Menulis dengan Suka Cita
Segala sesuatu jika kita kerjakan dengan minat, maka hal yang kita kerjakan akan lebih mudah diselesaikan, demikian pula dengan menulis. Banyak buku tentang kiat menulis lebih banyak berisi tentang membangun motivasi pembacanya untuk melakukan kegiatan menulis, karena pada dasarnya kita bisa menulis (he..he..tentunya bagi rekan-rekan yang minimal telah menyelesaikan sekolah dasar pasti bisa menulis). Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, apakah rekan-rekan sudah tahu arti kata minat? Lho, barangkali saja ada. Mengapa saya menanyakan hal ini? Karena ada pengalaman nyata tentang sekumpulan orang yang menyukai menulis tapi masih belum memahami perbedaan antara tulisan fiksi dan nonfiksi. Agar kita tidak terjebak dalam asumsi yang salah, saya memberikan informasi bahwa arti minat menurut KBBI adalah keinginan, ketertarikan, perhatian, hobi, kegemaran, kesenangan, kesukaan. Nah, sudah jelaskan arti minat.
Sebenarnya para penulis buku tersebut ingin membangun minat para pembacanya untuk menulis, caranya ya, dengan memberikan motivasi. Coba rekan-rekan perhatikan daftar isi buku-buku mereka, hampir dipastikan sebagian besar berisi motivasi dan sebagian kecil lainnya adalah teknis atau tips menulis. Saya memiliki dua orang mentor untuk menulis, dan keduanya selalu memberikan dorongan dan semangat ketika tulisan-tulisan saya mereka baca. Beruntung saya memiliki dua orang mentor dengan karakter yang sangat berbeda. Yang satu sangat lemah lembut, yang satunya lagi eksentrik, kombinasi ini membuat saya tetap bersemangat untuk produktif menulis. Memang saya masih belum memiliki keberanian untuk menulis sebuah buku, tapi suatu saat saya pasti memiliki buku karangan saya sendiri.
Jadi menulislah dengan suka cita, ketertarikan kita terhadap sesuatu dapat kita jadikan batu pijakan dan api semangat untuk memulai sebuah tulisan. Jika rekan-rekan memperhatikan isi tulisan di blog ini, pasti dapat menebak minat saya dibidang apa saja. Jika saya diminta untuk menulis tentang pohon palem, sudah dapat dipastikan saya akan menemui kesulitan untuk memulai menulis. Mengapa? Karena saya tidak memiliki ketertarikan terhadap jenis tanaman, jika dipaksakan menulis, maka seluruh proses menulis yang akan saya jalani merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Rekan-rekan yang ingin menulis, maka mulailah menulis tentang hal-hal yang kita kenal dan senangi, maka kemungkinan besar akan menjadi sebuah tulisan. Apakah tulisan itu baik (menurut kaidah bahasa Indonesia) itu perkara yang lain lagi. Fokusnya, rekan-rekan dapat menuangkan hal-hal yang disenangi dalam sebuah tulisan.
Bagaimana menurut anda?
sumber foto: google
Powered by






memang mbak, kalau kita menulis dengan kondisi mood baik lebih mudah dalam arti kayaknya diotak itu mengalir begitu aja. cuma, memang kalau kondisi lagi bad mood pun, saya kadang bisa kok menuangkan ke-bad mood-an saya….
salam kenal
WM (writing mania)
halo writing mania,
memang kalau kita sudah merasakan bahwa menulis adalah bagian dari hidup kita, maka kondisi apapun kita pasti bisa menuangkan sebuah tulisan.
salam hangat
Henny
Menulis dengan suka cita… hmmmm… mungkin saya menterjemahkannya menulis dengan tidak rasa terpaksa. Dan memang minat ini menulis dengan suka cita ini tidak dimiliki semua orang walaupun sebenarnya setiap orang mampu menulis (tapi terpaksa hehehe…) Untuk yang bersukacita mungkin tangannya sudah gatal kalau tidak membuat kreasi pada hari tersebut
Aku tunggu bukunya ya
Yep, memang itu yang saya maksud Fem. Banyak orang menulis terpaksa karena….(titik-titiknya dapat diisi berbagai alasan), tapi sedikit yang menulis dengan tidak terpaksa itupun karena….(hanya satu alasannya, karena pengen menulis)
Menerbitkan buku, hmm…itu agendanya masih ngarep dot com, he…he…maksudku masih rencana jangka panjang.