Aku Cinta Indonesia Walau…
Tulisan ini merupakan tanggapan atas kunjungan salah seorang teman virtual ke blog ini dan memberikan komentarnya yang sangat berharga, mengapa berharga? Karena isi komentarnya merupakan ungkapan “gerundelan” atau “keresahan hati” kita semua. Beberapa waktu yang lalu saya memuat tulisan berjudul “Aku Orang Indonesia” Pada tulisan inilah teman saya memberikan komentar berharga tersebut.
Teman saya menuliskan kerisauannya tentang bagaimana mengembalikan rasa nasionalisme yang sudah terkikis, bagaimana bangsa kita begitu direndahkan oleh bangsa lain…
Membaca komentar beliau, saya teringat pengalaman ketika masih bertugas di salah satu bank swasta dan diberikan kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris dengan seorang native speaker bergelar Ph.D. Kelompok belajar kami hanya 4 orang, kegiatan belajar sangat menyenangkan karena guru kami pandai mengelola suasana belajar sedemikian rupa sehingga kita lupa bahwa kita sedang belajar bahasa.
Terlepas kepandaian guru kami, ada beberapa hal yang tidak saya sukai darinya. Dia sering menunjukkan sikap atau perkataan yang tidak menghargai orang lain meskipun dia membuatkan seolah sebuah gurauan atau lelucon (sayangnya ketiga teman saya yang lain tidak menyadarinya) Awalnya saya kira dia memang mempunyai karakter seperti itu, tapi lama kelamaan saya merasakan adanya sentimen kebangsaan.
Kejengkelan saya akhirnya memuncak ketika suatu saat kami mendiskusikan sebuah kebijakan Pemerintah, dan kembali guru kami ini memberikan tanggapan (ditelinga saya itu merupakan sebuah sindiran yang merendahkan martabat saya sebagai bangsa Indonesia) Yang saya ingat adalah dia menanggapi bahwa kebijakan tersebut jauh dari perilaku bangsa yang beradab (civilized) Kata atau kalimat sejenis sering dia ungkapkan baik dalam diskusi, atau sekedar berkomentar tentang makanan Indonesia. Saat itu saya sudah pada batas toleransi saya dan melihat kelagat ketiga teman saya tidak memberikan argumentasi, maka saya menanyakan alasan dia berpendapat seperti dan segera kami berdua terlibat diskusi yang cukup seru meskipun bahasa Inggris saya masih terbata-bata.
Pengalaman saya yang lain, ketika sedang membeli sebuah peralatan elektronik di salah satu perbelanjaan mewah seorang warga negara lain berkunjung ke toko tempat saya membeli, selang waktu lima menit dia mengeluarkan kamera dan asyik memotret barang-barang yang ada di toko tersebut termasuk label harganya. Saya mendekati petugas toko dan menanyakan apakah pengunjung diperbolehkan untuk memotret isi toko, jawabnya tidak boleh. Saya bertanya, kenapa tidak menegur pengunjung itu, jawabnya dia tidak berani. Saat itu juga saya mendekati warga negara lain tersebut, dan menegurnya bahwa dia tidak diperbolehkan untuk memotret. Saya sungguh terkejut dengan tanggapannya, dia bilang tunjukkan aturan mana yang tidak membolehkan saya memotret, dengan nada marah saya mengatakan etika pergaulan yang menyuruh anda berlaku sopan untuk meminta ijin dahulu, apakah anda tidak belajar hal tersebut?
Dari kedua pengalaman itu kita dapat menarik kesimpulan, siapakah yang dapat menghargai diri kita kalau tidak kita sendiri? Dengan apa kita dapat melakukannya? Pendidikan, saya tidak mengatakan pendidikan formal. Pendidikan membuat kita berpengetahuan. Bukankah kita sejak kecil mendapatkan didikan dari orangtua? Didikan bahwa kita harus berlaku jujur, berpikir lurus.
Mengapa kita membiarkan rasa nasionalisme kita terkikis hanya karena:
1. pejabat-pejabat kita korupsi
2. kondisi ekonomi kita belum kunjung pulih
3. mengekspor tenaga kerja setingkat kuli
4. kemacetan lalu lintas yang semakin parah
5. …(silahkan menambahkan daftar ini)
Tidakkah semua itu Indonesia kita, kita berteriak kencang menghujat para koruptor sementara kita sendiri sering datang ke kantor tidak tepat waktu, bukankah itu juga bentuk korupsi. Kita berteriak perekonomian kita parah, tapi kita tidak suka berbelanja di Tanah Abang atau pasar Jatinegara, kita lebih nyaman berbelanja di Carefour, Giant. Kita selalu mengarahkan jari telunjuk kita kepada orang lain sementara kita tidak menyadari bahwa ketiga jari yang lain mengarah pada diri sendiri.
Bangsa kita direndahkan oleh bangsa lain, persoalannya adalah karena kita mau direndahkan. Apakah anda mau? Saya tidak, dan saya sudah membuktikan dengan pengalaman saya tersebut.
Semoga bermanfaat.









ya saya setuju dengan kecintaan anda kepada indonesiaku.
kita harus menjaga martabat kita sendiri
kita harus menuruti aturan (disiplin).
sopan, santun dan bijak
Terima kasih atas kunjungan sebelumnya di bulan April, tetnang kisi-kisi UNAS. Oh iya… Indonesiaku memang harus kita jaga, semoga bom yang terjadi barusan mengingatkan kita semua akan Indonesia sebagia milik bersama, bukan milik individu…
@ Nurdin: Terima kasih kembali, atas kunjungan balasannya….(he…he…kayak kunjungan kenegaraan aja)…terus berkarya di bidang pendidikan ya..Mas Nurdin…
@ Jabar: segala sesuatu dimulai pada diri kita sendiri mas…terima kasih atas kunjungannya…
Wah…. thanks Mbak sudah mau membangkitkan rasa nasionalisme Kita
Cintailah Indonesiakoe…..! peace and freedom tentunya…
Tulisan Mbak inspiratif.
Terima kasih kembali mbak,
hanya ini yang bisa saya lakukan untuk bangsa kita
salam kenal ya mbak…
Mampir Bu..
Wah betul sekali, seringkali saya merasa geram melihat perilaku diskriminasi terhadap orang asing. Tidak sedikit mereka diperlakukan lebih tinggi daripada kita hanya karena mereka mampu berbahasa Inggris secara fasih. Padahal kan canggihan kita ya, bisa bahasa Indonesia dan Inggris
Akan tetapi, kecintaan terhadap negeri juga sebaiknya tidak bertepuk sebelah tangan Bu
bagus tulisannya untuk membuat warga Indonesia makin mencintai Indonesia
I LOVE U FULL INDONESIA
@Ancilla dan Damar Wulan: terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.