Mengapa Harus Menulis?
Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan pada Wall Facebook hal tentang menulis. “Menulis bagi saya merupakan kegiatan mengukir sejarah, paling tidak sejarah diri saya sendiri. Tulisan saya (apapun bentuknya), adalah bukti sejarah yang akan saya tinggalkan ketika saya pulang menghadap Tuhan” Kemudian ada teman yang menanyakan kepada saya bagaimana caranya menulis. Bingung juga menjawabnya, saya hanya mengatakan tulis aja apa yang mau kamu tulis. Lalu dia menjawab kalau mau menulis tentang kuliner atau perjalanan wisata karena dalam pekerjaannya sering mengunjungi banyak tempat. Ok, kalau gitu tulis aja tentang itu, karena kamu tertarik pada kedua bidang tersebut. Kembali dia bertanya, tapi gimana caranya?
Dari chatting tengah malam itu mengingatkan saya ketika keinginan menggebu-gebu untuk menulis tapi tidak ada ide yang ingin dituangkan atau ada ide tapi ngga tahu cara menuangkan dalam bentuk tulisan, rasanya memang menjengkelkan persis seperti ekspresi teman saya tadi. Seorang mentor saya pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa yang membedakan manusia dengan mahluk ciptaan TUHAN lainnya adalah kemampuan manusia untuk menulis (he…he…jangan kaget ya, beliau memang terkenal sebagai motivator yang seenak perutnya untuk memberikan motivasi menulis). Mengapa hanya manusia? Karena hewan menggunakan otaknya hanya untuk mengolah insting saja, sedangkan dalam otak manusia terjadi proses berpikir, mengolah data yang masuk melalui panca inderanya hasil pengolahan itu menghasilkan sebuah pemikiran yang biasanya diberi nama ide atau gagasan. Misalnya, dijalan kita melihat seorang pengamen jalanan sedang beraksi di samping mobil yang sedang berhenti di lampu lalu lintas. Kita mengamati gayanya bernyanyi, kemudian tanpa disadari mulai mengamati caranya memegang gitar ternyata kidal, dia mengenakan sandal jepit yang berbeda warna, dan mulai mengolahnya. Kenapa kok sandalnya bisa beda, apa dia tadi terburu-buru pergi untuk ngamen, atau memang hanya sepasang sandal itu yang dia punya, hasil mengais ditumpukan sampah, terus kalau gitu dari mana dia mendapat uang untuk membeli gitar, atau dia menyewa, lalu uang hasil ngamen sebagian disisihkan untuk membayar sewa, dan masih banyak lagi proses berpikir dari hasil mengamati tersebut. Sayangnya banyak diantara kita (termasuk saya) yang tidak terlatih untuk menuangkan dalam bentuk tulisan. Ide atau gagasan yang seharusnya bisa dijadikan sebuah cerpen, lalu begitu saja karena kita tidak terbiasa untuk menuangkan ke dalam tulisan. Kita sudah kehilangan sebuah kesempatan , ide atau gagasan dibiarkan lenyap. Jadi yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan menulis.
Jika melihat fakta bahwa otak manusia diciptakan untuk melakukan sebuah proses berpikir dan akibat dari proses tersebut melahirkan gagasan atau ide, sudah sepantaskan kalau manusia itu memang harus menulis. Secara fisik tanda itu sudah TUHAN berikan diatas telapak tangan kita sebuah pola lipatan telapak tangan yang sangat mirip dengan huruf M, dan saya mengartikan dengan MENULIS. Jadi, kegelisahan yang saya alami beberapa waktu yang lalu atau teman saya kemarin adalah sesuatu yang wajar atau natural. Demikian banyaknya gagasan atau ide yang dimiliki teman saya, tapi menemui kesulitan bagaimana caranya menuangkannya dalam tulisan. Saya berjanji padanya untuk mencoba menuliskan di blog ini tentang tips-tips menulis, terus terang saya malu juga mau menulis tentang tips-tips, lha wong saya sendiri masih belajar untuk membuat tulisan yang baik, bagaimana saya mengajarinya? Tapi kata salah satu buku tentang menulis, kita menulis harus disertai dengan rasa percaya diri. Oke, saya akan menepati janji saya untuk membuat artikel tentang seputar menulis. Motivasi menulis kali ini dalam rangka menunaikan kewajiban sebagai manusia ciptaan ALLAH yang diberi otak untuk berpikir dan menulis. Saya berharap tulisan ini mulai memberikan semangat buat teman yang rindu untuk menulis, masak sih kita sama dengan para “pemikir insting” itu?
Bagaimana pendapat anda?
Powered by









Saya setuju dengan mba henny..memang benar setiap manusia diberikan kemampuan untuk menulis karena kita termasuk makhluk yang berpikir, tapi masalahnya tinggal bagaimana upaya kita mengasah kemampuan menulis tersebut dan apakah kita sendiri punya keinginan untuk menulis. Saya juga seorang penulis mba henny..cuma bedanya keinginan saya menulis baru sebatas kewajiban karena jobdesc saya memang harus menulis..tapi keinginan untuk menulis berdasarkan pengalaman sendiri dan di share ke orang lain belum tertanam dalam diri saya..sulit rasanya memulai….dan memang saya butuh tips-tips dari mba henny..thanks mba henny..
Halo Andina,
Pertama saya mengucapkan terima kasih kamu sudah mengunjungi dan memberikan komentar di blog pribadi saya. Wah, hebat andina, kamu sudah menjadi penulis profesional. Tinggal memupuk motivasi untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebutuhan.
Salam hangat
Henny
Menulis memang susah-susah gampang, buat orang yang terbiasa mungkin mudah, tapi bagi yang tidak biasa seolah jadi sulit sekali.
Yang sudah terbiasa pun kadang terhambat oleh ide yg ‘mandek’.
Saya juga mulai membuat blog dengan tujuan bagi berkat buat banyak orang, walau masih belum rutin dan kadang isinya seperti buku harian, seperti pendapat mbak Henny, saya mau meninggalkan sejarah mengenai diri saya sendiri.
Mengenai Tips, saya tunggu loh mbak… saya mau belajar tips dari mbak Henny..
Salam