Pendidikan di Negeri Burung Surga

Samuri Dwijangge (11) siswa SDN 5 Angkasa Jayapura sedang asik mengerjakan tugas pelajaran Bahasa Indonesia. “Ee…saya senang…ee…pelajaran bahasa Indonesia…ee…karena…ee…saya bisa…ee…menulis…ee…apa saja.” Demikian jawabanya dengan dialek Papua ketika ditanya kenapa suka pelajaran bahasa Indonesia.

Ori demikian panggilannya, adalah salah satu dari 150 peserta didik di SDN 5 yang mengikuti proyek sentra pendidikan. Pemda Provinsi Papua sejak tahun 2007 telah menyusun proyek sentra pendidikan untuk menjawab kebutuhan akses pemerataan pendidikan. James Modouw (45) Kedinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga mengatakan bahwa pola pendidikan Sekolah Kecil dan Sentra Pendidikan merupakan pola yang ideal saat ini untuk menjawab pemerataan akses pendidikan di daerah pelosok dan terpencil.

“Lebih jauh James menjelaskan, sekolah kecil adalah jenjang sekolah dasar kelas 1 s/d kelas 3 dengan metode “multi grade teaching” yang terletak di daerah-daerah terpencil.” Biasanya sekolah ini ditangani oleh pasangan suami-istri yang berprofesi guru sehingga mudah pelayanannya.

Untuk selanjutnya peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan sekolah kecil akan meneruskan ke sentra pendidikan yang terdapat di provinsi/kabupaten/kota. Sentra pendidikan merupakan SD Satu Atap berasrama terdapat jenjang SD dan SMP – kelas 4 s/d kelas 9.

Masalah muncul ketika peserta didik hendak melanjutkan ke sentra pendidikan, tidak semua orangtua sanggup menyekolahkan anaknya ke sentra pendidikan di kota provinsi. Biaya hidup meski ditanggung oleh dana “block grand” tidak mencukupi untuk operasional sekolah, belum masalah koordinasi peraturan daerah provinsi/kabupaten/kota yang saling berbenturan menambah kendala implementasi pemerataan akses.

Ori termasuk yang beruntung dapat meneruskan sekolah di sentra pendidikan meski orangtuanya hanya pemburu berpindah di pendalaman kabupaten Mimika. “Ee…saya ingin…ee…jadi guru…ee…supaya…ee…saya dapat…ee…mengajar…di tempat…ee…Mbouri.” Mbouri adalah desa kelahiran Ori.

Berapa banyak anak seperti Ori mungkin tidak sampai 20% dari jumlah anak usia sekolah di Papua yang dapat melanjutkan sekolah di kota provinsi/kabupaten/kota. Akibatnya masih terdapat tenaga profesional nonputra daerah yang mendominasi provinsi Papua.

sumber gambar: koleksi pribadi

Kunjungan Pertama

“…selamat datang di kota Biak…bagi penumpang tujuan kota Jayapura dapat menunggu di dalam pesawat…”

Sekar melirik jam tangannya waktu menunjukkan pukul 04.15 wit. Sekar menaikkan selimut mencoba tidur, sejak meninggalkan kota Makassar tempat transit pertama, Sekar berusaha membayangkan tempat tidurnya yang nyaman, tapi kantuk tak kunjung datang.

Baru beberapa menit memejamkan mata, lengannya terasa disentuh orang. Sekar membuka matanya. Sesosok perempuan berkulit gelap mencoba tersenyum sambil menyodorkan tiket ke arahnya. “Ohh…maaf, nomor berapa?” Sekar melihat nomor tempat duduk yang tertera di tiket. “12E…silahkan.” Sekar belum sempat bergeser, dari balik tubuh perempuan di sampingnya muncul seraut wajah mungil berambut kriting dan bermata bulat menatap Sekar.

Dia bergerak masuk ke arah tempat duduk sebelah dalam, karena agak sempit spontan Sekar mengangkat tubuh bocah laki-laki itu didudukkan pada bangkunya. Dua bangku di sebelahnya sudah terisi, alamat dia tidak bisa tidur. Benar saja, tak lama setelah lepas landas terdengar celoteh bocah itu, sepertinya menanyakan ini dan itu layaknya anak kecil bertemu hal baru.

Sekar kembali menarik selimut berusaha memejamkan mata mencari kantuk meski dia tahu usahanya sia-sia. Tak lama terdengar kembali celotehan “penumpang kecil” di sebelah Sekar, namun ada hal yang menarik pendengarannya, bocah itu berbicara dengan nada berirama seperti bernyanyi. Akhirnya Sekar sempat terlelap beberapa saat akibat “nyanyian” kawan seperjalanannya menuju Papua.

Bandara Sentani pukul 07.30 wit, Sekar terpana memandang barisan pegunungan berkabut yang mengelilingi bandara. Ini kunjungan pertama Sekar di bumi Cendrawasih.

sumber gambar: koleksi pribadi

Yang Merantau dan Tergusur

Ropelita (20) mahasiswi asal kota Sidikalang sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sebuah universitas di Jakarta. Ita, demikian nama panggilannya sejak kecil bercita-cita menjadi pendeta. Kedua orangtuanya hanya petani kopi di kota Sidikalang Sumatera Utara. Sejak SMP Ita selalu mengantongi juara umum di sekolah.

Tahun 2007 Ita menerima sepucuk surat pemberitahuan berisi tawaran mengikuti program beasiswa yang diselenggarakan sebuah universitas swasta. Pasangan suami-istri Simangunsong hanya bisa mengucap syukur anak ketiganya dapat mengenyam pendidikan tinggi gratis, karena beasiswa yang diberikan sudah termasuk ongkos hidup di Jakarta. Medio 2007 Ita resmi tercatat sebagai mahasiswi di STT SETIA.

Setahun Ita menikmati kehidupan sebagai mahasiswa dan tinggal di asrama yang disediakan pihak universitas tempat dia belajar. Oktober 2008 ketenangan warga asrama STT SETIA terusik dengan teriakan sejumlah warga di daerah Kampung Makasar Jakarta Timur sambil melempari batu ke arah asrama mahasiswa tersebut.

Rasa panik dan cemas meliputi warga asrama, mereka semua keluar gedung asrama wajah bingung termasuk Ita. Ia berlari ke arah pintu gerbang belakang gedung asrama entah mengapa disana sudah terdapat sekelompok petugas kepolisian menolong para mahasiswa ke tempat aman dari kepungan warga Kampung Makasar itu.

Sejak malam itu Ita tidak pernah lagi merasakan ketenangan belajar dan tinggal di tempat yang nyaman. Ita beserta 500 mahasiswa STT SETIA dievakuasi ke bumi perkemahan Cibubur Jakarta Timur. Belakangan baru diketahui bahwa warga Kampung Makasar tidak menyetujui berdirinya STT SETIA di daerah tersebut.

Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan pengelola bumi perkemahan Cibubur memberikan bantuan pada pihak Yayasan STT SETIA untuk menampung 1500 mahasiswa yang hampir sebagian besar berasal dari luar pulau Jawa. Mahasiswa STT SETIA kemudian ditampung di tiga tempat yaitu di bumi perkemahan Cibubur, bekas gedung kantor walikota Jakarta Barat, dan Wisma Transito Jakarta Timur.

Ita termasuk rombongan yang ditampung di bekas kantor walikota Jakarta Barat bersama enam ratusan mahasiswa lainnya. Tinggal dipenampungan tidak senyaman ketika menempati asrama, apalagi gedung yang ditempati saat ini bekas kantor sudah pasti tidak ada ruang kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, bahkan fasilitas MCK terpusat hanya di empat tempat untuk dipakai enam ratusan mahasiswa.

Pihak Yayasan STT SETIA tetap konsisten memenuhi kewajibannya untuk mahasiswa yang mengikuti program beasiswa, terbukti Ita tidak terlantar dalam hal kebutuhan hidup. Tentu saja hal ini tidak dirasaka oleh mahasiswa nonbeasiswa, jelas mereka menuntut fasilitas belajar mengajar serta tempat tinggal yang layak. Konflik mulai muncul ketika kondisi seolah dibiarkan oleh pihak Yayasan.

Bulan Juni 2009 ketidaknyamanan mahasiswa “pengungsi” ini kembali terusik, gedung bekas walikota Jakarta Barat itu harus dirombohkan karena pihak pemda kalah perkara dengan pihak PT Summarecon Gadingmas di pengadilan negeri Jakarta Barat. Putusan pengadilan menyatakan PT Summarecon Gadingmas sebagai pemilik lahan gedung bekas kantor walikota Jakarta Barat tersebut. Yayasan STT SETIA diberi kesempatan selama enam bulan sejak putusan peradilan untuk mengosongkan area bekas perkantoran tersebut.

Keresahan semakin memuncak ketika belum sampai tiga bulan di hari Senin pagi awal Agustus 2009 beberapa kendaraan bolduser memasuki area gedung pengungsian. Seorang mandor kepala menemui Sandra Ginting (36) Kepala Asrama Putri STT SETIA yang pagi itu sedang memimpin renungan pagi. Agus Suhendro (39) sang Mandor memberitahu bahwa mulai hari ini dia dan rombongan pekerja dari PT Summarecon Gadingmas akan mulai membongkar gedung. Surat perintah diperlihatkan Agus pada Sandra. Bak bara disiram minyak, kesabaran mahasiswa “pengungsi” telah sampai pada batasnya. Mereka segera meninggalkan ruang-ruang bekas kantor yang dijadikan ruang belajar dan ruang kuliah keluar menuju gerbang halaman luar gedung. Kumpulan mahasiswa putra-putri membentuk barisan berusaha menghalangi masuknya kelompok pekerja proyek dan kendaraan bolduser.

Peristiwa itu sempat diliput media massa karena sempat jatuh korban beberapa mahasiswa terinjak dan terkena benturan peralatan bangunan. Salah satu korbannya termasuk Ita. “Kami hanya mau belajar dan menyelesaikan kuliah dengan tenang dan tidak dipindah-pindah.” Demikian pernyataan sebagian mahasiswa ketika ditemui pada bulan November 2009. Pak Yohannes (57) salah seorang dosen STT SETIA mengatakan bahwa pihak Yayasan sedang menagih komitmen Gubernur DKI Jakarta untuk memberikan perlindungan bagi mahasiswa yang diungsikan dari asrama Kampung Makasar. Pihak Yayasan sejak tahun 2008 sudah mulai membangun gedung STT SETIA berikut fasilitas asrama di daerah Cikarang, namun pembangunan tersebut baru selesai pada akhir Tahun 2010. “Kami minta Pemda memberi waktu sampai gedung perkuliahan dan asrama itu selesai, dan kami akan pindah.” Demikian Yohannes menjelaskan.

Saat ini para mahasiswa yang tinggal di gedung di wilayah Jakarta Barat itu semakin tidak nyaman, komplek gedung yang terdiri dari lima bangunan, tinggal dua bangunan tempat para mahasiswa ini belajar dan tinggal. Fasilitas sanitasi sudah dihancurkan, air bersih dari PAM sudah dihentikan, demikian juga arus listrik jika kita masuk ke area dalam gedung tercium bau tidak sedap dan pengap. “Saya rindu ayah ibu saya di kampung, tapi saya juga ingin menyelesaikan kuliah saya. Bantulah kami, paling tidak sampai gedung perkuliahan di Cikarang selesai.” Demikian harapan dan permohonan Ita dan ratusan mahasiswa STT SETIA dalam pengungsian.

sumber gambar: google

Pendekar dari Madiun

Saljo Harsoutomo yang lahir pada hari Sabtu, 17 Juli 1917 di Madiun. Mas Saljo, demikian para sahabatnya memanggil, dan untuk seterusnya beliau meminta untuk tetap dipanggil dengan sebutan “mas” – biar awet muda katanya. Pasangan Eyang Atmo kakung putri mempunyai dua anak lainnya setelah mas Saljo.

Kehidupan sebagai petani tidak membuat Eyang Atmo kakung putri pasrah dengan kehidupan yang bersahaja. Hal ini dibuktikan dengan menyekolahkan ketiga anaknya di  Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) bahkan Mas Saljo  dapat meneruskan hingga pendidikan lanjutan Hollandsch-Inlandsche School (HIS)

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di HIS, Mas Saljo meninggalkan kota Madiun  tahun 1939 untuk menjadi pegawai Bumi Putera di Yogyakarta.  Mas Saljo berhasil menjadi pegawai di Departemen Kolonisasi jaman pemerintahan kolonial Belanda . Pada waktu itu pemerintah kolonial membutuhkan tenaga muda untuk mengawal para penduduk korban letusan Gunung Merapi yang akan dipindahkan ke pulau Sumatera. Sejak saat itu Mas Saljo bertugas di daerah Jambi, Lahat, dan Lampung.

Tahun 1950 Mas Saljo kembali ke tanah Jawa  dan memulai tugasnya di kota Kebumen Yogyakarta.  Di kota ini pula Mas Saljo menikah dengan Ibu Titiek Soekarsilah dan dikaruniai 13 orang putra putri. Menjelang masa pensiun Mas Saljo masih berpindah tugas ke kota Solo, Pati, dan akhirnya kembali ke kota Yogyakarta.

Pada masa pensiun inilah Mas Saljo mulai mendidik anak-anak muda di sekitar kampung Mergangsan untuk belajar pencak silat. Sejak saat itu bendera Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mulai dikibarkan di Yogyakarta.

Aliran bela diri pencak silat SH Terate berasal dari tanah kelahiran Mas Saljo, maka tidak heran jika nilai-nilai filsafat perguruan ini seperti Urip Iku Urup, Memayu Hayuning Bawono, Suto Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti merupakan nilai yang beliau pegang dan diteruskan pada putra putri dan murid-muridnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah murid PSHT semakin bertambah, rumah sederhana di Jl. Kintelan itu tidak pernah sepi. Setiap akhir minggu ramai berkumpul kaum tua-muda berdiskusi, berlatih, dan menciptakan “kembangan” jurus-jurus dasar perguruan Persaudaraan SH Terate (PSHT) hingga larut malam.

Perjuangan Mas Saljo tidak sia-sia, salah satu putrinya berhasil memenangkan medali perak pada PON VII di Surabaya tahun 1969.  Usahanya telah membuahkan hasil yaitu Persaudaraan SH Terate Cabang DIY yang dirintisnya resmi masuk dalam daftar IPSI pada tahun 1976 melalui SK 02/Sek/IPSI-DIY/4/73.

Namun prestasi itu harus ditebus dengan kesehatannya. Kebiasaan merokok dan begadang dalam jangka waktu panjang membuat paru-parunya luka. Pada April 1985, Mas Saljo kembali menghadap Tuhan. Sepeninggalan Mas Saljo, para penerusnya tetap melatih bibit-bibit pendekar hingga mekar dan berkembang di Yogyakarta, banyak ranting-ranting PSHT yang didirikan di bumi Sultan Hamengkubowono ini.

sumber gambar: koleksi pribadi

←Older