Moment’s with My Brother
Aku kelas 5 SD, adikku berusia 5 tahun
Mama membangunkan aku, kulirik jam menunjukkan pukul 02.10, mama kelihatan cemas,
“Ada apa Ma”, kataku masih mengantuk
“Bangun, temani Mama, adikmu dari sore panasnya belum turun…, sekarang kamu temani Mama menjaganya sudah 1 jam dia mengigau…Mama takut”, sahut Mama dengan nada cemas
Aku berjalan lambat menuju kamar Mama, kulihat adikku masih tertidur dengan gelisah kulihat kain kompres masih terletak didahinya. Duh..kenapa Papa pas ngga ada dirumah waktu adikku sakit, kasihan Mama. Malam itu di rumah hanya ada aku dan Mama menunggu adikku, Papa sudah 3 hari dinas keluar kota.
Setengah jam kemudian panas adikku makin tinggi dan dia kejang, Mama panik namun aku masih mendengar beberapa kali Mama berdoa dalam kepanikannya, aku pun tertular kecemasan Mama, masih berbarin di samping adikku aku mencoba berbicara dengan Mama
“Mama…apa yang bisa kita lakukan….kita ke dokter aja ya…” aku berusaha tegar tapi ada gelombang tangis dalam suaraku
“Besok pagi kita ke puskesmas, sekarang bantu Mama ambilkan minyak kayu putih di rak obat..cepat!!”, kata Mama
Aku meninggalkan Mama yang sedang membuka baju adikku, segera aku kembali membawa sebotol minyak kayu putih dan sebotol minyak telon. Segera Mama membalurkan seluruh badan tidak terkecuali kepala adikku dengan campuran kedua minyak tersebut dan membalutnya dengan selimut tebal, kemudian Mama mengangkat adikku dalam dekapannya sambil terus menggumankan doa yang tidak putus-putusnya. Aku menangis tanpa suara diujung tempat tidur, tidak tahu harus berbuat apa……. Mama sangat tabah dan tegar…sembuhlah adikku….begitu doaku….
Aku kelas 2 SMA, adikku kelas 1 SMP
Sore itu aku hendak mandi, seperti biasa sebelum mandi aku membantu Mama membereskan pakaian kotor yang hendak dicuci pembantu kami esok hari. Kutemukan secarik kertas di dalam saku celana seragam adikku. Kertas itu berisi tulisan adikku “aku bingung, uang SPP bulan ini sudah aku berikan, darimana aku dapat uang lagi…aku benar-benar bingung“. Tersentak aku membacanya, segera aku ingin mencari adikku yang sedang nonton TV di ruang keluarga, tapi aku menahan diri. Ngga, jangan sekarang aku harus mencerna dulu isi tulisan itu.
Sambil mandi aku terus berpikir, apa yang sedang dikerjakan adikku, pada siapa uang SPP itu diberikan, untuk apa, apa ada yang memalak adikku, pikiranku itu membuat aku menangis membayangkan hal itu terjadi pada adikku, untuk aku memasang shower dengan keras sehingga isak tangisku tenggelam dalam suara air pancuran. Akhirnya aku memutuskan untuk bicara padanya.
Kulihat adikku sedang asik menggambar salah satu model mobil keluaran terbaru tahun itu, adikku memang suka dan pandai menggambar, biasanya hal itu dia lakukan setelah menyelesaikan tugas sekolahnya. Aku mendekatinya.
“Ky, aku tadi menemukan ini di kantong celana seragam kamu, ada apa, tolong cerita,” kataku sambil menyodorkan secarik kertas yang kutemukan tadi.
Adikku tampak terkejut, mengalihkan pandangan dariku ke gambar yang sedang ditekuninya, terdiam. Aku ngga sabar.
“Ada apa kamu, ada yang malak?,” kataku dengan nada panik dan tidak sabar
“Ayo dong Ky…”
“Mbak, uang itu aku berikan ke temanku, ibunya sakit, aku bantu dia juga kok antar ibunya ke puskesmas, cuma tadi pagi temanku dipanggil Tata Usaha Sekolah karena dia belum bayar SPP, aku mau bantu lagi cuma aku ngga punya uang lagi…aku bingung…kasihan temanku itu.” Mendengar itu segera aku meraih kepalanya dalam pelukanku dan mengacak rambutnya, dia langsung protes.
“Kamu sudah cerita ke Mama Papa tentang hal ini?”
“Belum, aku takut dimarahin karena pake uang SPP.”
“O..jadi kamu tahu tho, kalau menggunakan uang SPP untuk hal lain itu salah.” Adikku menangguk sambil nyengir
“Sekarang kamu ceritakan semua itu ke Mama Papa, aku temenin.”
“Yah..besok aja deh, aku takut.”
“Eh..sekarang atau besok sama aja, yuk aku temenin.”
“Aku takut dimarahin…..mbak.”
“Lha..kan wajar kalau kamu dimarahin, wong kamu salah kok..”
“Iya…tapi…”
“Engga ada tapi,….yuk..sekarang.”
Kulihat adikku enggan melangkahkan kaki, aku menarik lembut tangannya memaksa dia menuju kamar Mama Papa.
Tanggal 11 Mei 1997; Aku sudah bekerja, adikku kuliah semester akhir.
Jam 21.00
Aku mendengar Papa menanyakan mengapa adikku belum kembali dari kampus; Mama memberitahu kalau adikku membantu Menwa menertibkan para mahasiswa yang sedang demo di kampusnya daerah Grogol. Adikku sudah minta ijin untuk pulang larut.
Jam 23.00
Aku mulai khawatir dan memberitahu kekhawatiranku pada Papa, sekaligus menegaskan kembali kegunaan handphone disaat genting seperti itu, msekipun handphone pada waktu itu masih dianggap barang mewah.
Jam 00.45
Telepon rumah berdering, aku mengangkat dan suara adikku memberitahu bahwa dia tidak bisa pulang, kondisi kampus genting, dan memberi peringatan padaku agar besok pagi kalau bisa tidak perlu ke kantor dulu. Aku mendesaknya untuk memberitahu yang sebenarnya terjadi, tapi dia hanya mengatakan bahwa pimpinan yayasan, rektor dan para dosen akan bertemu dengan mahasiswa. Sebelum menutup telepon dia hanya berpesan agar kami sekeluarga berdoa.
Tanggal 12 Mei 1997
Jam 08.00
Aku memutuskan untuk tetap ke kantor tapi memakai baju kasual dan sepatu tanpa high heel. Suasana kerja ikut terpengaruh suasana politik saat itu, kamu tidak bekerja, jam kerja kami isi dengan memantau perkembangan kondisi Jakarta lewat radio atau televisi yang tersedia di kantor.
Jam 09.00
Aku telepon rumah menanyakan apakah adikku sudah pulang, ternyata masih belum ada kabar terbaru.
Jam 09.15
Aku menerima telepon adikku, dia memberitahu kondisi demonstrasi di kampusnya sangat genting, di depan kampus sudah ada massa yang membakar ban bekas, dan sekelompok orang menyandera metromini dan mulai memecahkan kaca jendela, memang kudengar suara hiruk pikuk dibelakang suara adikku. Pesan adikku kembali disuarakan, mbak pulang kantor hati-hati dan tetap berdoa ya.. aku ngga apa-apa.
Jam 10.10
Terdengar berita sebuah SPBU di daerah Grogol dibakar massa …….. dan mulailah peristiwa besar dan memalukan itu terjadi.
Hari ini 12 Oktober 2008
Berbagai kenangan manis telah kita lalui, demikian juga semua perasaan telah kita rasakan, sedih, kecewa, bahagia, harapan dan impian, semua itu mematangkan jiwa kita.
Selamat ulang tahun adikku, semoga kamu menjadi orangtua dan kepala keluarga yang selalu memberi teladan bagi istri dan Nadine malaikat kecil kita.
Powered by Qumana






met ulang tahun juga dariku adiknya bu henny.. he..he..he…salam hangat dari mejaku…