Asa, Sumber Hidup
Betapa kagetnya aku ketika suatu Senin siang seorang teman memberi kabar duka, seorang teman mencoba mengakhiri hidupnya. Seketika kenangan masa kuliah menyergap, masa itu aku sedang tugas di salah satu hotline service tepat jam 00.00 telepon berdering, diseberang sana terdengar suara seorang gadis dengan suara tersendat mengatakan sepertinya dia ingin mengakhiri hidupnya. Jantungku serasa berhenti berdetak, sama seperti yang aku rasakan siang itu.
Kenapa? Kata itu yang bergema dipikiranku, bertalu dihatiku. Akhir pekan aku dan beberapa teman alumnus sekolah menengah mengadakan acara reuni kedua yang diadakan di daerah puncak, sebelumnya kami bereuni di salah satu rumah makan. Kami mengisinya dengan bermacam acara bahkan aku berpasangan dengan temanku ini mengikuti sebuah permainan dan memenangkannya. Keceriaan mewarnai wajahnya sepanjang acara, meski sedikit pertanyaan menggelitik hatiku (feeling kali ya…) dan berusaha melontarkan pertanyaan yang menggelitik itu. Hasilnya, feelingku meleset.
Keterkejutanku utamanya mungkin karena ego-ku barang kali, apa yang membuatnya demikian lelah sehingga merasa asa sudah tidak ada. Ya, bagiku manusia bisa bertahan hidup karena ada asa, ada harapan sehingga manusia terus berjuang untuk menjalani sisa hidupnya. Terus terang aku tidak berhak menilai temanku ini, tapi inilah ungkapan apa yang aku rasakan. Hari itu aku serba salah, ngga bisa langsung menjenguk dia ke rumah sakit, jadwal kerjaku padat sekali awal minggu itu. Aku hanya bisa melantunkan doa, Tuhan beri temanku ini setitik harapan lagi untuk kembali menjalani hidup yang berharga yang masih KAU berikan. Amin.
sumber gambar: google








