ dari kebodohan atau kecerobohan kita. Kita juga harus kritis bahwa tidak semua kesusahan yang kita alami merupakan ujian dari Tuhan. Hmm…kalau bingung aku akan beri contoh: Seorang ibu menggandeng anaknya menyeberang di jalan Sudirman kemudian tertabrak. Sang anak meninggal dunia, nah apakah kemalangan yang dialami sang ibu adalah ujian dari Tuhan?

Kita tidak perlu memperdebatkan apakah jawaban pertanyaan tersebut. Aku??? Oh…aku sudah memiliki jawaban sendiri. Ya…maksud tulisanku ini adalah waktu yang tinggal dua hari ini bisa kita gunakan untuk mengkalkulasi berapa banyak kebodohan yang telah kita lakukan, seorang teman mengatakan bahwa keputusasaan selalu berwajah mengenaskan. Bagi aku keputusasaan tidak selalu berwajah tragis (mengenaskan), ya…bagiku ketika bisa memaknai setiap hal yang kita alami maka wujud keputusasaan bisa berwujud kepasrahan. Ya, kepasrahan adalah wujud penyerahan diri kita sebagai manusia pada sang Pencipta, bahwa kita memiliki keterbatasan, tapi diberi peluang untuk meminta kebijakan pada sang Sumber Kebijakan. Justru perbedaannya antara keputusasaan berwajah tragis atau tidak terletak pada, apakah kita memakai peluang itu atau tidak. Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Your comment