Menjadi Orangtua
Ketika seorang pria dan wanita memutuskan untuk menikah tentunya mereka sudah mempersiapkan diri dari segi mental dan non-mental. Saya tidak membicarakan pasangan yang menikah karena “terpaksa”. Semua anggota keluarga pihak pengantin pria maupun wanita merasakan kebahagiaan yang dirasakan pasangan pengantin ini, mereka memberikan doa dan restu agar rumah tangga baru yang dibangun oleh pasangan ini memperoleh kebahagiaan dan segera mendapatkan keturunan. Jika kita bertanya pada seseorang, ‘mengapa menikah’, maka hampir sebagian besar jawaban yang kita terima adalah untuk mendapatkan keturunan atau mempunyai anak. Tujuan pernikahan memang melanjutkan keturunan; persoalannya adalah ketika pasangan suami isteri akan mempunyai anak, apakah mereka sudah mempersiapkan diri dari segi mental…terutama…menyambut kehadiran seorang anak manusia; sama baiknya ketika mereka mempersiapkan pernikahan mereka.
Pasangan suami isteri akan berbahagia ketika mengetahui akan memperoleh anak. Kembali suasana kebahagiaan dirasakan seluruh anggota keluarga besar pasangan tersebut. Semua persiapan dilakukan sebaik mungkin terutama dalam hal memilih nama, membeli dan membaca buku tentang persalinan atau tumbuh kembang anak, membeli peralatan dan perlengkapan bayi. Persiapan mental tampaknya kurang mendapat perhatian, utamanya mulai dibangunnya kerjasama pasangan suami isteri dalam mendidik si jabang bayi ini. Mungkin akan timbul pertanyaan, ‘bagaimana mungkin mendidik janin’, ya…pernahkah mendengar kata bijak “mendidik anak sejak dalam kandungan”. Bagaimana caranya…mulailah dari cara yang paling mudah, ajaklah si jabang bayi dalah segala aktifitas kita, bicaralah dengannya, ketika hati kita sedang jengkel atau gundah minta maaflah karena dia sesungguhnya juga merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu dan ayah. Inilah tahap yang dinamakan menjalin ikatan batin dengan si anak. Ketika hendak makan, ajaklah dia makan, atau menjelang tidur malam hari ajaklah dia tidur. Mudah bukan…, Pola asuh yang mulai diterapkan sejak dalam kandungan akan membawa manfaat ketika anak telah lahir, dia sudah terbiasa dengan segala kegiatan dan waktu yang telah di ‘latih’ kedua orangtuanya, tentu saja kuncinya pola hidup kedua orangtua juga harus teratur. Pertanyaannya bagaimana kalau pola hidup orangtua tidak teratur…saya hanya bisa mengatakan…mulailah belajar hidup teratur bersama calon anak anda.
Pola pengasuhan tidak hanya melibatkan orangtua tapi seluruh anggota keluarga dalam hal ini kakek nenek dan kerabat terdekat orangtua. Mengapa ini penting…sesungguhnya pola pengasuhan anak merupakan kewajiban utama dari kedua orangtua, sedangkan keluarga terdekat memberikan dukungan terhadap pola asuh yang mulai dibentuk atau dibangun. Sebagian besar ungkapan kasih sayang yang diberikan oleh kerabat (kakek nenek, om tante) biasanya mengaburkan pendidikan disiplin yang mulai diterapkan orangtua pada anak. Contoh akan memperjelas pernyataan diatas, anak sulit makan teratur, masalah ini umum terjadi. Orangtua biasanya mengambil jalan pintas yaitu memberikan susu sebagai pengganti makanan, kebiasaan tidak baik ini terus berlangsung hingga anak tumbuh menjadi balita (yang seharusnya dia sudah mulai belajar memakan makanan keras) kakek nenek atau om tante biasanya mendukung keputusan orangtua dengan alasan yang sama agar anak bisa tenang (tidak rewel). Atau ketika orangtua sedang mencari jalan keluar agar anaknya mau belajar makan makanan diluar susu, kakek nenek tidak mendukung usaha yang dilakukan orangtua dengan alasan yang sudah disebutkan. Atau ketika orangtua sedang memberikan tindakan disiplin pada anak, kakek nenek memberikan perlindungan. Pola asuh yang saling bertentangan antara ayah ibu atau kerabat dekat yang lain (kakek nenek) akan membuat anak menjadi bingung, mana yang harus dipatuhi; anak cenderung belajar menilai sikap orang dewasa yang mana dirasanya membuat nyaman; ketika pola pikir ini terbentuk dalam diri anak, maka pendidikan disiplin akan sulit untuk ditanamkan.
Tulisan ini saya buat dengan dasar pemikiran bahwa menjadi orangtua itu tidaklah mudah apalagi menjadi orangtua yang baik. Dibutuhkan kesadaran, kerelaan, pengorbanan dan kerjasama dari kedua orangtua dan orang-orang disekitarnya untuk ikut memberikan pendidikan yang baik bagi anak. (HL)
Semoga membantu.
Powered by Qumana








