Melly berlari melitas lapangan ke arahku, tertawa lebar sambil melambai-lambaikan sebuah majalah. Gadis bertubuh mungil tapi cantik ini selalu tampil ceria. Aku colek Ferlita yang sedang asyik curhat padaku. “Kita punya acara untuk mengisi liburan sekolah,” seru Melly. Terengah-engah Melly duduk di bangku di samping Ferlita, kulihat mata yang selalu berbinar terpancar di wajah mungil Melly. “Apaan sih,” Ferlita menimpali.
“Baca, deh!.” Melly membentangkan majalah remaja di depan kami. Kubaca sebuah pengumuman kegiatan lomba yang diselenggarakan majalah tersebut untuk mengisi liburan. Reli Budaya. “Hmm…menarik,” batinku. Aku dan Ferlita membaca halaman berwarna menarik berisi rincian umum kegiatan itu. Pikiranku berputar cepat dan kling! “Kita ikut lomba ini, dan kita pasti menang, minimal juara ketiga.” Aku membuka keheningan itu dengan kalimat penuh semangat dan menjanjikan.
Ferlita, Melly, dan Henny Ros (nama lengkapnya Henny Rosita) adalah sebagian dari teman-teman dekatku sewaktu SMA. Mereka memiliki minat yang sama di bidang budaya dan humaniora. Aku memang memiliki banyak teman dengan kelompok minat yang berbeda-beda. Ada grup novel, dimana kami bisa ngobrol sepuasnya membedah novel terbaru; ada group borju (borjuis) aku menyebutnya demikian karena kegiatanku dengan kelompok ini lebih banyak bersenang-senang.
Usai sekolah, kami berempat naik kendaraan umum menuju ke kantor redaksi majalah bilangan Kuningan. Kami diminta menunggu di ruang tamu, tak sampai 15 menit, kami dipanggil untuk masuk ke sebuah ruang kerja salah satu staf (petugas pendaftaran) Aku takjub dengan suasana kerja di ruang besar bersekat-sekat setinggi dada itu. Masing-masing sekat tersembul kepala-kepala yang pemilik “ruang kerja.” Mereka tampak sibuk, ada yang menelpon, ada pula yang asik mengetik di depan komputer, atau lalu lalang membawa berkas dokumen.
Hari Sabtu pagi seluruh peserta Reli Budaya sudah berkumpul di Aula Sasana Langen Budaya , TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Aku ngga sangka jumlah peserta Reli Budaya sebanyak itu, kira-kira berjumlah tiga ratusan orang. “Wahh…yakin Hen, kita pasti menang?,” suara lembut Melly di sampingku. Kulihat ketiga temanku sama takjubnya denganku. “Ehhee…we must do the best and let God do the rest,” sahutku menyakinkan mereka pun untukku.
Tepat pukul 08.00 Panitia Lomba membuka acara, dan yang menarik buat ku adalah kehadiran Ibu Pia Alisyahbana selaku Komisaris Femina Group. Pesan pembukanya antara lain kegiatan Reli Budaya selain untuk mengisi masa liburan, juga untuk membuat para peserta lebih mengenal dan mencintai budaya nusantara. Sosoknya mengingatku pada ayahandanya Sutan Takdir Alisyahbana, olehnya aku mengenal bacaan sastra pertamaku “Layar Terkembang.”
Akhirnya Panitia mengumumkan bahwa pemenang lomba adalah kelompok yang paling awal masuk ke garis finis. Agar fair, semua peserta dilarang membawa alat penunjuk waktu dalam bentuk apapun, segera tim pengawas berkeliling memeriksa backpack peserta.
Sepanjang pemeriksaan, aku agak gelisah tapi untunglah Panitia memberi kesempatan bertanya. Segera aku mengacung, “Kak, apakah peserta diperbolehkan membawa buku atau semacamnya?,” tanyaku dengan nada ragu. “Boleh!, kalian boleh membawa buku bacaan, novel, atau komik; bawa makanan dan minuman sangat dianjurkan, kecuali alat penunjuk waktu,” tegas kakak Panitia Lomba. “Ahh…lega hatiku.” Aku tersenyum lega.
Henny Ros yang ada didekatku bertanya, “Emang elo bawa apaan Hen?.” Sambil mengawasi Ferli dan Melly mengambil daftar pertanyaan dan peta, aku mengeluarkan buku andalanku, yang memastikan 50% di atas kertas kami akan menang. “Dasar loe…,” sahutnya dengan mata melotot. Gadis Betawi yang satu ini memang lugas dan tegas. Kami berempat memang unik, Henny Ros mengambil kegiatan ekstrakurikuler karate, aku sendiri ikut kegiatan menari dan fotografi, Ferli dan Melly masuk kelompok teater sekolah, namun untuk kegiatan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) kami masuk kelompok budaya dan humaniora.
Pukul 09.00 tepat kami diberangkatkan di depan Aula Sasana Langen Budaya. Sesuai dengan kesepakatan, aku membagi tugas agar pertanyaan dapat cepat dan tepat dijawab. Henny Ros dan Melly menjawab pertanyaan di perjalanan, aku dan Ferli menjawab pertanyaan di anjungan. Kelompok kami mendapat bagian untuk mengunjungi anjungan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Tengah. Jadi, sambil kami berjalan meskipun belum sampai ke tempat tujuan (anjungan) jika ada pertanyaan umum seputar keempat provinsi tersebut, aku dan Ferli sudah bisa menjawabnya.
Di masing-masing anjungan kami harus melaporkan ke Panitia, dan mengikuti games yang telah ditentukan, ada yang bentuk activity games maupun brain games. Kami berempat menikmati setiap permainan, menang atau kalah ngga penting, yang penting kami sudah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan wajib.
Seminggu kemudian pukul 06.00 aku dibangunkan mama, ada teman yang menelpon. “Halo…,” aku menjawab dengan suara mengantuk. “Halo Henny?!…kita menang!…kita menang!..juara kedua!,” suara teriakan Melly di seberang telepon. Entah teriakan Melly atau berita yang disampaikan atau kedua-duanya, sontak membuat syaraf-syarafku terbangun. “Hehehe…yes! Kita kumpul di rumah Ferli ya, jam 10.00. Daaag…!”
“Ada apa Hen?,” tanya mama. Aku menjawab pertanyaannya dengan mencium dan memeluknya dengan erat. “Mau mandi ma…” Aku melesat ke kamar belakang menyambar handuk. Selesai berpakaian, aku mengambil buku yang membantu kami memenangkan lomba ini. Buku bersampul warna kuning gading bergambar peta nusantara “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” karya Prof.Dr. Koentjaraningrat. “Terima kasih Tuhan, terima kasih prof.”
Reli Budaya sejak diselenggarakan pada tahun 1987 setahuku tidak diadakan lagi, entah kenapa. Sungguh disayangkan, karena kegiatan ini dapat dijadikan media untuk para pelajar agar lebih mengenal budayanya dan akhirnya mencintai negeri indah penuh warna. Impianku, seharusnya setiap orang Indonesia sedikitnya mampu menguasai 3 bahasa suku besar.
Sumber gambar: google images
Sejak usia balita sampai usia 11 tahun aku tinggal dan diasuh oleh kedua eyang dari pihak mama. Kedua orangtuaku memang sengaja menitipkan aku pada eyang, sementara beliau merantau ke ibukota Jakarta. Hubunganku dengan eyang kakung-putri, semua om, dan tante yang kala itu masih lajang cukup dekat. Tak heran ketika papa menjemputku untuk tinggal di kota mereka, ada ruang hatiku yang kosong. Bunyi peluit kereta api yang akan membawaku pergi, terdengar seperti jeritan agar aku tidak meninggalkan Yogyakarta, kota kelahiranku. Bunyi itu seperti suara peringatan tentang ketidakpastian yang menghadang di depanku di kota asing bernama Jakarta. Sampai saat ini jika aku mendengar bunyi peluit kereta api, hatiku serasa tercubit.
Sepanjang malam aku tidak dapat tidur, suara roda kereta menggilas rel besi landasannya menimbulkan suara bising, atau justru gemuruh hatiku yang gelisah penyebabnya, entahlah. Pukul 04.10 perjalananku berakhir di Stasiun Gambir, sejuknya udara pagi tak sempat aku hirup, hatiku masih gelisah, tanpa kusadari kedua telapak tangan dan kakiku basah oleh keringat. Tak lama kegelisahanku teralihkan oleh sebuah benda aneh berbaris di tempat parkir berbaur dengan taksi, becak dan bemo. Aku belum pernah melihat kendaraan ini. Bentuknya seperti becak tapi bagian penumpang tidak terbuka layaknya sebuah becak. Bagian penumpang tertutup oleh kaca berbentuk bulat mirip seekor capung. Rupanya papa melihatku tertegun-tegun. Beliau menggandeng tanganku menuju benda aneh itu. “Ini namanya helicak, seperti becak tapi cara mengendarainya tidak dikayuh”. Papa menjelaskan, aku sibuk mengamati helicak. “Didorongnya pake sepeda motor ya pa?”, tanyaku, karena aku melihat sebuah knalpot disamping roda belakang. “Ya, kita akan naik helicak menuju rumah”, sambut papa dengan suara riang.
Kota Jakarta, kota asing sekaligus membuatku takjub. Selain helicak, tugu Monas adalah salah satu bangunan yang aku kagumi, karena aku tak habis berpikir bagaimana orang dapat membangun menara setinggi itu, bagaimana mengangkut puluhan kilo emas ke atas puncak menara itu. Ada sebuah lagi monumen yang membuatku takjub dan saking takjubnya membuatku untuk pertama kalinya kena teguran papa-mama. Suatu sore, mama meminta papa untuk membeli bakmi goreng lauk makan malam. Aku menemani papa berkendara vespa menuju rumah makan langganan di daerah Tebet. Dua bungkus bakmi goreng ada dipangkuanku terbungkus tas plastik, bau harumnya cukup membuat “pasukan kampung tengah” memberontak. Aku membayangkan makan malam yang enak dengan nasi hangat ditemani bakmi goreng. Lamunanku buyar ketika kulihat sebuah patung menjulang tinggi di atasnya ada sosok laki-laki berbalut libatan kain seolah hendak meraih sesuatu, yang membuatku heran adalah tiang penyangga patung. Vespa yang dikendarai papa melintas mengelilingi monumen, mataku lekat mengamatinya tanpa kusadari bungkusan mie goreng lepas dari kantong plastik. Tiba di rumah, mie goreng tersisa satu bungkus.
Adaptasi yang paling sulit adalah memahami bahasa tepatnya dialek Betawi. Aku bersekolah di SD Negeri 05 Pagi di daerah Menteng. Teman-teman di sekolah dan di lingkungan rumah sering berbicara dengan kata-kata yang sulit kupahami. Suatu pagi setelah selesai mengerjakan tugas piket menyapu ruang kelas, Sriyatun teman sekelas menghampiriku, “Hen…, no…nyak nye si Ramlan manggil elo!”. Apa sih maksudnya si Sri, “Kenapa si Ramlan?”, sahutku. “Bukannye si Ramlan, nyak nye…nyak nye Ramlan, noh liat…di depan kantor guru”. Aku melayangkan pandangan ke arah telunjuk Sriyatun. Astaga, itu Bu Ester, guru Bahasa Indonesia. Aku berlari ke arah kantor guru, kulihat bu Ester tersenyum melambaikan tangan. Senyum itu yang menenangkanku ketika pertama kali kakiku menginjak ruang kelas 5A, Bu Ester wali kelasku. “Ada apa bu?”, tanyaku. “Sudah sarapan Hen?”. “Sudah bu, mama membuatkan susu dan roti tawar mentega”. “Hmm…sekarang kamu coba makan nasi ini, enak lho, namanya nasi uduk, ibu yang buat”. Bu Ester menyodorkan kotak makanan bergambar miki mouse. Sejak itu aku menyukai nasi uduk Betawi plus semur kentang dan bihun gorengnya.
Sekian puluh tahun sudah berlalu, meski aku sudah menjadi penduduk resmi kota Jakarta, belajar dan bekerja di kota ini, namun hatiku tetap bertaut dengan kota kelahiranku Yogyakarta, kurindu ketenangannya, kurindu jenang gempol kesukaanku, kurindu semua sudut kota masa kecilku.
Tulisan ini dimuat dalam HOKI.
Sumber gambar: google images
Menulis? Wah…nanti dulu deh…susah, atau …nanti deh kalau ada waktu senggang. Begitulah kesan orang pada umumnya ketika mendengar atau diminta melakukan kegiatan itu, termasuk saya. Untunglah sejak SD saya punya ibu guru yang rajin memberikan tugas mengarang setelah liburan panjang selesai. Tentu saja saya menyambut gembira tugas itu, karena saya punya ide tulisan. Kegiatan Mengisi Liburan Sekolah bisa saya sulap menjadi cerita yang menarik, imbalannya sudah pasti angka delapan akan menghiasi kertas karangan.
Sayangnya, sejak berhenti menulis buku harian, ketrampilan “menyulap” hilang lalu bersama angin. Saya sangat sulit merangkai kata-kata, kadang sudah tersusun dengan lancar menjadi paragraf, tiba-tiba bisa “blank” Dan untuk memulainya lagi bisa menguras energi dan waktu. Itulah akibat yang harus saya tanggung ketika berhenti menulis buku harian sampai kuliah selesai. Saya tidak bisa “curhat” dalam bentuk tulisan. Jadilah tulisan saya formal dan kaku. Kemampuan saya untuk mendeskripsikan dalam bentuk tulisan tidak berkembang. Hal ini saya sadari sebagai sebuah kelemahan.
Saya iri melihat adik bungsu dengan asyik dan lancar menulis cerpen atau menyelesaikan pekerjaannya. Adik saya bekerja sebagai editor. Rasa iri ini mendorong saya untuk kembali bergiat menulis. Mau menulis dimana? Buku harian? Ngga jaman…malu sama umur, begitu kata hati. Akhirnya blog saya pilih menjadi media penampung sekaligus bisa menayangkan tulisan ke publik. Ya, meskipun blog yang saya punya belum tentu ramai dikunjungi pembaca, yang penting tulisan “go public”. Bagaimana dengan mutu tulisan? Jangan tanya, sampai detik ini tulisan saya jauh dari sebuah tulisan yang baik.
Sampai akhirnya saya berkenalan dengan mbak Fida Abbott. Kami beberapa kali main “tamu-tamuan” maksud saya adalah saling berkunjung ke blog masing-masing dan berkirim email. Suatu ketika mbak Fida mengundang saya menjadi Pewarta Warga di Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Saya tidak segera menanggapi undangan itu karena “keburu” diserbu rasa minder.
Setelah tahu visi dan misinya, saya tertarik bergabung di HOKI. Sewaktu mengirim tulisan pertama ke meja redaksi HOKI, saya memang tidak terlalu berharap banyak. Namanya juga penulis pemula, sangat pemula malah. Jadi, ketika ada email balasan dari HOKI yang menyatakan penayangan tulisan saya, saya kaget luar biasa. Saking bangganya, saya masih ingat kok judul tulisan itu adalah “Budaya Akar Bangsa”. Rasa haru semakin membuncah ketika belakangan saya tahu bahwa mbak Fida adalah salah satu Tim Redaksi HOKI. Saya yakin penanyangan tulisan saya di HOKI bukan semata karena kualitasnya, namun lebih besar sebagai bentuk motivasi. Terus terang itu merupakan bentuk motivasi paling manis yang pernah saya terima.
Mengapa saya memilih PMOH? Karena ketulusan hati yang telah ditunjukkan Tim Redaksi HOKI semata. Kok, bisa? Ya, karena tulus hati adalah barang langka di jaman ini, jadi saya beruntung bertemu dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai ini. Saya yakin akan berhasil menjadi penulis yang baik dalam “gemblengan” mereka. Alangkah tidak bijaksananya saya jika tidak memberikan respon yang sama dalam bentuk kedisiplinan, ketekunan, dan konsisten untuk terus menulis. Untuk itu, jangan pernah berhenti menulis karena kita semua tahu akibatnya, dan tidak semua dari kita dapat beruntung bertemu dengan orang-orang yang tulus hati.
Catatan: Tulisan ini dimuat dalam Berita Utama HOKI hari ini
January 14th, 2010 in
Journal,
menulis | tags:
menulis |
4 Comments
Kenapa sih Facebook, Friendster, Twitter, atau jejaring sosial lainnya sangat diminati? Ya, karena melalui media itu kita bisa saling berhubungan dengan anggota dalam jejaring tersebut. Kita merasa mendapatkan “teman” dimana kita bisa mengungkapkan apa yang sedang kita rasakan setiap saat.
Kondisi sosial saat ini memaksa kita bergerak cepat dan tidak ada waktu untuk “kongko-kongko”. Orang sangat sibuk dengan berbagai macam kegiatan, tidak ada waktu untuk berkumpul dan bercengkrama.
Bersyukurlah oleh kemajuan teknologi, maka ditemukan sebuah media virtual jejaring sosial sebagaimana tersebut di atas. Manusia tidak dapat memungkiri hakekatnya sebagai mahluk sosial, dimana mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain. Disaat hati kesal sesuai mendapat teguran atasan, kita dapat segera “berkatarsis” dalam kotak status Facebook; hati kembali tenang dan dapat fokus pada tugas-tugas kita. Saat istirahat kita dapat melihat kembali kotak status, makin tenanglah hati kita, ketika sebagian “teman-teman virtual” memberikan dukungan, semangat, bahkan candaan ataupun sidiran; apapun itu kita merasa tidak sendiri.
Hal inilah yang menurut saya, merupakan efek positif dari jejaring sosial, melalui tulisan awal tahun 2010 ini saya berharap tidak ada lagi seorang anak manusia yang merasa sendiri dan mengambil jalan pintas mengakhiri hidup yang indah yanh diberikan Pencipta. Semoga bermanfaat.
Saat aku dengar Gus Dur meninggal, aku sedang dalam perjalanan pulang. Segera ingatanku bergerak cepat menuju masa ketika Gus Dur memutuskan berperan aktif dipanggung politik Indonesia. Seolah sosok Sutan Syahrir, Bung Hatta bangkit kembali. Bagiku Gus Dur bak suara yang berseru di padang belantara, menyerukan kemanusiaan sebagai nilai hakiki manusia.
Ketika jasad rapuh itu akan dibaringkan ke haribaan bumi pertiwi, seorang perwira tinggi TNI membacakan riwayat hidupnya. Belum pernah aku mendengar begitu panjangkan deret kehormatan yang diberikan pada seseorang. Belum pernah aku mendengar begitu banyaknya kalangan sangat menghormatinya.
Tuhan sungguh memakainya sebagai duta kemanusiaan bagi bumi Indonesia, lihatlah Tuhan memanggilnya disaat sebagian besar umat manusia tengah hiruk pikuk bersiap diri dalam pesta tahun baru. Kepergiaannya menghentikan hingar bingar itu, memaksa kita tuk tunduk dan sujud dalam doa.
Selamat Jalan Gus Dur…tugasmu sudah selesai…biarlah kami yang meneruskan dan menjaga warisan pikiran dan sikap kemanusiaan yang telah kau kobarkan.
January 1st, 2010 in
Journal | tags:
refleksi |
No Comments
Suatu hari aku lewat jalan Proklamasi pertigaan Megaria, disana terpampang baliho (iklan) seorang pemuda ganteng (hehehe…boleh dong) sedang in action memperagakan salah satu jurus kungfu dengan latar belakang gambar seekor naga sedang ‘ngulet’ (walah apa sih ngulet…???) Ya…pokoknya seperti itu…kalau ngga percaya silahkan melintasi daerah itu.
Siapa dia? Aku ngga usah memberitahu namanya lah…yang pasti baliho itu memberitahukan keahlian si pemuda ganteng itu sebagai penyembuh alternatif. Yang menarik perhatianku salah satu dari deretan keahliannya adalah terapi perawan. Hehehe…aku kan langsung berpikiran jahil…lha terus diapain? Kira-kira yang dateng (pasien) siapa aja? Apa aja motivasi mengikuti terapi itu? Wahh…pokoknya jahil deh…alhasil aku cuma senyum-senyum sendiri (untung ngga ada yang lihat)
Maksud tulisanku kali ini bukan untuk memanjakan pikiran jahilku itu, tapi cuma sekedar mencermati perkembangan kemampuan para penyembuh alternatif itu. Kok, sepertinya makin lama makin canggih. Pernah suatu kali aku ketemu dengan seorang teman singkat cerita dia sedang dalam pengobatan alternatif yang menurut dunia kedokteran dia menderita kanker otak, dia menjalani pengobatan alternatif terintegrasi. Hmmm…apa maksudnya? Hehehe…kata integrasi itu adalah kesimpulanku aja. Intinya adalah dia menjalani terapi totok, terapi tusuk jarum, terapi herbal, dan terapi obat (kedokteran) semua itu dilakukan oleh satu orang penyembuh alternatif; nah itu yang aku simpulkan dengan kata integrasi.
Dari obrolanku dengan teman itu, aku menyimpulkan bahwa sesungguhnya kita diberikan kuasa untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri, jika…hanya jika kita merawat tubuh kita. Hehehe…itu mah gampang…eit ternyata ngga gampang. Pertama, aku percaya betul dengan kalimat bijak ‘hati yang gembira adalah obat yang mujarab’ Nah…lo…gampang-gampang susah atau memang susah. Kedua, tahukah kita jika struktur pencernaan manusia itu mirip dengan struktur hewan memamahbiak? Itu artinya, asupan makanan kita sebaiknya sayuran dan biji-bijian. Ketiga, nah ini yang klise (bagi sebagian besar orang yang sibuk) istirahat yang cukup. Hehehe…klise kan. Untuk yang ketiga, ada sebuah kata bijak ’segala sesuatu ada waktunya’. Semoga bermanfaat.
December 29th, 2009 in
Gerundelan,
Journal | tags:
pengobatan |
2 Comments
Waktu terus berlalu, dan tak mungkin kita kembali ke waktu yang telah lalu. Tinggal dua hari tersisa dalam ruang waktu yang berlabel 2009. Sesungguhnya di dunianya ini jika kita mengamatinya, setiap benda, setiap masa, setiap orang memiliki ciri khas atau penanda khusus. Demikian pula tahun 2009. Coba kita renungkan, dengan melakukan perjalanan batin kembali ke Januari 2009, apa saja yang kita maknai di setiap bulan sepanjang tahun 2009.
Ya…Telah banyak yang kita lalui, telah banyak yang kita alami, bahkan telah banyak yang kita abaikan. Serangkai kalimat bijak mengatakan “Tuhan memakai suka duka yang kita alami untuk kebaikan kita” Namun jika kita cermati apakah benar setiap duka yang kita alami untuk kebaikan kita atau justru itu adalah sebuah ‘ganjaran’ dari kebodohan atau kecerobohan kita. Kita juga harus kritis bahwa tidak semua kesusahan yang kita alami merupakan ujian dari Tuhan. Hmm…kalau bingung aku akan beri contoh: Seorang ibu menggandeng anaknya menyeberang di jalan Sudirman kemudian tertabrak. Sang anak meninggal dunia, nah apakah kemalangan yang dialami sang ibu adalah ujian dari Tuhan?
Kita tidak perlu memperdebatkan apakah jawaban pertanyaan tersebut. Aku??? Oh…aku sudah memiliki jawaban sendiri. Ya…maksud tulisanku ini adalah waktu yang tinggal dua hari ini bisa kita gunakan untuk mengkalkulasi berapa banyak kebodohan yang telah kita lakukan, seorang teman mengatakan bahwa keputusasaan selalu berwajah mengenaskan. Bagi aku keputusasaan tidak selalu berwajah tragis (mengenaskan), ya…bagiku ketika bisa memaknai setiap hal yang kita alami maka wujud keputusasaan bisa berwujud kepasrahan. Ya, kepasrahan adalah wujud penyerahan diri kita sebagai manusia pada sang Pencipta, bahwa kita memiliki keterbatasan, tapi diberi peluang untuk meminta kebijakan pada sang Sumber Kebijakan. Justru perbedaannya antara keputusasaan berwajah tragis atau tidak terletak pada, apakah kita memakai peluang itu atau tidak. Semoga bermanfaat.
Aku ingat ketika pertama kali diajak salah seorang tante (adik mama) berbelanja di
’shopping centre’ di sudut kota Jogjakarta. Mungkin kalau waktu itu sudah ada
‘camcorder’ tanteku segera merekam bagaimana ekspresi wajahku ketika melihat berderet-deret buku yang dipamerkan para penjual. Meski sebagian besar adalah buku bekas (mana aku tahu), yang kutahu aku akan memilih 2 buku bacaan, 2 buku tulis, dan alat tulis yang sudah rusak atau habis. Ahhh…sudahlah aku jadi teringat dengan tanteku yang sudah almarhum itu.
Ok, tulisanku kali ini mau kasih informasi tentang sebuah proyek kemanusiaan dan proyek itu masih ada kaitannya dengan paragraf di atas. Ya, proyek itu tentang tulisan.
Sebuah yayasan yang mengelola teman-teman dengan kebutuhan khusus (tuna netra) membuka sebuah proyek kemanusiaan dengan nama ‘Seribu Buku’ Seperti apa proyek itu silahkan rekan-rekan ngintip ke link di sini.
Intinya, proyek ini mengumpulkan buku-buku dalam bentuk ebook (format word) yang masih sangat terbatas dapat diakses oleh teman-teman berkebutuhan khusus ini. Kita bisa menjadi relawan, dengan mengirimkan naskah buku dalam format word. Lalu bagaimana jika ebook atau buku yang kita pilih masih dalam bentuk ‘hardcopy’, ya…rekan-rekan harus mengalihkan menjadi format word.
Oke, siapa yang tergerak hatinya, silahkan langsung membaca dengan cermat proyek ‘Seribu Buku’ ini. Semoga bermanfaat.