Refleksi Idul Fitri
Hari Raya Idul Fitri telah memasuki hari kedua, satu bulan yang lalu kaum muslim mengumandangkan seruan rindu dan gembira…Marhaban ya Ramadhan…selamat datang bulan yang suci dimana Tuhan memberi kesempatan bagi umat muslim untuk menempa iman dan taqwa sebagai cerminan kecintaan mereka pada Allah.
Sehari yang lalu, kembali seruan gembira dan haru terdengar setelah kaum muslim menyelesaikan ibadah puasa di hari ke 30…Allah Maha Besar…terdengar seruan gembira penuh kemenangan…..
Hari Kemenangan ini ditandai oleh sebagian masyarakat Indonesia dengan melakukan mudik, melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman, memang sebagian besar masyarakat tinggal di kota besar seperti Jakarta, Medan, dll. Masyarakat Indonesia pada umumnya terbentuk dengan sistem nilai kekerabatan yang kental, sehingga kegiatan bersilaturahmi merupakan kegiatan pokok dalam Perayaan Hari Idul Fitri, saling mengucapkan permohonan maaf dan saling memaafkan dari orangtua kita, adik-kakak, kerabat dekat, sampai semua penduduk di kampung atau setiap orang yang tinggal di komplek perumahan kita. Di komplek perumahan orangtua saya, kegiatan ini dilakukan dengan memenuhi jalan utama komplek perumahan dan saling bersalaman sambil berjalan berkeliling.
Mudik asik kalau kita sudah sampai ke tempat tujuan, tapi kalau masih diperjalanan apalagi hari-hari akhir menjelang Idul Fitri…wah ngga janji kalau saya harus menempuh perjalanan seperti itu. Di media televisi saya menyaksikan betapa para penumpang bis, kereta api bahkan pesawat terbang nampak berjejalan di terminal, stasiun dan bandara. Belum lagi saya saksikan mudik menggunakan sepeda motor bahkan bajaj, bisa dibayangkan betapa melelahkan dan berbahayanya….namun mereka rela menempuh “badai” itu untuk mudik, bersilaturahmi dengan sanak saudara handai taulan. Malam ini saya mendengar penyiar salah satu radio swasta melakukan wawancara dengan Direktur Polda Metro Jaya menanyakan perkembangan para pemudik terutama jumlah kecelakaan yang terjadi dan upaya preventif yang telah dilakukan sejak H minus 6 sampai H plus 6. Dilaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan berkurang dari 48 orang-2007 menjadi 24 orang-2008, namun ragam kecelakaannya meningkat dari 120 kasus-2007 menjadi 280 kasus-2008.
Bagi saya apapun gambaran statistik yang disampaikan tetap terjadi kecelakaan dan memakan korban baik materi maupun jiwa. Bagaimana solusi membenahi masalah sarana transportasi di negeri kita yang ruwet ini, menunggu respon Pemerintah untuk memperbaiki sarana transportasi…seperti menunggu godot, melarang pemudik menggunakan sepeda motor…kok rasanya tidak adil, wong harga tiket sangat muaahaalll, mengurangi jumlah pemudik….weleh lebih ngga mungkin lagi lha wong MUDIK itu sudah tradisi je…demi ngebekti dan silaturahmi pada orangtua…. jadi bagaimana….akankah kita menyanyikan lagu Ebiet G Ade….”tanyakan pada rumput yang bergoyang…”
Apapun bentukmu dan kondisimu….KAU tetap INDONESIAku….negeri elok amat ku cinta….tanah tumpah darah ku yang mulia ….. yang ku puja spanjang masa….
Powered by Qumana








