Dr.Michaela Quinn MD (DQMW)
Dokter Michaela Quinn… ada yang pernah mendengar nama itu…hmm..coba deh diingat-ingat…
Oke…kali ini saya mencoba menuliskan kembali kisah dokter wanita pemberani ini. Yang pasti dia bukan orang Indonesia, dari namanya sudah mencerminkan bahwa dia orang dari negeri seberang nun jauh di benua yang pernah ditemukan oleh pelaut kebangsaan Spanyol – Cristoforus Colombus. Michaela Anne Quinn lahir di Boston Massachusetts 13 Februari 1833, sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara pada awalnya ayahnya Dr.Josef Quinn sangat mengharapkan anak ke-5 adalah laki-laki, makanya dipersiapkan nama Michael, namun karena yang nongol ternyata perempuan juga akhir ditambahlah huruf “a” pada nama Michael menjadi Michaela sebagai kompromi. Keluarga Quinn merupakan keluarga terpandang di kota Boston, letak rumah mereka di daerah Beacon Hill’s fashionable Louisburg Square. Sebagai anak perempuan yang lahir pada awal abad 19 dimana tradisi bahwa perempuan yang “terhormat” adalah perempuan yang terampil dan menguasai dunia kewanitaan yaitu rumah tangga masih menjadi pola asuh utama, Michaela mengalami dualisme pola asuh dari kedua orangtuanya. Elizabeth Anne Quinn ibunya, bersikeras mendidik Michaela menjadi perempuan “terhormat” di Boston tanpa memberikan ruang bergerak, namun sebaliknya Josef Quinn mendidik Michaela dengan memberi kebebasan lebih dibandingkan ke-4 anak perempuannya yang lain untuk mengembangkan diri sebagaimana layaknya masyarakat pada waktu itu mendidik untuk anak laki-lakinya. Nama kecil “Mike” untuk Michaela jelas menggambarkan bagaimana Josef Quinn ingin anak perempuannya ini tumbuh tegar dan kuat sebagaimana anak laki-laki. Perbedaan pola asuh ini membuat Mike tumbuh menjadi anak perempuan yang selalu “membangkang” dimata ibunya, dan menjadi anak perempuan yang selalu “membanggakan” dimata ayahnya. Dimata Mike, sang ibu selalu memandang suaminya terlalu memanjakan Mike, namun bagi Mike, sang ayah hanya memberinya kebebasan lebih untuk menjadi dirinya sendiri.
Josef Quinn sudah memperkenalkan Mike dengan buku sejak masa kanak-kanak. Pesan ayahnya yang selalu diingat Mike adalah “Books open your mind”. Tidaklah mengherankan jika Mike sangat dekat dengan buku-buku karangan Dickens, Ralph Waldo, dll. Josef Quinn merupakan sentral kehidupan bagi Mike, setiap langkah kehidupannya selalu terarah mengikuti jejak sang ayah. Pilihan untuk tetap melanjutkan sekolah sampai tingkat universitas dan mengambil program medis merupakan langkah yang sangat kontraversial pada jaman itu. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi penolakan serta tekanan dari sang ibunda dan lingkungan masyarakat Boston, namun Mike tetap bersemangat melangkah dengan berbekal semangat dari sang ayah. Mike sempat ditolak ketika melamar ke beberapa universtas yang membuka program medis hanya karena mereka tidak menerima mahasiswa perempuan, namun akhirnya Mike diterima di Women’s Medical College of Pennsylvania dan pada tahun 1860 dengan predikat sangat memuaskan terutama dalam melakukan diagnosis, mengenali detail tanda-tanda penyakit dan mendisripsikan penyembuhannya.
Keberhasilannya dalam menyelesaikan studinya dan mendapatkan gelar MD (Doctor of Medicine) tidaklah diikuti dengan keberhasilan dalam memulai karirnya sebagai seorang dokter wanita. Pada jaman itu posisi seorang dokter wanita hanya dapat diterima bekerja pada 3 tempat, yaitu panti asuhan, rumah sakit jiwa, dan rumah penampungan. Bagi Mike hal itu tidaklah mengejutkan karena sepanjang masa studinya dia mengisi waktu senggangnya mendampingi Dr.Josef Quinn mengunjungi pasien-pasien di tiga tempat tersebut, dari sanalah kemampuan Mike dalam mengenali penyakit dan melakukan diagnosa mulai terbentuk dan semakin terasah. Selama hampir tujuh tahun Mike bekerja sebagai partner sang ayah di klinik mereka, sampai akhirnya Dr.Josef Quinn meninggal dunia karena serangan jantung. Kematian yang sangat tiba-tiba ini sangat mengguncang Mike… pada saat yang sama dia kehilangan ayah, mentor, partner kerja, teman dan pembimbing.
Mike menghabiskan waktunya di ruang kerja ayahnya, sebulan seiring kematian ayahnya, pasien mereka satu demi satu menghilang. Apa yang harus aku lakukan sekarang ayah….Mike mengeluh dalam hatinya sambil mengamati stateskop milik ayahnya. Pintu ruang dibuka seseorang, seorang perempuan tua dengan postur elegan namun memancarkan aura “memerintah” yang sangat kuat, wajahnya terlihat gusar.
“Cukup Michaela… ayahmu sudah pergi demikian pula pasien-pasiennya”, Elizabeth menyapa dengan nada penuh teguran.
“Mereka juga pasien-pasienku..bu!”, sahut Mike.
“Ayahmu sudah beristirahat tenang, demikian pula mimpi-mimpimu”
“Bu..saya seorang dokter, dan itu bukan mimpi.”
“Kau TIDAK akan diterima di TEMPAT ini, Michaela.”
“Kalau begitu ada TEMPAT lain yang akan menerima saya.” Mike segera meninggalkan ruang itu. Selalu saja berakhir dengan pertengkaran jika aku berbicara dengan ibu. Aku merindukanmu … ayah.
Malam itu Mike tidur dengan gelisah, mimpi-mimpinya dipenuhi dengan pertengkaran dengan sang ibu. Jauh dilubuk hatinya, Mike sangat ingin ibunya ikut bangga dengan apa yang sudah dilakukannya, melihat dia dengan apa yang dimiliki bukan apa yang harus dilakukan. Wajah sang ayah hadir dalam mimpinya malam itu, senyuman manis dibalik rimbunya jenggot sang ayah dan mata teduhnya segera menenangkan tidur Mike. “Mike…ketika semua pintu tertutup, masih ada jendela yang terbuka.” Mike tidur dengan wajah damai.
Sudah seminggu Mike menyibukkan diri mencari iklan di surat kabar Boston Globe, dan akhirnya mendapatkan bahwa Daerah Colorado membutuhkan seorang dokter. Seminggu berikutnya Mike sibuk dengan membaca jurnal-jurnal kedokteran koleksi ayahnya. Rebbeca beberapa kali mencoba mengajaknya pergi keluar rumah selalu ditolaknya dengan sopan. Ya…hanya dengan Rebbeca kakak tertuanya Mike merasa dirinya dimengerti, sedangkan Majorie, Claudette, dan Maureen selalu memandangnya dengan mata penuh teguran. Siang itu, Mike sedang tenggelam dalam bacaannya Jurnal Kedokteran di ruang perpustakaan pribadi, ya..hanya ruang ini yang dapat memberinya kenyamanan.
“Maaf…Miss Michaela,” sebuah suara menyapanya
“Oh…maaf..ya Martha..ada apa.” sahut Mike agak terkejut.
“Sebuah surat untuk anda Miss.” Martha menyerahkan sebuah sampul surat coklat.
“Terima kasih, Martha.” tersenyum Mike sambil segera membuka surat tersebut.
Kami sudah menerima surat proposal yang anda kirimkan, dan sepertinya kota kami membutuhkan seorang dokter dengan kualifikasi seperti yang anda miliki.
Powered by Qumana








