“…selamat datang di kota Biak…bagi penumpang tujuan kota Jayapura dapat menunggu di dalam pesawat…”
Sekar melirik jam tangannya waktu menunjukkan pukul 04.15 wit. Sekar menaikkan selimut mencoba tidur, sejak meninggalkan kota Makassar tempat transit pertama, Sekar berusaha membayangkan tempat tidurnya yang nyaman, tapi kantuk tak kunjung datang.
Baru beberapa menit memejamkan mata, lengannya terasa disentuh orang. Sekar membuka matanya. Sesosok perempuan berkulit gelap mencoba tersenyum sambil menyodorkan tiket ke arahnya. “Ohh…maaf, nomor berapa?” Sekar melihat nomor tempat duduk yang tertera di tiket. “12E…silahkan.” Sekar belum sempat bergeser, dari balik tubuh perempuan di sampingnya muncul seraut wajah mungil berambut kriting dan bermata bulat menatap Sekar.
Dia bergerak masuk ke arah tempat duduk sebelah dalam, karena agak sempit spontan Sekar mengangkat tubuh bocah laki-laki itu didudukkan pada bangkunya. Dua bangku di sebelahnya sudah terisi, alamat dia tidak bisa tidur. Benar saja, tak lama setelah lepas landas terdengar celoteh bocah itu, sepertinya menanyakan ini dan itu layaknya anak kecil bertemu hal baru.
Sekar kembali menarik selimut berusaha memejamkan mata mencari kantuk meski dia tahu usahanya sia-sia. Tak lama terdengar kembali celotehan “penumpang kecil” di sebelah Sekar, namun ada hal yang menarik pendengarannya, bocah itu berbicara dengan nada berirama seperti bernyanyi. Akhirnya Sekar sempat terlelap beberapa saat akibat “nyanyian” kawan seperjalanannya menuju Papua.
Bandara Sentani pukul 07.30 wit, Sekar terpana memandang barisan pegunungan berkabut yang mengelilingi bandara. Ini kunjungan pertama Sekar di bumi Cendrawasih.
sumber gambar: koleksi pribadi
Ropelita (20) mahasiswi asal kota Sidikalang sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sebuah universitas di Jakarta. Ita, demikian nama panggilannya sejak kecil bercita-cita menjadi pendeta. Kedua orangtuanya hanya petani kopi di kota Sidikalang Sumatera Utara. Sejak SMP Ita selalu mengantongi juara umum di sekolah.
Tahun 2007 Ita menerima sepucuk surat pemberitahuan berisi tawaran mengikuti program beasiswa yang diselenggarakan sebuah universitas swasta. Pasangan suami-istri Simangunsong hanya bisa mengucap syukur anak ketiganya dapat mengenyam pendidikan tinggi gratis, karena beasiswa yang diberikan sudah termasuk ongkos hidup di Jakarta. Medio 2007 Ita resmi tercatat sebagai mahasiswi di STT SETIA.
Setahun Ita menikmati kehidupan sebagai mahasiswa dan tinggal di asrama yang disediakan pihak universitas tempat dia belajar. Oktober 2008 ketenangan warga asrama STT SETIA terusik dengan teriakan sejumlah warga di daerah Kampung Makasar Jakarta Timur sambil melempari batu ke arah asrama mahasiswa tersebut.
Rasa panik dan cemas meliputi warga asrama, mereka semua keluar gedung asrama wajah bingung termasuk Ita. Ia berlari ke arah pintu gerbang belakang gedung asrama entah mengapa disana sudah terdapat sekelompok petugas kepolisian menolong para mahasiswa ke tempat aman dari kepungan warga Kampung Makasar itu.
Sejak malam itu Ita tidak pernah lagi merasakan ketenangan belajar dan tinggal di tempat yang nyaman. Ita beserta 500 mahasiswa STT SETIA dievakuasi ke bumi perkemahan Cibubur Jakarta Timur. Belakangan baru diketahui bahwa warga Kampung Makasar tidak menyetujui berdirinya STT SETIA di daerah tersebut.
Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan pengelola bumi perkemahan Cibubur memberikan bantuan pada pihak Yayasan STT SETIA untuk menampung 1500 mahasiswa yang hampir sebagian besar berasal dari luar pulau Jawa. Mahasiswa STT SETIA kemudian ditampung di tiga tempat yaitu di bumi perkemahan Cibubur, bekas gedung kantor walikota Jakarta Barat, dan Wisma Transito Jakarta Timur.
Ita termasuk rombongan yang ditampung di bekas kantor walikota Jakarta Barat bersama enam ratusan mahasiswa lainnya. Tinggal dipenampungan tidak senyaman ketika menempati asrama, apalagi gedung yang ditempati saat ini bekas kantor sudah pasti tidak ada ruang kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, bahkan fasilitas MCK terpusat hanya di empat tempat untuk dipakai enam ratusan mahasiswa.
Pihak Yayasan STT SETIA tetap konsisten memenuhi kewajibannya untuk mahasiswa yang mengikuti program beasiswa, terbukti Ita tidak terlantar dalam hal kebutuhan hidup. Tentu saja hal ini tidak dirasaka oleh mahasiswa nonbeasiswa, jelas mereka menuntut fasilitas belajar mengajar serta tempat tinggal yang layak. Konflik mulai muncul ketika kondisi seolah dibiarkan oleh pihak Yayasan.
Bulan Juni 2009 ketidaknyamanan mahasiswa “pengungsi” ini kembali terusik, gedung bekas walikota Jakarta Barat itu harus dirombohkan karena pihak pemda kalah perkara dengan pihak PT Summarecon Gadingmas di pengadilan negeri Jakarta Barat. Putusan pengadilan menyatakan PT Summarecon Gadingmas sebagai pemilik lahan gedung bekas kantor walikota Jakarta Barat tersebut. Yayasan STT SETIA diberi kesempatan selama enam bulan sejak putusan peradilan untuk mengosongkan area bekas perkantoran tersebut.
Keresahan semakin memuncak ketika belum sampai tiga bulan di hari Senin pagi awal Agustus 2009 beberapa kendaraan bolduser memasuki area gedung pengungsian. Seorang mandor kepala menemui Sandra Ginting (36) Kepala Asrama Putri STT SETIA yang pagi itu sedang memimpin renungan pagi. Agus Suhendro (39) sang Mandor memberitahu bahwa mulai hari ini dia dan rombongan pekerja dari PT Summarecon Gadingmas akan mulai membongkar gedung. Surat perintah diperlihatkan Agus pada Sandra. Bak bara disiram minyak, kesabaran mahasiswa “pengungsi” telah sampai pada batasnya. Mereka segera meninggalkan ruang-ruang bekas kantor yang dijadikan ruang belajar dan ruang kuliah keluar menuju gerbang halaman luar gedung. Kumpulan mahasiswa putra-putri membentuk barisan berusaha menghalangi masuknya kelompok pekerja proyek dan kendaraan bolduser.
Peristiwa itu sempat diliput media massa karena sempat jatuh korban beberapa mahasiswa terinjak dan terkena benturan peralatan bangunan. Salah satu korbannya termasuk Ita. “Kami hanya mau belajar dan menyelesaikan kuliah dengan tenang dan tidak dipindah-pindah.” Demikian pernyataan sebagian mahasiswa ketika ditemui pada bulan November 2009. Pak Yohannes (57) salah seorang dosen STT SETIA mengatakan bahwa pihak Yayasan sedang menagih komitmen Gubernur DKI Jakarta untuk memberikan perlindungan bagi mahasiswa yang diungsikan dari asrama Kampung Makasar. Pihak Yayasan sejak tahun 2008 sudah mulai membangun gedung STT SETIA berikut fasilitas asrama di daerah Cikarang, namun pembangunan tersebut baru selesai pada akhir Tahun 2010. “Kami minta Pemda memberi waktu sampai gedung perkuliahan dan asrama itu selesai, dan kami akan pindah.” Demikian Yohannes menjelaskan.
Saat ini para mahasiswa yang tinggal di gedung di wilayah Jakarta Barat itu semakin tidak nyaman, komplek gedung yang terdiri dari lima bangunan, tinggal dua bangunan tempat para mahasiswa ini belajar dan tinggal. Fasilitas sanitasi sudah dihancurkan, air bersih dari PAM sudah dihentikan, demikian juga arus listrik jika kita masuk ke area dalam gedung tercium bau tidak sedap dan pengap. “Saya rindu ayah ibu saya di kampung, tapi saya juga ingin menyelesaikan kuliah saya. Bantulah kami, paling tidak sampai gedung perkuliahan di Cikarang selesai.” Demikian harapan dan permohonan Ita dan ratusan mahasiswa STT SETIA dalam pengungsian.
sumber gambar: google
Saljo Harsoutomo yang lahir pada hari Sabtu, 17 Juli 1917 di Madiun. Mas Saljo, demikian para sahabatnya memanggil, dan untuk seterusnya beliau meminta untuk tetap dipanggil dengan sebutan “mas” – biar awet muda katanya. Pasangan Eyang Atmo kakung putri mempunyai dua anak lainnya setelah mas Saljo.
Kehidupan sebagai petani tidak membuat Eyang Atmo kakung putri pasrah dengan kehidupan yang bersahaja. Hal ini dibuktikan dengan menyekolahkan ketiga anaknya di Sekolah Bumi Putera (Inlandsch School) bahkan Mas Saljo dapat meneruskan hingga pendidikan lanjutan Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan di HIS, Mas Saljo meninggalkan kota Madiun tahun 1939 untuk menjadi pegawai Bumi Putera di Yogyakarta. Mas Saljo berhasil menjadi pegawai di Departemen Kolonisasi jaman pemerintahan kolonial Belanda . Pada waktu itu pemerintah kolonial membutuhkan tenaga muda untuk mengawal para penduduk korban letusan Gunung Merapi yang akan dipindahkan ke pulau Sumatera. Sejak saat itu Mas Saljo bertugas di daerah Jambi, Lahat, dan Lampung.
Tahun 1950 Mas Saljo kembali ke tanah Jawa dan memulai tugasnya di kota Kebumen Yogyakarta. Di kota ini pula Mas Saljo menikah dengan Ibu Titiek Soekarsilah dan dikaruniai 13 orang putra putri. Menjelang masa pensiun Mas Saljo masih berpindah tugas ke kota Solo, Pati, dan akhirnya kembali ke kota Yogyakarta.
Pada masa pensiun inilah Mas Saljo mulai mendidik anak-anak muda di sekitar kampung Mergangsan untuk belajar pencak silat. Sejak saat itu bendera
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mulai dikibarkan di Yogyakarta.
Aliran bela diri pencak silat SH Terate berasal dari tanah kelahiran Mas Saljo, maka tidak heran jika nilai-nilai filsafat perguruan ini seperti Urip Iku Urup, Memayu Hayuning Bawono, Suto Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti merupakan nilai yang beliau pegang dan diteruskan pada putra putri dan murid-muridnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah murid PSHT semakin bertambah, rumah sederhana di Jl. Kintelan itu tidak pernah sepi. Setiap akhir minggu ramai berkumpul kaum tua-muda berdiskusi, berlatih, dan menciptakan “kembangan” jurus-jurus dasar perguruan Persaudaraan SH Terate (PSHT) hingga larut malam.
Perjuangan Mas Saljo tidak sia-sia, salah satu putrinya berhasil memenangkan medali perak pada PON VII di Surabaya tahun 1969. Usahanya telah membuahkan hasil yaitu Persaudaraan SH Terate Cabang DIY yang dirintisnya resmi masuk dalam daftar IPSI pada tahun 1976 melalui SK 02/Sek/IPSI-DIY/4/73.
Namun prestasi itu harus ditebus dengan kesehatannya. Kebiasaan merokok dan begadang dalam jangka waktu panjang membuat paru-parunya luka. Pada April 1985, Mas Saljo kembali menghadap Tuhan. Sepeninggalan Mas Saljo, para penerusnya tetap melatih bibit-bibit pendekar hingga mekar dan berkembang di Yogyakarta, banyak ranting-ranting PSHT yang didirikan di bumi Sultan Hamengkubowono ini.
sumber gambar: koleksi pribadi
Pernyataan Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA di Medan, Selasa 12 Januari 2010 pada rapat koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Sumut bahwa Ujian Nasional (UN) akan tetap dilaksanakan sebagai salah satu penentu kelulusan dan tidak digunakan sebagai pemetaan, membuat Anggota Komisi X DPR RI menyatakan sikap tidak simpati.
Wakil Pimpinan Komisi X DPR RI Heri Akhmadi (F-PDI Perjuangan) dalam konferensi pers pada tanggal 28 Januari 2010 menyatakan sikap tegas F-PDI Perjuangan menolak pelaksanaan ujian nasional jika dijadikan satu-satunya penentu kelulusan peserta didik, tapi sebagai pemetaan mutu pendidikan nasional.
Komisi X DPR RI selaku komisi yang membidangi pendidikan pada rapat kerja dengan Kemendiknas sebelumnya telah mengadakan kesepakatan untuk membentuk Panitia Kerja (Panja) Ujian Nasional. Fokus kerja Panja Ujian Nasional (UN) adalah melakukan pengawasan penyelenggaraan UN 2010. Untuk itu perlu meminta klarifikasi soal putusan Mahkamah Agung (MA) terkait dengan masalah Ujian Nasional dan pendapat MA menjadi pijakan untuk menentukan pelaksanaan UN.
Tim Panja UN Komisi X DPR RI telah melakukan konsultasi ke MA pada akhir Januari 2010, dan mendapatkan klarifikasi bahwa dalam putusan tersebut tidak menyebutkan menghentikan pelaksanaan UN namun menegaskan bahwa Kemendiknas harus melakukan evaluasi, perbaikan, dan peningkatan pemenuhan standar pendidikan nasional (SNP) sebagaimana diamanatkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 35.
Pemahaman tentang peningkatan serta pemenuhan 8 standar pendidikan nasional sesuai dengan semangat Komisi X DPRI RI dalam hal ini Tim Panja UN, bahwa setidaknya dalam penyelenggaraan UN berdasarkan standar minimal pendidikan nasional yaitu standar isi, proses, kompetensi kelulusan, dan penilaian.
Tim Panja UN Komisi X DPR RI memberikan usulan bahwa hasil UN dijadikan pemetaan terhadap mutu pendidikan nasional dan mengadakan rayonisasi terhadap hasil UN sehingga tercapai prinsip penyelenggaraan pendidikan secara demokratis dan berkeadilan. Jika penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan menerapkan standar minimal pendidikan nasional maka sudah seharusnya penentuan kelulusan diserahkan pada satuan pendidikan sesuai dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Komisi X DPR RI sesuai hasil konsultasi MA telah mencabut bintang pada mata anggaran pelaksanaan UN sebagai tanda bahwa anggaran UN dapat segera dicairkan, namun demikian Tim Panja UN Komisi X DPR RI saat ini masih bekerja guna mengawal seluruh proses penyelenggaraan UN 2010 hingga tercapai kesepakatan perumusan formulasi UN yang sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diamanatkan UU Sisdiknas Pasal 4 Ayat (1) ”Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.”
sumber gambar: google images
Rina turun dari mobilnya dengan wajah pucat pasi, tangannya terlihat gemetar. Beberapa saat sebelumnya Rina berusaha menghindari sepeda motor yang tiba-tiba nyelonong.
Wajah pucat pasi dan tangan gemetar adalah salah satu dari bentuk emosi yang terlihat. Apa yang dirasakan Rina pada saat itu? Jelas tergambar bahwa emosi Rina adalah takut, terkejut, dan cemas. Emosi merupakan hasil persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Biasanya emosi diartikan sebagai perasaan yang terkait dengan suasana hati, atau keadaan internal yang memiliki manifestasi eksternal.
Masalahnya sekarang, apakah semua perasaan harus diungkapkan? Jika atasan memarahi kita tanpa sebab yang jelas, tentu saja kita terkejut dan marah, tapi kita akan berusaha untuk tidak menunjukkan emosi itu di depan atasan kita bukan? Atau ketika seorang teman membawa bingkisan berisi benda yang tidak kita suka, maka kita akan berusaha tersenyum dan mengucapkan terima kasih meski hati kita kecewa.
Beberapa contoh pada paragraf sebelumnya dapat kita lihat bahwa emosi diekspresikan atau tidak sangat bergantung dari keputusan kita dengan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya adalah kepantasan. Bisa kita bayangkan jika dalam suasana pemakaman orang-orang yang hadir tidak berusaha terlihat sedih dan berduka karena sesungguhnya suasana hati mereka saat itu ada yang senang, marah, dan sebagainya. Lucu kan?
Emosi sangat berguna untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan. Ketika kita berada dalam lingkungan baru, pada umumnya kita tidak langsung berbaur tapi melihat situasi dan kondisi orang-orang atau lingkungan baru tersebut. Ekspresi emosi dapat terlihat secara verbal, misalnya dari tutur kata, nada bicara, sedangkan nonverbal dapat dilihat dari perubahan wajah, isyarat tubuh lainnya.
Kepekaan untuk ‘membaca’ ekspresi emosi verbal maupun nonverbal menentukan kualitas hubungan interpersonal. Apakah kita bisa membedakan seseorang yang sedang marah, sedih, bahagia, takut, cemas, atau terkejut? Bagaimana kita menyikapi masing-masing emosi tersebut, sangat bergantung pada kondisi suasana hati kita saat itu. Disinilah ketrampilan komunikasi dibutuhkan.
Kita sering menjumpai orang yang tidak mudah mengekspresikan emosi, sehingga kita tidak tahu persis bagaimana suasana hatinya. Orang seperti ini biasanya dalam lingkungan sering disebut orang yang sulit. Mengapa sulit? Karena orang lain tidak mudah berkomunikasi dengannya. Sering terjadi salah pengertian. Orang sulit biasanya jarang memperlihatkan suasana hati yang santai, jika kita dapat mencermati dan peka, maka sesungguhnya inilah ‘celah’ komunikasi interpersonal dapat dimulai. Kemampuan ini yang disebut dengan ketrampilan berkomunikasi.
Bagaimana dengan orang yang moody? Jelas dia memiliki kesulitan untuk mengelola emosi yang dialaminya, hal ini disadari atau tidak akan mempengaruhi sikapnya pada lingkungan di sekitarnya. Orang seperti ini bisa juga dikatakan orang yang sulit.
Kepekaan dan ketrampilan berkomunikasi merupakan hasil dari ketrampilan mengelola emosi kita. Kesadaran tentang emosi yang sedang kita alami saat itu sangat menentukan bagaimana kita menyikapi situasi dan kondisi lingkungan dimana kita berada. Contoh bagaimana menyikapi orang sulit sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya merupakan sebuah pengelolaan emosi.
Melly berlari melitas lapangan ke arahku, tertawa lebar sambil melambai-lambaikan sebuah majalah. Gadis bertubuh mungil tapi cantik ini selalu tampil ceria. Aku colek Ferlita yang sedang asyik curhat padaku. “Kita punya acara untuk mengisi liburan sekolah,” seru Melly. Terengah-engah Melly duduk di bangku di samping Ferlita, kulihat mata yang selalu berbinar terpancar di wajah mungil Melly. “Apaan sih,” Ferlita menimpali.
“Baca, deh!.” Melly membentangkan majalah remaja di depan kami. Kubaca sebuah pengumuman kegiatan lomba yang diselenggarakan majalah tersebut untuk mengisi liburan. Reli Budaya. “Hmm…menarik,” batinku. Aku dan Ferlita membaca halaman berwarna menarik berisi rincian umum kegiatan itu. Pikiranku berputar cepat dan kling! “Kita ikut lomba ini, dan kita pasti menang, minimal juara ketiga.” Aku membuka keheningan itu dengan kalimat penuh semangat dan menjanjikan.
Ferlita, Melly, dan Henny Ros (nama lengkapnya Henny Rosita) adalah sebagian dari teman-teman dekatku sewaktu SMA. Mereka memiliki minat yang sama di bidang budaya dan humaniora. Aku memang memiliki banyak teman dengan kelompok minat yang berbeda-beda. Ada grup novel, dimana kami bisa ngobrol sepuasnya membedah novel terbaru; ada group borju (borjuis) aku menyebutnya demikian karena kegiatanku dengan kelompok ini lebih banyak bersenang-senang.
Usai sekolah, kami berempat naik kendaraan umum menuju ke kantor redaksi majalah bilangan Kuningan. Kami diminta menunggu di ruang tamu, tak sampai 15 menit, kami dipanggil untuk masuk ke sebuah ruang kerja salah satu staf (petugas pendaftaran) Aku takjub dengan suasana kerja di ruang besar bersekat-sekat setinggi dada itu. Masing-masing sekat tersembul kepala-kepala yang pemilik “ruang kerja.” Mereka tampak sibuk, ada yang menelpon, ada pula yang asik mengetik di depan komputer, atau lalu lalang membawa berkas dokumen.
Hari Sabtu pagi seluruh peserta Reli Budaya sudah berkumpul di Aula Sasana Langen Budaya , TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Aku ngga sangka jumlah peserta Reli Budaya sebanyak itu, kira-kira berjumlah tiga ratusan orang. “Wahh…yakin Hen, kita pasti menang?,” suara lembut Melly di sampingku. Kulihat ketiga temanku sama takjubnya denganku. “Ehhee…we must do the best and let God do the rest,” sahutku menyakinkan mereka pun untukku.
Tepat pukul 08.00 Panitia Lomba membuka acara, dan yang menarik buat ku adalah kehadiran Ibu Pia Alisyahbana selaku Komisaris Femina Group. Pesan pembukanya antara lain kegiatan Reli Budaya selain untuk mengisi masa liburan, juga untuk membuat para peserta lebih mengenal dan mencintai budaya nusantara. Sosoknya mengingatku pada ayahandanya Sutan Takdir Alisyahbana, olehnya aku mengenal bacaan sastra pertamaku “Layar Terkembang.”
Akhirnya Panitia mengumumkan bahwa pemenang lomba adalah kelompok yang paling awal masuk ke garis finis. Agar fair, semua peserta dilarang membawa alat penunjuk waktu dalam bentuk apapun, segera tim pengawas berkeliling memeriksa backpack peserta.
Sepanjang pemeriksaan, aku agak gelisah tapi untunglah Panitia memberi kesempatan bertanya. Segera aku mengacung, “Kak, apakah peserta diperbolehkan membawa buku atau semacamnya?,” tanyaku dengan nada ragu. “Boleh!, kalian boleh membawa buku bacaan, novel, atau komik; bawa makanan dan minuman sangat dianjurkan, kecuali alat penunjuk waktu,” tegas kakak Panitia Lomba. “Ahh…lega hatiku.” Aku tersenyum lega.
Henny Ros yang ada didekatku bertanya, “Emang elo bawa apaan Hen?.” Sambil mengawasi Ferli dan Melly mengambil daftar pertanyaan dan peta, aku mengeluarkan buku andalanku, yang memastikan 50% di atas kertas kami akan menang. “Dasar loe…,” sahutnya dengan mata melotot. Gadis Betawi yang satu ini memang lugas dan tegas. Kami berempat memang unik, Henny Ros mengambil kegiatan ekstrakurikuler karate, aku sendiri ikut kegiatan menari dan fotografi, Ferli dan Melly masuk kelompok teater sekolah, namun untuk kegiatan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) kami masuk kelompok budaya dan humaniora.
Pukul 09.00 tepat kami diberangkatkan di depan Aula Sasana Langen Budaya. Sesuai dengan kesepakatan, aku membagi tugas agar pertanyaan dapat cepat dan tepat dijawab. Henny Ros dan Melly menjawab pertanyaan di perjalanan, aku dan Ferli menjawab pertanyaan di anjungan. Kelompok kami mendapat bagian untuk mengunjungi anjungan Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Tengah. Jadi, sambil kami berjalan meskipun belum sampai ke tempat tujuan (anjungan) jika ada pertanyaan umum seputar keempat provinsi tersebut, aku dan Ferli sudah bisa menjawabnya.
Di masing-masing anjungan kami harus melaporkan ke Panitia, dan mengikuti games yang telah ditentukan, ada yang bentuk activity games maupun brain games. Kami berempat menikmati setiap permainan, menang atau kalah ngga penting, yang penting kami sudah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan wajib.
Seminggu kemudian pukul 06.00 aku dibangunkan mama, ada teman yang menelpon. “Halo…,” aku menjawab dengan suara mengantuk. “Halo Henny?!…kita menang!…kita menang!..juara kedua!,” suara teriakan Melly di seberang telepon. Entah teriakan Melly atau berita yang disampaikan atau kedua-duanya, sontak membuat syaraf-syarafku terbangun. “Hehehe…yes! Kita kumpul di rumah Ferli ya, jam 10.00. Daaag…!”
“Ada apa Hen?,” tanya mama. Aku menjawab pertanyaannya dengan mencium dan memeluknya dengan erat. “Mau mandi ma…” Aku melesat ke kamar belakang menyambar handuk. Selesai berpakaian, aku mengambil buku yang membantu kami memenangkan lomba ini. Buku bersampul warna kuning gading bergambar peta nusantara “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” karya Prof.Dr. Koentjaraningrat. “Terima kasih Tuhan, terima kasih prof.”
Reli Budaya sejak diselenggarakan pada tahun 1987 setahuku tidak diadakan lagi, entah kenapa. Sungguh disayangkan, karena kegiatan ini dapat dijadikan media untuk para pelajar agar lebih mengenal budayanya dan akhirnya mencintai negeri indah penuh warna. Impianku, seharusnya setiap orang Indonesia sedikitnya mampu menguasai 3 bahasa suku besar.
Sumber gambar: google images
January 25th, 2010 in
Budaya,
Ceritaku,
Journal | tags:
menulis |
2 Comments
Sejak usia balita sampai usia 11 tahun aku tinggal dan diasuh oleh kedua eyang dari pihak mama. Kedua orangtuaku memang sengaja menitipkan aku pada eyang, sementara beliau merantau ke ibukota Jakarta. Hubunganku dengan eyang kakung-putri, semua om, dan tante yang kala itu masih lajang cukup dekat. Tak heran ketika papa menjemputku untuk tinggal di kota mereka, ada ruang hatiku yang kosong. Bunyi peluit kereta api yang akan membawaku pergi, terdengar seperti jeritan agar aku tidak meninggalkan Yogyakarta, kota kelahiranku. Bunyi itu seperti suara peringatan tentang ketidakpastian yang menghadang di depanku di kota asing bernama Jakarta. Sampai saat ini jika aku mendengar bunyi peluit kereta api, hatiku serasa tercubit.
Sepanjang malam aku tidak dapat tidur, suara roda kereta menggilas rel besi landasannya menimbulkan suara bising, atau justru gemuruh hatiku yang gelisah penyebabnya, entahlah. Pukul 04.10 perjalananku berakhir di Stasiun Gambir, sejuknya udara pagi tak sempat aku hirup, hatiku masih gelisah, tanpa kusadari kedua telapak tangan dan kakiku basah oleh keringat. Tak lama kegelisahanku teralihkan oleh sebuah benda aneh berbaris di tempat parkir berbaur dengan taksi, becak dan bemo. Aku belum pernah melihat kendaraan ini. Bentuknya seperti becak tapi bagian penumpang tidak terbuka layaknya sebuah becak. Bagian penumpang tertutup oleh kaca berbentuk bulat mirip seekor capung. Rupanya papa melihatku tertegun-tegun. Beliau menggandeng tanganku menuju benda aneh itu. “Ini namanya helicak, seperti becak tapi cara mengendarainya tidak dikayuh”. Papa menjelaskan, aku sibuk mengamati helicak. “Didorongnya pake sepeda motor ya pa?”, tanyaku, karena aku melihat sebuah knalpot disamping roda belakang. “Ya, kita akan naik helicak menuju rumah”, sambut papa dengan suara riang.
Kota Jakarta, kota asing sekaligus membuatku takjub. Selain helicak, tugu Monas adalah salah satu bangunan yang aku kagumi, karena aku tak habis berpikir bagaimana orang dapat membangun menara setinggi itu, bagaimana mengangkut puluhan kilo emas ke atas puncak menara itu. Ada sebuah lagi monumen yang membuatku takjub dan saking takjubnya membuatku untuk pertama kalinya kena teguran papa-mama. Suatu sore, mama meminta papa untuk membeli bakmi goreng lauk makan malam. Aku menemani papa berkendara vespa menuju rumah makan langganan di daerah Tebet. Dua bungkus bakmi goreng ada dipangkuanku terbungkus tas plastik, bau harumnya cukup membuat “pasukan kampung tengah” memberontak. Aku membayangkan makan malam yang enak dengan nasi hangat ditemani bakmi goreng. Lamunanku buyar ketika kulihat sebuah patung menjulang tinggi di atasnya ada sosok laki-laki berbalut libatan kain seolah hendak meraih sesuatu, yang membuatku heran adalah tiang penyangga patung. Vespa yang dikendarai papa melintas mengelilingi monumen, mataku lekat mengamatinya tanpa kusadari bungkusan mie goreng lepas dari kantong plastik. Tiba di rumah, mie goreng tersisa satu bungkus.
Adaptasi yang paling sulit adalah memahami bahasa tepatnya dialek Betawi. Aku bersekolah di SD Negeri 05 Pagi di daerah Menteng. Teman-teman di sekolah dan di lingkungan rumah sering berbicara dengan kata-kata yang sulit kupahami. Suatu pagi setelah selesai mengerjakan tugas piket menyapu ruang kelas, Sriyatun teman sekelas menghampiriku, “Hen…, no…nyak nye si Ramlan manggil elo!”. Apa sih maksudnya si Sri, “Kenapa si Ramlan?”, sahutku. “Bukannye si Ramlan, nyak nye…nyak nye Ramlan, noh liat…di depan kantor guru”. Aku melayangkan pandangan ke arah telunjuk Sriyatun. Astaga, itu Bu Ester, guru Bahasa Indonesia. Aku berlari ke arah kantor guru, kulihat bu Ester tersenyum melambaikan tangan. Senyum itu yang menenangkanku ketika pertama kali kakiku menginjak ruang kelas 5A, Bu Ester wali kelasku. “Ada apa bu?”, tanyaku. “Sudah sarapan Hen?”. “Sudah bu, mama membuatkan susu dan roti tawar mentega”. “Hmm…sekarang kamu coba makan nasi ini, enak lho, namanya nasi uduk, ibu yang buat”. Bu Ester menyodorkan kotak makanan bergambar miki mouse. Sejak itu aku menyukai nasi uduk Betawi plus semur kentang dan bihun gorengnya.
Sekian puluh tahun sudah berlalu, meski aku sudah menjadi penduduk resmi kota Jakarta, belajar dan bekerja di kota ini, namun hatiku tetap bertaut dengan kota kelahiranku Yogyakarta, kurindu ketenangannya, kurindu jenang gempol kesukaanku, kurindu semua sudut kota masa kecilku.
Tulisan ini dimuat dalam HOKI.
Sumber gambar: google images
Menulis? Wah…nanti dulu deh…susah, atau …nanti deh kalau ada waktu senggang. Begitulah kesan orang pada umumnya ketika mendengar atau diminta melakukan kegiatan itu, termasuk saya. Untunglah sejak SD saya punya ibu guru yang rajin memberikan tugas mengarang setelah liburan panjang selesai. Tentu saja saya menyambut gembira tugas itu, karena saya punya ide tulisan. Kegiatan Mengisi Liburan Sekolah bisa saya sulap menjadi cerita yang menarik, imbalannya sudah pasti angka delapan akan menghiasi kertas karangan.
Sayangnya, sejak berhenti menulis buku harian, ketrampilan “menyulap” hilang lalu bersama angin. Saya sangat sulit merangkai kata-kata, kadang sudah tersusun dengan lancar menjadi paragraf, tiba-tiba bisa “blank” Dan untuk memulainya lagi bisa menguras energi dan waktu. Itulah akibat yang harus saya tanggung ketika berhenti menulis buku harian sampai kuliah selesai. Saya tidak bisa “curhat” dalam bentuk tulisan. Jadilah tulisan saya formal dan kaku. Kemampuan saya untuk mendeskripsikan dalam bentuk tulisan tidak berkembang. Hal ini saya sadari sebagai sebuah kelemahan.
Saya iri melihat adik bungsu dengan asyik dan lancar menulis cerpen atau menyelesaikan pekerjaannya. Adik saya bekerja sebagai editor. Rasa iri ini mendorong saya untuk kembali bergiat menulis. Mau menulis dimana? Buku harian? Ngga jaman…malu sama umur, begitu kata hati. Akhirnya blog saya pilih menjadi media penampung sekaligus bisa menayangkan tulisan ke publik. Ya, meskipun blog yang saya punya belum tentu ramai dikunjungi pembaca, yang penting tulisan “go public”. Bagaimana dengan mutu tulisan? Jangan tanya, sampai detik ini tulisan saya jauh dari sebuah tulisan yang baik.
Sampai akhirnya saya berkenalan dengan mbak Fida Abbott. Kami beberapa kali main “tamu-tamuan” maksud saya adalah saling berkunjung ke blog masing-masing dan berkirim email. Suatu ketika mbak Fida mengundang saya menjadi Pewarta Warga di Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Saya tidak segera menanggapi undangan itu karena “keburu” diserbu rasa minder.
Setelah tahu visi dan misinya, saya tertarik bergabung di HOKI. Sewaktu mengirim tulisan pertama ke meja redaksi HOKI, saya memang tidak terlalu berharap banyak. Namanya juga penulis pemula, sangat pemula malah. Jadi, ketika ada email balasan dari HOKI yang menyatakan penayangan tulisan saya, saya kaget luar biasa. Saking bangganya, saya masih ingat kok judul tulisan itu adalah “Budaya Akar Bangsa”. Rasa haru semakin membuncah ketika belakangan saya tahu bahwa mbak Fida adalah salah satu Tim Redaksi HOKI. Saya yakin penanyangan tulisan saya di HOKI bukan semata karena kualitasnya, namun lebih besar sebagai bentuk motivasi. Terus terang itu merupakan bentuk motivasi paling manis yang pernah saya terima.
Mengapa saya memilih PMOH? Karena ketulusan hati yang telah ditunjukkan Tim Redaksi HOKI semata. Kok, bisa? Ya, karena tulus hati adalah barang langka di jaman ini, jadi saya beruntung bertemu dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai ini. Saya yakin akan berhasil menjadi penulis yang baik dalam “gemblengan” mereka. Alangkah tidak bijaksananya saya jika tidak memberikan respon yang sama dalam bentuk kedisiplinan, ketekunan, dan konsisten untuk terus menulis. Untuk itu, jangan pernah berhenti menulis karena kita semua tahu akibatnya, dan tidak semua dari kita dapat beruntung bertemu dengan orang-orang yang tulus hati.
Catatan: Tulisan ini dimuat dalam Berita Utama HOKI hari ini
January 14th, 2010 in
Journal,
menulis | tags:
menulis |
4 Comments