Tulisan, Sejarah dan Peradaban
Kita sering mendengar bahwa didunia ini yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri, dan menurut saya perubahan itu terjadi karena peran tulisan. Perubahan yang saya maksud disini adalah perkembangan sebuah peradaban. Kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di jaman prasejarah, jika manusia pra-sejarah tidak menorehkan pada dinding batu atau gua tempat mereka tinggal ; kita tidak pernah tahu kegemilangan Majapahit, jika empu Prapanca tidak mengabadikannya pada lembaran-lembaran daun lontar dan pahatan prasasti.
Ya…tulisan membangun peradaban, seorang Prapanca tidak pernah membayangkan bahwa sekian ratus tahun kemudian orang menulis pada sebuah mesin yang bernama komputer, dia juga tidak membayangkan dengan ‘benda’ itu kita tidak perlu melakukan perjalanan berminggu untuk mendapat informasi dari suatu tempat. Demikian sebuah tulisan membangun peradaban, para programmer membangun sebuah software dengan menyusun huruf-huruf rumit yang biasa disebut ‘bahasa program’ – itu juga tulisan kan…?!
Sejarah mencatat bahwa sejak 1999, kegiatan tulis menulis di dunia virtual semakin meningkat dengan tersedianya blogger.com dan wordpress.com. Sejak itu, bisa dikatakan pertumbuhan personal blog sangat pesat, bahkan jumlahnya saat ini mungkin sudah mencapai jutaan. (saya tidak mendapatkan info yang pasti)Jika kita perhatikan, setiap blog mengusung beragam visi dan misi, sehingga isi atau tulisannya pun beragam. Akibatnya kita dikepung oleh hutan informasi, apa saja yang kita inginkan, pasti akan kita temukan dalam search engine.
Sebuah era terukir dari tulisan, yaitu ERA INFORMASI. Demikian tulisan membangun sebuah peradaban, tulisan juga mengukir sejarah. Hal inilah yang menjadi motivasi utama saya untuk mulai menulis. Mengapa…? karena saya tidak mau menjadi sejarah manusia, tapi saya mau menjadi manusia pembuat sejarah. Ya…minimal saya membuat sejarah untuk hidup orang dilingkungan terdekat saya, keluarga saya, adik-adik saya atau mungkin untuk keponakan saya.
Ya… saya ingin menuangkan apa saja yang bisa saya tulis, entah itu peristiwa yang saya alami sepanjang mondar mandir rumah ke kantor dan kantor ke rumah, atau sekedar kejadian konyol rekan-rekan kantor saya yang memang pada konyol perilakunya, atau gerundelan saya terhadap hasil postingan saya di wordpress yang … entah kenapa jadi berantakan tampilannya. Pokoknya apa saya ingin tuangkan dalam tulisan.
Seorang rekan virtual saya mengatakan dalam salah satu tulisannya, bahwa belajar menulis itu sama dengan belajar naik sepeda. Ketika membacanya, ingatan saya langsung pada tertuju pada saat ayah saya membelikan sepeda bekas di bilangan Tanah Abang sekian puluh tahun yang lalu, saya sangat senang sekali. Jatuh bangunnya dari sepeda sampai saat ini saya masih mengingatnya, bahkan luka bekas jatuh pun masih terlihat di lutut meski sudah samar.
Dua motivasi itulah yang membuat saya mulai menulis lagi, pertama saya mau menjadi manusia pembuat sejarah, dan kedua saya ingin terampil menulis.
Semoga coretan ini pun memberikan inspirasi dan motivasi buat rekan blogger.







Lebih tepatnya jangan mau menjadi manusia prasejarah, manusia yang belum mampu menulis. Jadilah, manusia sejarah yang mampu membuat sejarah. So … i like it. Menulis, menulis, dan terus menulis.
he..he.. jadi kalau kita lihat orang-orang yang suka nongkrong di toko buku 75% manusia prasejarah dong…