Belajar Menulis Lagi, tentang Gastro
Menjelang berakhirnya bulan Maret, saya ingin menambahkan postingan di blog ini. Sudah lama saya tidak aktif lagi menulis jadi kaku lagi….he…he… memang benar pepatah mengatakan ala bisa karena biasa – segala sesuatu harus dilakukan terus menerus sehingga kita bisa menguasainya. Ya..tidak apa, saya akan memulai lagi dari bawah untuk kembali belajar menuangkan apa yang pernah, sedang, dan akan saya pikirkan; tentang hidup dan kehidupan disekitar saya.
Sejak bulan Januari 2009 mama saya keluar masuk rumah sakit. Sumber sakitnya adalah gastro erosiva (lambung yang teriritasi kronis) berakibat pembuluh darah dilambung mudah sekali berdarah, sedikit demi sedikit darah keluar dari lambung mengakibatkan fases (kotoran) menjadi hitam. Pendarahan yang perlahan ini mengakibatkan tekanan darah (hb) menjadi turun. Untuk mengetahui sumber pendarahan, dokter menyarankan untuk menjalani endoskopi saluran pencernaan biasanya disebut gastrocopy, small intestine, dan colonoscopy. Ketiga macam endiskopi memang harus dilakukan untuk melihat kondisi lambung (gastro), usus kecil/halus (small intestine), dan usus besar (colon).
Selama hampir 3 bulan mendampingi mama, saya mengamati pasien-pasien yang berobat jalan maupun rawat inap, hampir sebagian besar mengalami sakit yang sama – gastro dan dari semua pasien gastro 75% dialami oleh pasien yang berusia produktif (25-40 tahun). Kalau kita berangkat dari pemikiran bahwa sumber penyakit lambung adalah cairan asam lambung terlalu banyak diproduksi, maka apa yang saya amati di rumah sakit dapat menjadi cerminan kondisi pola hidup atau gaya hidup masyarakat kota Jakarta.
Meskipun pemikiran saya ini jauh dari layak untuk dikatakan sebagai pemikiran ilmiah, tapi paling tidak saya sudah memanfaatkan isi kepala saya untuk mengolah hasil pengamatan saya dan informasi yang saya terima seputar penyakit gastro ini (selama 3 bulan). Kembali ke pola hidup atau gaya hidup orang Jakarta dapat kita golongkan menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Menunda makan atau makan tidak teratur
Orang dengan pola hidup seperti ini biasanya para pekerja muda yang suka menunda jam makan mereka, dengan pekerjaan sebagai alasan. Akibatnya perilaku ini menjadi kebiasaan yang tanpa mereka sadari secara perlahan-lahan kondisi lambung tidak sehat. Pada umumnya mereka akan menderita iritasi gatro ringan atau yang biasa disebut sakit maag. Tapi jika ini berkelanjutan, mereka akan mengalami perut kembung yang berkelanjutan.
2. Kebutuhan hidup yang tinggi
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan standar yang semakin tinggi di Jakarta juga menjadi beban tersendiri bagi sebagian besar warga Jakarta. Dalam hal ini banyak warga Jakarta yang terpacu untuk memenuhi keinginannya dan bukan kebutuhannya, sehingga terjadi ketidakteraturan dalam pola hidupnya untuk mengejar pemenuhan keinginannya tersebut. Beban ini juga dapat memicu kondisi lambung menjadi tidak sehat.
Kembali pada kondisi kesehatan mama, meskipun saat ini beliau sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit namun tetap harus mengubah pola hidup lebih tepatnya adalah belajar untuk sedikit mengurangi beban pikirannya sebagai orang dengan karakter perfeksionis. Hal ini mungkin cukup sulit untuk dilakukan, namun saya percaya dengan dukungan kami sekeluarga mama dapat mengubah karakter yang dimilikinya menjadi lebih tenang. Pada kondisi kritis biasanya saya selalu mengingat sebuah ungkapan bijak “When the door is closed then the window must be opened” ; kesempatan kedua selalu terbuka bagi siapapun.
Semoga bermanfaat.
(HL)








