Budaya Akar Bangsa
Bagaimana reaksi kita jika mendengar anak kita atau keponakan kita terheran-heran melihat baju tradisional Suku Dayak Kenyah Kalimantan atau baju adat Suku Dani Papua, dan mereka mengatakan “lho bukannya ini pakaian orang Indian?”. Kita bisa tertawa atau justru terdiam. Ya… kita sudah mulai menuai apa yang ditanam dalam dunia pendidikan kita khususnya pendidikan dalam keluarga. Berapa banyak keluarga yang mengisi waktu libur anak-anak mereka dengan mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah, Museum Nasional, Museum Tekstil, Museum Wayang, Museum Bahari?. Jangankan mengunjungi, mungkin letak beberapa Museum yang saya sebutkan banyak yang tidak tahu. Jika memang perilaku pendidikan keluarga kita sudah seperti itu, ya…jangan kaget kalau Negara jiran Malaysia tiba-tiba meng-klaim kalau lagu Rasa Sayange atau Reog Ponorogo merupakan bagian dari budayanya atau baju Batik yang diklaim sebagai pakaian nasional mereka. Jangan keburu kebakaran jenggot (bagi yang punya jenggot), kita coba berdiam sejenak dan merenung… mengapa bisa terjadi hal seperti itu? Bagaimana kita memelihara bahkan memperhatikan nilai-nilai budaya bangsa kita, kok sampai lolos?
Masalah budaya bagi saya, tidak hanya menyangkut lagu daerah, baju tradisional, tari daerah atau rumah adat, budaya Indonesia juga menyangkut pola pikir dan kebiasaan masyarakat bangsa ini . Bangsa kita yang dulu dikenal dengan bangsa yang ramah, tapi kini kita dikenal dengan bangsa yang brutal dan emosional plus predikat bangsa kuli (karena kita lebih banyak mengirim tenaga-tenaga kerja setingkat kuli dalam jumlah besar). Nilai filosofi seperti “andap asor” – rendah hati ; “sak madyo” – tidak serakah (maaf kalau saya menggunakan istilah Jawa, karena saya dibesarkan dalam budaya tersebut) dan saya kira setiap budaya di nusantara mempunyai unsur yang sama. Nilai-nilai yang saya sebutkan itu telah lama tergerus oleh hiruk pikuk budaya modernisasi yang tanpa ampun melanda bangsa kita. Mengapa nilai-nilai luhur ini tergerus? Masalahnya keluarga Indonesia sangat mengabaikan pola asuh dalam keluarga, terutama dalam penanaman nilai-nilai budi pekerti, dan juga budaya keluarga (maksud saya budaya dari ayah /ibu) contoh yang nyata adalah banyak keluarga yang tidak mengajarkan bahasa ibu (daerah) kepada anak-anaknya. Sehingga anak tidak mengenal akar budayanya.
Saya membayangkan Indonesia sebagai sebuah pohon Kalapataru, dimana akarnya yang banyak dan kokoh mencenggeram bumi. Pohon Kalpataru itu tumbuh kokoh jika akar-akar yang menopangnya pun kokoh.
Catatan:
Tulisan ini telah dimuat dalam HOKI (Harian Online Kabar Indonesia)
Powered by Qumana






Senang baca tulisanmu. pesan tulisan ini :Buat keluarga2x yang tidak mau menabur nilai-nilai budaya luhur, kelembutan dan cinta kasih kepada anak2x mereka, jangan heran kelak akan menghasilkan anak-anak masa depan yang hidup dengan budaya kekerasan dan tak punya akar budaya. Tulisan ini sangat inspiratif dan telah menambahkan pemahaman saya lebih mendalam. Thanks so much. JBU.
Terima kasih To..eh..Lae.., ini merupakan kerinduan saya sejak lamaaa…. sekali, saya bisa membuat sebuah tulisan yang paling tidak memberikan secercah cahaya bagi siapapun…yang mau membuka hati. JBU