Pertaruhan Iman
Hari ini pengumuman hasil Ujian Nasional jenjang sekolah menengah pertama, ketegangan sudah meliputi suasana hati anak-anak dan orangtua mereka sejak awal minggu, dan hari ini merupakan puncak ketegangan itu, tidak terkecuali para guru. Salah seorang sahabat saya, dia seorang guru SMP meski dia berusaha tidak menampilkan wajah tegang tetap saja suaranya terdengar sedikit bergetar ketika saya meneleponnya dan menanyakan kenapa tidak berada di sekolah.
Segera saja dia menceritakan sumber kegelisahannya adalah menunggu hasil kelulusan satu orang muridnya yang bernama Yosua. Yosua dikenal sebagai salah seorang siswa yang tidak begitu pandai, seluruh tubuhnya dipenuhi sakit kulit, dua kombinasi yang cukup membuat diri seorang anak tampil rendah diri. Saya mengenal sahabat saya sebagai pribadi yang tegas, kuat dan percaya diri, sehingga dia tampil sebagai sosok yang cenderung kelihatan acuh. Namun ketika dia memberi perhatiannya pada salah seorang, maka memang orang tersebut sedang membutuhkan pertolongan. Itu saya yakini setidaknya sepanjang usia persahabatan kami yang sudah cukup lama.
Kembali ke siswa yang bernama Yosua, dalam kesehariannya Yosua tampil cukup pendiam dan tidak aktif dalam berbagai kegiatan meskipun bentuknya olahraga sekalipun. Sikap ini menimbulkan rekan-rekan di sekolah juga mendiamkan Yosua. Sebagai guru mata pelajaran yang mengajar di kelas 9, sahabat saya sudah memberikan perhatian pada Yosua, dia meminta semua rekan kelas 9 memberikan dukungan dan bantuan, lucunya ketika siswa-siswa kelas 9 menanyakan apa kira-kira yang bisa kita bantu buat Yosua, sahabat saya ganti bertanya, menurut kamu apa yang bisa kamu lakukan untuknya? Cari sendiri jawabannya ya.
Seminggu setelah percakapan itu, ditengah keacuhannya sahabat saya ini tetap mengawasi perilaku siswa kelas 9, dan pada hari kesepuluh seorang siswa menghampiri sahabat saya sambil menyodorkan sebotol kecil obat kulit, dan mengatakan bahwa saat ini yang paling dibutuhkan Yosua adalah membersihkan kulitnya sehingga rasa gatal akan hilang, kalau gatalnya hilang pasti Yosua bisa belajar lagi. Sambil menahan senyum, sahabat saya menyuruh siswa itu menyampaikan sendiri pada Yosua.
Sejak itu Yosua terlihat asik berkumpul dengan siswa-siswa kelas 9 yang lain, terlihat ada beberapa anak yang mau membantunya belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan. Sahabat saya memang menekankan pada semua siswanya, bahwa jika mereka belum pulang dan menunggu jemputan maka tugas mereka di sekolah adalah mengerjakan semua pekerjaan rumah yang diberikan pada hari itu, setelah semua selesai mereka dibebaskan untuk melakukan kegiatan apa saja selama ada di lingkungan sekolah.
Tibalah minggu-minggu menjelang ujian nasional, suatu pagi Yosua menunggu kedatangan sahabat saya didepan pintu gerbang sekolah. Melihatnya berdiri dengan gelisah, sahabat saya menyapanya. Yosua dengan wajah putus asa mengatakan bahwa dirinya pasti tidak bisa mengerjakan soal-soal ujian dan pasti dirinya tidak lulus. Sambil memegang erat pundak Yosua, sahabat saya memberikan penguatan, bahwa jadwal ujian nasional masih dua minggu lagi dan Yosua masih memiliki waktu untuk belajar, belajarlah dengan tekun, tanyakan apa yang tidak kamu tahu, belajarlah lagi, pergunakan waktu sebaik-baiknya dan selama kamu melakukan itu teruslah berdoa karena TUHAN yang menciptakan dirimu, menciptakan isi kepalamu. Ingatlah ketika kamu sudah memulai ini, jangan pernah kamu berani berbuat curang alias mencontek. Kamu sanggup Yosua? Sanggup, demikian janjinya. Yosua berbalik melangkah menuju kelasnya meninggalkan sahabat saya yang masih termenung dalam lantunan doanya, TUHAN jangan biarkan anak ini hilang ketika dia sedang belajar berjalan lurus dan membangun imannya padaMU.
Hari pertama ujian nasional, kembali Yosua terlihat menunggu di depan pintu gerbang sekolah. Kali ini wajahnya tampak tenang, dia menghampiri sabahat saya sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat masih tertutup rapat. Katanya itu pemberian salah seorang kakak alumnus tapi pagi yang isinya jawaban soal-soal ujian. Kenapa kamu menerima lalu memberikan ke saya. Yosua menjawab, bahwa dia diajarkan tidak boleh menolak pemberian seseorang, dan karena ini adalah jawaban soal ujian, maka Yosua memilih sahabat saya ini yang pantas “menjaga” amplop itu agar tidak bocor atau tercecer. Sedikit bergetar tangan sahabat saya menerima amplop cokelat tersebut, sambil menatap Yosua penuh haru. Yosua tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dan mohon agar sahabat saya memberikan dukungan doa, hanya anggukan yang sanggup diberikan sahabat saya sebagai balasannya.
Kenapa kamu sekarang yang jadi pengecut, ngga berani datang ke sekolah mendampingi anak-anak itu mendengarkan pengumuman kelulusannya? Saya menanggapi di ujung telepon. Lama tidak terdengar sahutan. Halo? Aku ngga sanggup menghadapi wajah Yosua kalau dia ternyata tidak lulus. Lidahku pasti kelu ngga bisa kasih penguatan lagi. Aku sendiri ngga sanggup, apalagi memberikan pertolongan. Eh, sebentar aku putus ya, ada telepon masuk. Kami segera mengakhiri percakapan itu.
Lima belas menit kemudian telepon genggam saya berdering, dari sahabat saya. Segera terdengar jeritnya…lulus…lulus…dia lulus…aku masih merinding mendengar celotehnya Yosua dengan suara penuh percaya diri memberitahuku tentang kelulusannya. Meski dia kayaknya kecewa tuh, aku ngga ada di sekolah. Udah dulu ya, ada telepon masuk lagi nih, telepon ditutup. Saya terdiam penuh ucapan syukur, terima kasih TUHAN ENGKAU sudah memberikan tiga orang anak manusia ASA yang besar bahwa pertaruhan iman kami tidak sia-sia.
Semoga bermanfaat.
sumber gambar: google









ass. warahmatullah…tulisan anda bagus…anda cocok menjadi penulis novel….tapi saya tidak melihat adanya hubungan antara headline tulisan anda dengan substansi tulisan anda…sekali kali mampir di blog saya…saya tunggu ya
Waallaikum sallam…
Terima kasih atas kunjungannya dan pujiannya. Hal itu akan saya jadikan minyak untuk membakar semangat saya untuk menjadi penulis yang baik.
Ada tertulis, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibr 11:1). Nah, mas Budi kalimat bijak itulah yang saya jadikan dasar dari tulisan tersebut.
Salam damai,
Henny L