Aku Orang Indonesia
Masihkah saya bangga menjadi warga negara Indonesia? Pertanyaan itu mengganggu pikiran saya selama 3 bulan terakhir ini. Tidak, bukan itu ternyata yang mengganggu. Rasa sedih dan prihatin yang mendera hati sehingga timbul pertanyaan itu. Sedih karena apa? Tidakkah kita sedih mendengar kabar bahwa setiap 2 tahun kita kehilangan 2 bahasa suku, maksud saya ada 2 bahasa suku bangsa yang punah? Tidakkah kita sedih mendengar kabar bahwa beberapa naskah kuno peninggalan kerajaan Melayu Tua berhasil dibeli, sekali lagi dibeli oleh negara tetangga kita yang terhormat Malaysia, sebagai bahan legitimasi bahwa Malaysia is The Truly Asia. Tidakkah kita sedih melihat sedikit demi sedikit tarian-tarian indah Melayu, Jawa, dan Bali lebih dikuasai oleh warga negara lain dibandingkan warga negara Indonesia sendiri?
Saya bukanlah orang yang anti modernisasi atau globalisasi, tidak, saya justru mendukung hal itu karena memang perubahan dan perkembangan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tetapi seiring dengan perubahan dan perkembangan itu ada sesuatu yang hilang sedikit demi sedikit, dan kita tidak menyadarinya. Apa itu? Karakter, jati diri, identitas kita sebagai warga bangsa yang bernama Indonesia yang dibangun oleh (bukan diatas) keragaman budaya, keragaman bahasa, keragaman hasil budaya lainnya. Itu yang terkikis sedikit demi sedikit. Dalam tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa budaya adalah akar bangsa ini. Indonesia dibangun oleh budaya-budaya agung yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.
Modernisasi dan globalisasi jangan membuat kita menjadi gagap terhadap diri kita sendiri, satu contoh yang saya maksud dengan gagap disini; suatu hari saya bertemu dengan teman semasa SMA setelah ngobrol sana sini bernostalgia entah darimana akhirnya pembicaraan mengalir ke arah buku, teman saya ini sedang memburu novel berseri yang bercerita tentang kehidupan cinta bangsa vampire dan bangsa manusia (ya…tentu kita sudah tahu semua novel yang sedang digandrungi hampir semua warga dunia yang kemudian novel ini diangkat menjadi sebuah film layar lebar) Teman saya dengan antusias bagaimana dia terobsesi dengan tokoh-tokoh dalam cerita itu, dasar saya jahil, ditengah-tengah cerita saya bertanya pernah dengar atau baca novel karya Mas Langit Kresna, sejenak dia terdiam…pertanyaan saya lanjutkan (wong saya masih jahil mode on) oke deh, pernah baca novel triloginya almarhum Romo Mangun, lagi-lagi dia terdiam…(jahil mode off) sekarang giliran saya yang tersenyum (hati saya menangis) kemudian memintanya melanjutkan cerita. Contoh tersebut kalau boleh saya katakan itulah bagian yang tanpa kita sadari sedikit demi sedikit terkikis.
Kesadaran inilah yang kita butuhkan, kesadaran bahwa seiring dengan modernisasi dan globalisasi ada sesuatu yang akan hilang jika kita tidak segera sadar dan memperbaikinya. Bagaimana caranya? Gak usah muluk-muluklah, mulailah dari diri kita sendiri. Akar budaya saya adalah Jawa tepatnya Yogyakarta, kami sekeluarga (kedua orangtua, dan adik-adik) sedang melakukan pembelajaran pada keponakan saya (sampai saat ini masih satu-satunya) tentang budaya Jawa dan budaya Indonesia. Koleksi buku cerita atau cakram digital (cd) kami lengkapi dengan cerita-cerita lokal semacam Ciung Wanara, Cindelaras, Batu Menangis, Banyuwangi, dan semacamnya. Tujuannya adalah selain dia mengenal tokoh Putih Salju atau Cinderela, dia juga akrab dengan tokoh dalam cerita rakyat. Kami sekeluarga bercita-cita kelak ketika dia dewasa, dengan bangga dia mengatakan saya orang Indonesia.
Bagaimana menurut rekan-rekan?
Tulisan ini telah dimuat di: HOKI (Harian Online Kabar Indonesia)









Waktu kecil saya suka sekali ngendon di toko buku saat menemani Mama belanja. Saya pasti ke rak yang mendisplay cerita-cerita rakyat yang buat saya bagus-bagus kala itu. Memang dari segi kemasan tidak lebih bagus daripada buku-buku komik pengarang dari luar, tetapi tentu saja itu yang mudah saya baca, mengingat saya juga belum lancar bahasa Inggris waktu SD kelas 1 hehehehe…
Saya sih merasa banyak pihak yang berkepentingan dalam melestarikan kebudayaan juga belum maksimal untuk mencoba melestarikannya. Ya upaya itu ada tetapi kelihatannya setengah-setengah. Coba lihat bagaimana mudahnya kita sekarang memperoleh komik dan cerita dongeng dari negara lain dibandingkan dari Indonesia, kalaupun ada kemasannya tidak seapik yang lain sehingga tidak menumbuhkan minat dan inisiatif secara massal (kecuali Mbak Henny yang berinisiatif sendiri).
Mungkin kebudayaan kita harus mengglobal dulu baru masyarakatnya sendiri bangga akan kebudayaannya sendiri. Selama hanya berkutat di lokal terus mungkin masyarakat akan gengsi untuk ingin melestarikannya. Sementara jika kita melihat tarian kita ada di luar negeri yang ada rasa bangga dan mengklaim sebagai punya kita tetapi mungkin itu juga akibat kesalahan sendiri yang tidak menghargai sehingga dicaplok dan dihargai oleh orang lain. Akibat ada kasus seperti ini barulah kita kebakaran jenggot melihat kebudayaan kita yang bagus itu ternyata sudah mengglobal, yang tersisa kebanggaan tetapi tidak dapat memiliki, mudah-mudahan tidak terlambat untuk disadari ya
Dear Mbak Henny
Yang jadi kerisauan Saya dan mungkin jutaan orang lainnya… bagaimana mengembelakikan rasa nasionalisme yang tampak sudah terkikis… diluar sana.. bangsa ini begitu direndahkan oleh bangsa lainnya…
Mas Agus, pertama saya mengucapkan terima kasih atas kunjungannya dan komentar yang diberikan. Sesungguhnya nasionalisme kita tetaplah ada, jika kita mau memeliharanya…saya akan membuat tulisan sebagai tanggapan atas komentar ini.