Kasih Mula-Mula

Ketika kita pertama kali mengenal Tuhan dan kemudian memutuskan untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita, rasanya kita ingin mempersembahkan seluruh hidup kita bagi Tuhan. Begitu banyak janji yang kita berikan pada Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak kesulitan hidup dan kekecewaan yang kita hadapi, apakah kita masih memiliki cinta yang meluap-luap pada Tuhan seperti ketika pertama kali kita mengucapkan ‘ya dengan segenap hati’ di hadapan jemaat Tuhan di gereja?
Saya teringat ketika berdiskusi dengan sahabat saya tentang topik ini, bahwa mengikut Tuhan itu sebenarnya sangat sulit. Mengapa? Karena semua hal yang kita lakukan harus diatas standar moral tertinggi yang pernah dibuat oleh manusia. Ambil misal, perumpamaan ditampar pipi kanan berikan juga pipi kiri kita, atau definisi kasih dalam surat satu Korintus. Bagaimana kita bisa tidak marah ketika berkali-kali kita diperlakukan tidak adil? Bagaimana kita bisa bersabar melihat kesalahan berulang terjadi? Inilah yang saya katakan bahwa standar nilai atau moral yang Tuhan minta dari umat tebusannya adalah tinggi, lebih tinggi dari standar hukum moral manusia. Tapi bisakah kita melakukannya? Jawabnya, bisa.
Bagaimana caranya? Berlatih, ya, berlatih untuk tetap berada dalam lingkaran kasih mula-mula. Melatih hati dan pikiran kita tetap tertuju pada kasih mula-mula yang kita wujudkan dalam ucapan ‘ya dengan segenap hati’. Sulit, memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Paulus saja masih tetap memikul salib kesombongan dalam dirinya, dan setiap saat doanya adalah kerendahan hati.
Bagaimana menurut anda?
sumber gambar: google image









Betul-betul tidak mudah…Karena kekecewaan dalam hidup, merasa diperlakukan tidak adil itulah yang membuat cinta pada Tuhan rasanya luntur. Walaupun jauh di lubuk hati tahu benar Tuhan tidak mungkin meninggalkan kita., tetap ada perasaan negatif yang menyelimuti hati dan pikiran kita, bahwa kita mengalami ketidakadilan dalam hidup mungkin karena dosa awal dan dosa dari orang tua atau pendahulu kita. Apa karma itu ada? Anyway, thanks for sharing this.. mengingatkan kita untuk berlatih, berlatih dan berlatih..
Betul Clementina Dewi, mengikut Tuhan itu tidak mudah. Karma? Saya tidak begitu mengenal arti dan makna kata itu, namun ada tertulis …hukum tabur tuai; atau …pikullah kuk yang Kupasang…maka bebanmu menjadi ringan…
Terima kasih Clement, bukankah kita harus saling mendukung…
Salam Damai,
Henny
thx uda berkunjung ke duniapsikologi.dagdigdug.com
maaf, baru bs membalas coment anda,, blog anda telah saya cantumkan di daftar blogroll dunia psikologi, semoga link exchange bisa menjadikan bisa mempermudah berkomunikasi dan informasi.
terima kasih, fitri
Terima kasih kembali fitri, semoga kita bisa memberi warna dunia psikologi Indonesia.
Salam hangat,
Henny