Tutur Tinular – Mendongeng
Tulisan kali ini saya tidak hendak bercerita tentang cerita kerajaan Medang Kamulan, atau Padjajaran, ataupun berkisah tentang sepak terjang pendekar seperti Brama Kumbara dan Dewi Mantili.
Tutur Tinular bagi saya mempunyai makna kegiatan seseorang memberikan nasehat, petuah, nilai, moral melalui cerita pada seseorang atau sekelompok dan nilai yang terkandung dalam sebuah cerita akan diterima dan diteruskan kembali kepada orang lain atau kelompok lainnya. Entah pemaknaan ini benar atau tidak, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa negeri nusantara ini merupakan sebuah negeri dongeng. Mengapa saya berpendapat demikian?
Indonesia memiliki 583 bahasa dan dialek (BPS-1999) dan jumlah itu hampir mendekati jumlah suku bangsa yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Setiap suku bangsa memiliki cerita rakyatnya sendiri yang berkembang melalui budaya tutur. Kita ambil contoh suku Dayak di Kalimantan Timur, salah satu provinsi kita ini memiliki empat etnik mayoritas suku Dayak yaitu Rentenuukng, Tonyooi, Benuaq, dan Bahau. Mereka memiliki tradisi tutur yang disebut intootn. Melalui media inilah dahulu cerita rakyat Kalimantan Timur diturunkan kepada generasi mudanya. Masyarakat Betawi juga mengenal tradisi bertutur, kalau di Jawa Tengah dikenal dengan berbagai macam istilah, seperti macopatan, mocoan, kentrung; Masyarakat Nias mengenal tradisi hoho. Dari contoh kecil ini kita sudah dapat membayangkan betapa kayanya negeri nusantara ini akan cerita. Ini hanya bayangan, tapi coba kita tengok khasanah literatur kita, apakah kita sudah mendokumentasikan semua tuturan nenek moyang kita, apakah kita sudah meneruskan estafet pesan nilai dan moral dari setiap cerita pada anak-anak kita. Rasanya sih belum, kok belum? Jika kita datang ke sebuah toko buku, coba anda hitung berapa jumlah buku cerita anak yang berkisah tentang cerita rakyat nusantara. Berdasarkan data statistik jika terdapat 583 bahasa dan dialek maka jika dalam satu bahasa dan diumpamakan 1 bahasa mewakili satu suku bangsa terdapat 10 cerita rakyat maka jumlah keseluruhan cerita rakyat ada 5830; bandingkan dengan jumlah buku yang kita temui di toko buku.
Tradisi tutur selain memberikan nilai dan pesan moral, bagi saya merupakan media orangtua untuk memupuk budaya literatur (saya pernah menyingung mengenai hal ini pada tulisan terdahulu); Ketika orangtua mendongeng, anak mulai diperkenalkan dengan sebuah literatur meskipun dalam bentuk lisan. Hal ini menurut saya merupakan pintu gerbang bagi anak untuk mencintai bacaan yang pada akhirnya dia akan mencintai membaca, mencintai dan menghargai buku. Bukan kah kita sering mendengar keluhan orangtua bahwa anaknya tidak suka membaca, tidak suka buku, mereka lebih suka main game atau playstation. Dalam konteks ini saya dapat mengatakan bahwa sejak dini orangtua tidak meluangkan waktu dengan anak untuk mendongeng.
Saya bersyukur masih ada pribadi-pribadi seperti Poetri Soehendro dan Awam Prakoso, bagi saya mereka adalah pahlawan bagi anak-anak, karena dua pribadi ini sudah mau meluangkan waktu dan memberi hati untuk membuka pintu gerbang bagi anak-anak untuk mencintai bacaan dan menghargai buku. Alangkah baiknya jika orangtua juga mau memberi hati dan meluangkan waktu untuk mendongeng buat anak-anak mereka.
Poetri Soehendro

Awam Prakoso
Powered by Qumana





