Blogdiary
Saya mengenal diary ketika saya di sekolah menengah pertama, ketika itu saya harus pindah sekolah pada kuartal pertama. Saya masih ingat halaman pertama buku diary itu berisi unek-unek hari pertama masuk di lingkungan sekolah yang baru. Sebenarnya sih, unek-unek itu saya tulis di halaman belakang buku catatan bahasa Inggris, karena pada waktu itu sudah ngga tahan pengen cerita, cuma sama siapa? Saya belum kenal dengan siswa-siswa di sekolah baru tersebut, maka sepanjang pelajaran yang dipimpin Bu Wahono (saya masih ingat kan nama guru bahasa Inggris tersebut) saya menulis dengan ‘tekun’ diary pertama saya. (he..he..mungkin pada waktu itu Bu Wahono begitu terkesan melihat saya demikian perhatian…maafkan saya ya bu…) Sejak itu semua hal-hal yang saya amati dan bagaimana saya bergaul dengan teman-teman baru menjadi bahan tulisan yang menarik dan tentu saja saya tidak menuliskan pada buku catatan pelajaran, saya membeli buku diary pertama berwarna biru muda dilengkapi dengan kunci pengaman. Wah, masih ingat ya…tapi saya sudah tidak ingat dimana sekarang buku diary itu.
Kita tidak pernah membayangkan bahwa 20 tahun kemudian sebuah media yang namanya blog muncul dan menjadi fenomena yang spektakuler karena pertumbuhan jumlah pemilik blog yang semakin meningkat setiap saat. Bukankah, blog pada awalnya memang dijadikan semacam jurnal pribadi atau diary buat pemiliknya, sebelum di kenal apa yang namanya internet marketing? Kita beruntung dengan adanya blog ini dan menjadikan blog sebagai blogdiary, kenapa? Karena tulisan atau unek-unek kita ada yang kasih komentar, ya meskipun bermacam-macam isi komentarnya (bisa mendukung, bisa juga malah menyalahkan) tapi kan yang penting ada yang kasih tanggapan. Itulah bedanya buku diary dengan blogdiary.
Jika saya kaitkan tulisan ini dengan tips menulis, maka mulailah menulis kegiatan sehari-hari atau apa yang kita rasakan ke dalam tulisan tentu lebih mudah. Tulis saja seperti kita berbicara atau ngedumel tentang sesuatu hal. Tidak ada yang larangan tho? Yang penting kita menulis dan menulis. Salah seorang mentor saya mengatakan bahwa menulis itu seperti naik sepeda, masih ingatkan betapa kita ingin sekali bisa naik sepeda. Saya masih ingat, pertama kali saya belajar naik sepeda menggunakan sepeda pinjaman teman saya namanya saya masih ingat lho, Ita… Setiap sore setelah mengerjakan pe er sekolah, saya diperbolehkan mama untuk main ke rumah Ita dan belajar naik sepeda. Pernah terjatuh? Sering…bahkan bekas luka dilutut sampai saat ini masih terlihat meski sudah samar-samar. Nah, jika hal itu dipraktekan dengan menulis maka, kita harus bertanya seberapa besar sih keinginan (baca: motivasi) kita untuk menulis, semakin besar keinginan maka semakin giat pula kita berlatih menulis.
Bagaimana menurut rekan-rekan?
Sumber foto: google





