Journey

Bepergian buat sebagian orang merupakan kegiatan yang menyenangkan, namun tidak buatku. Bepergian bagiku berarti meninggalkan kenyamanan ruang kamar plus kehilangan waktu yang banyak aku habiskan di depan komputer untuk membaca dan mencari hal-hal yang baru.
Kali ini aku mendapat tugas kantor untuk mengunjungi Nusa Tenggara Barat tepatnya ke kota Mataram dan Sumbawa. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan pergi sejauh itu. Hmmm…terus terang paling jauh aku pergi ke unjung timur pulau Jawa alias Surabaya.
NTB bagiku hanya sebatas pengetahuan, baik itu kondisi geografis, budayanya, bahkan makanan khasnya yang terkenal Madu Sumbawa dan Susu Kuda. Untuk memompa semangat agar perjalananku terasa menyenangkan, aku mulai memikirkan apa saja yang akan aku kunjungi selain daftar tugas yang sudah diberikan.
Tiba di bandara Selaparang, aku langsung menuju ke hotel yang sangat nyaman di daerah Senggigi, aku mengucap syukur bahwa aku dibolehkan untuk menyaksikan Pantai Senggigi yang konon merupakan pantai tandingan selain Kuta – Bali. Dan memang pantai Senggigi jauh lebih bersih, ombaknya lebih tenang, dan air lautnya masih jernih. Untung aku menyediakan waktu untuk menikmati pantai ini sampai matahari terbenam, sebelum aku disibukan oleh jadwal kegiatan kunjungan yang padat.
Selama 3 hari berada di NTB, hal yang paling tidak menyenangkan adalah cuacanya yang sangat panas, lebih panas dibandingkan Jakarta, mungkin karena kondisi geografisnya yang merupakan daerah pantai dan terdiri dari padang-padang stepa. Bahasa daerahnya menurut aku sangat indah, dan tidak mudah bagiku untuk mencari kesamaan kata dalam bahasa Indonesia. Kota Mataram sebuah kota kecil dan kondisi bangunan dan jalan-jalannya mengingatkan aku pada kota tua Semarang. Aku juga mengunjungi daerah Banyumulek dan Sekarbela, tempat para pemahat kayu dan pengrajin mutiara. Terus terang aku tidak mempunyai referensi tentang mutiara, aku baru mendapatkan dari para pengrajin dan peternak mutiara bahwa ada jenis mutiara hitam, putih, dan emas.
Masyarakatnya meskipun mayoritas Muslim, namun dengan mudah kita dapat melihat banyak pura yang berdiri dan didirikan dihalaman rumah warga yang beragama Hindu, sungguh sebuah pemandangan yang harmoni, doaku semoga tidak ada hati yang jahat untuk mengusik keharmonisan mereka.
Hari ke 2 aku meneruskan perjalanan ke pulau Sumbawa. Hal pertama yang harus dilakukan adalah kita menuju ke pelabuhan Labuhan Lombok memakan waktu 2 jam perjalanan dari kota Mataram, kemudian kita menggunakan kapal feri untuk menyeberang dengan waktu 2 jam, sampai di Maluk kita harus berjalan 2 jam lagi menuju kota Sumbawa Besar. Disini aku mengunjungi Istana Tua Dalam Loka peninggalan Kerajaan Bima yang telah berusia lebih dari 125 tahun, Istana ini sedang mengalami pemugaran total, menurut petugas yang aku temui, pemugaran ini sudah berlangsung sejak tahun 2005 sampai saat ini masih belum selesai, bahan baku utamanya adalah kayu jati gelondongan. Aku juga berkesempatan bertemu dengan keturunan langsung Raja Bima, seorang putri yang sudah berusia 89 tahun dan tidak lelah belajar, saat ini beliau sedang menempuh pendidikan Doktor Ilmu Budaya, namanya..he..he..terus terang aku lupa.
Dari kota Sumbawa Besar, aku langsung menuju bandara Selaparang untuk kembali ke kota tercinta Jakarta, jam 17.00 tiba di Soekarno-Hatta dan sudah disambut dengan kemacetan lalu lintas Jakarta.
Powered by Qumana






he..he..he.. komentar pertama.. tampilan blognya baru ya….
kedua.. mana oleh2 madu sumbawanya…. ketiga.. I miss u… muah… he..he..he…
Jadi pengen jalan2.. hu..hu..hu….
journeynya akan lebih lengkap kalo picnya diperbanyak..:)
salam
koq buku tamunya gak bisa diakses lagi?
uda gak terima tamu nih?
padahal musim hujan gini enaknya bertamu sambil ngopi
salam